Jalan Salib: Antara Kuasa, Kasih, dan Kesukaran


Artikel Jumat Agung

Penulis: Heren

Suatu kali seseorang mengajukan pertanyaan “mudahkah bagi Tuhan Yesus untuk menjalani hidupNya selama di bumi sebagai manusia?” – berbagai jawaban diajukan. Ada yang menjawab “mudah” karena Dia TUHAN, Dia bisa melakukan apa saja – namun ada yang menjawab “tidak mudah” dengan alasan-alasan yang tidak cukup jelas bagi saya sebagai pendengar. Merenungkan tentang hari-hari sengsara Tuhan Yesus, menjelang dan saat penyalibanNya, saya kembali terbawa , kepada pertanyaan yang sama tersebut, “mudahkah bagi YESUS untuk menjalani hidupNya, khususnya menjalani masa-masa sengsaraNya?”
Saya mulai dengan menyelusuri pertanyaan umum, “Bagaimana kita dapat mengetahui seseorang itu sedang mengalami kesukaran atau sedang menikmati hidupnya?” – jawabnya adalah dari ekspresi emosional yang dimunculkan orang tersebut. Air mata, keluh kesah, dan kemarahan adalah emosi negatif yang muncul sebagai ekspresi dari kesusahan yang dialami seseorang, sementara tawa canda riang dan humor mengekspresikan kebahagiaan dan kesukaan hidup yang sedang dijalani seseorang.
Dalam hidupnya, Alkitab mencatat kepribadian dan sikap yang tenang dan damai dalam diri Yesus Kristus. Sebagai seorang anak usia 12 tahun, Dia dengan tenang menikmati diskusi dengan ahli-ahli Taurat dan Imam-imam di Bait Suci di Yerusalem. Sebagai seorang yang dewasa, seorang Rabi, Dia pun memiliki ketenangan batin yang tidak terkalahkan oleh badai ancaman dan jebakan orang-orang fairsi dan ahli-ahli Taurat yang dengki dan membenci Dia. Yesus tegas namun juga lembut dan tenang. Namun beberapa kali Alkitab menggambarkan emosi negatif yang dimunculkan Tuhan Yesus. Dia marah saat melihat orang-orang menajiskan Bait Suci dengan berjualan dan bertukar uang (istilah untuk perjudian) di sana. Dia menangis sewaktu Lazarus adik dari Martha dan Maria mati. Dia menangisi kota Yerusalem dengan orang-orang di dalamnya yang keras hati. Dia berpeluh dan mengalami ketegangan yang luar biasa malam menjelang penangkapannya di taman Getshemani. Ia berlutut dan berdoa, kataNya “Ya Bapa-ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Maka seorang malaikat dari langit enapakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan akin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. (Lukas 22:41-44). Alkitab dengan jujur menyatakan, ada kegalauan dan ketakutan yang dialami Tuhan Yesus! Bagaimana bisa? Ya, sangat bisa, karena ia dalam inkarnasi menjadi manusia seutuhnya, dengan emosi yang kudus, namun emosinya utuh selayaknya manusia biasa, ia bisa merasa takut dan tegang!
Dalam inkarnasiNya sebagai manusia, Tuhan membatasi KuasaNya, artinya hal-hal buruk yang tidak mungkin dialami-Nya sebagai Tuhan, dan yang tak pernah dialamiNya selama ia ada di TahtaNya, hal-hal buruk yang hanya diperuntukkan bagi manusia sebagai konsekuensi dosa manusia, kini harus dijalani Tuhan Yesus demi manusia, Dia menanggung hukuman dosa manusia yang tidak pernah dilakukanNya!
Ketakutan dan ketegangan Tuhan Yesus bukan sesuatu yang biasa. Peluh yang mengalir bagaikan titik-titik darah diduga sebagai akibat dari pecahnya pembuluh darah akibat rasa tegang yang amat sangat. Ketakutan akan penderitaan fisik akibat aniaya yang akan dihadapiNya dan penderitaan rohani terputusnya kontakNya dengan Bapa saat Ia menjalani hukuman dosa manusia.
Banyak orang yang masih beranggapan bukan sakit fisik tersebut yang ditakutkanNya. Bagi saya pemikiran tersebut benar-benar mengabaikan aspek kemanusiaan sejati Tuhan Yesus. Manusia mana yang tidak akan gelisah jika tahu sebentar lagi dagingnya akan diiris-iris, ditikam dalam jangka waktu lama, dan digantung dalam kondisi dipaku? Jika untuk menghadapi saat-saat operasi saja kita mengalami kegelisahan, operasi yang dibantu oleh obat bius pengurang rasa sakit, apalagi tikaman, cambukan dengan pisau tajam, dan digantung dengan tubuh ditusuk paku besar selama berjam-jam tanpa obat pengurang rasa sakit! Ketakutan Tuhan Yesus itu manusiawi.
Ketakutan Tuhan Yesus menjadi berlipat ganda dengan adanya realita Dia akan berpisah dengan Bapa saat Ia menjalani hukuman dosa manusia tersebut. Bayangkanlah seorang anak yang tidak pernah lepas dari Bapa-Nya dan tiba-tiba harus mengalami perpisahan. Saya pernah menyaksikan hal ini berkali-kali. Anak yang biasa bertemu ayahnya setiap hari, namun suatu hari ketika bangun tidur tiba-tiba ia tidak menemukan sang ayah karena sang ayah memutuskan meninggalkan keluarganya. Perpisahan itu merupakan pengalaman yang mengerikan. Yesus dan Bapa adalah Satu, tidak pernah berpisah. Namun di saat penyalibanNya, Dia harus mengalami hal itu, Bapa memalingkan mukaNya dari sang Anak. SeruanNya yang menyayat hati “Eli, Eli, Lama sabakhtani?!” sebuah pertanyaan mengapa Sang Bapa meninggalkan diriNya, diserukan dengan sepenuh hati yang terluka.. hati yang tersayat.
Menanggung hukuman yang bukan akibat ulah kita sendiri itu berat. Beberapa kali saya melakukan kesalahan yang jangankan untuk saya bereskan, untuk menanggung konsekuensi kesalahan itu pun saya tidak mampu sehingga akhirnya suami saya yang harus menanggung dan membereskannya. Bukan hal yang mudah baginya. Kesalahan yang bukan miliknya ditimpakan kepadanya. Sebagai manusia dia mengeluh dan menyampaikan kalimat protes, namun dalam kasihnya yang besar dan tulus terhadap istri, ia , tanpa saya suruh, dengan rela menanggung konsekuensi itu bagi saya dan membereskan kekacauan yang saya buat. Ya, Dia mampu melakukan itu, tapi tidak dengan mudah baik secara emosi maupun secara fisik. Pengalaman ini membawa saya pada gambaran penderitaan Tuhan Yesus bagi saya dan semua manusia berdosa. Ya, Yesus mampu menjalani hukuman dosa yang bukan akibat dosaNya karena ia tanpa dosa, namun itu bukan dengan mudah.
Pengorbanan Tuhan Yesus, bukan pengorbanan yang mudah dan murah. Bersyukurlah bahwa Ia mengasihi kita sepenuhnya dan mau menanggung konseksuensi kekacauan dan dosa yang kita buat, namun jangan mempermainkan anugerahNya. Hargai apa yang sudah Tuhan Yesus perbuat bagi kita. PemberianNya jauh lebih mahal dari semua pemberian di dunia ini, karena Nyawalah yang diberikanNya dan Keselamatan kekal yang tidak mampu dihadiahkan oleh siapapun juga di dunia ini kepada kita selain oleh TUHAN sendiri. Hargai dengan memikirkan dan melakukan apa yang berkenan padaNya.

Tuhan Yesus mengasihi kita.

Dari Pengadilan Hingga ke Golgota


Penuis: Heren

Nats Yesaya 53

Isi nubuatan Yesaya 53 menggambarkan penderitaan Yesus di sepanjang jalan salib, yang dialami Yesus dengan rute: Getsemani – pengadilan – sampai di Golgota. Aneh bukan, Yesaya menulis ratusan tahun sebelum Tuhan Yesus lahir, dan Yesaya mati ratusan tahun sebelum Yesus lahir, bagaimana mungkin tulisannya bercerita hari kejadian penyaliban Yesus, lebih aneh lagi tulisan ini sangat tepat dengan kejadian nyatanya.  Ini salah satu bukti bahwa Alkitab adalah Kitab Suci, Tuhan mengatur isi Alkitab, dan Dia tidak pernah salah memberi  nubuat.

Mari kita lihat perjalanan salib Yesus Kristus sejak meninggalkan Getsemani, dari Pengadilan ke Golgota – kita akan lihat dengan membandingkan nubuat Yesaya dengan Kejadian jalan Salib Yesus Kristus yang sungguh dialami Yesus ratusan tahun setelah nubuat itu.  APA YANG TERJADI DI SANA:

1. Yes 53:3 “Ia dihina dan dihindari orang”  Dihindari orang adalah hal pertama yang dicatat kitab Lukas setelah Yesus meninggalkan Getsemani.  Saat Tuhan Yesus ditangkap, semua murid-murid dan pengikutNya lari kocar-kacir meninggalkan Tuhan Yesus.  Tidak ada yang berani mendekat dan terlibat, takut ikut ditangkap.  Ia dihindari orang.  Bahkan Petrus yang pernah mengaku bahwa ia berani mati bagi Yesus pun, tidak berani mendekat, Hatinya ingin dekat, tapi ia takut, jadi ia diam-diam, menyelinap membuntuti Tuhan Yesus. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Ia dikhianati sahabat atau murid terdekatNya.  Petrus mengkhinati Yesus dengan menyangkal Dia di hadapan para wanita. Padahal wanita, dalam budaya Yahudi saat itu dipandang sangat rendah oleh para pria, mereka tidak punya power, tapi terhadap wanita seperti itu Petrus takut untuk mengakui Yesus, ia mengatakan, “saya tidak kenal orang itu”.. (Lukas 22:54-62)  Sdr, pernah membayangkan, teman akrabmu, yang setiap hari main denganmu, ngobrol denganmu, tiba-tiba berkata di depan orang yang baru kalian kenal:”maaf, aku nggak kenal orang ini” – dengan ekspresi serius, bukan bercanda.  Pasti Saudara sakit hati.  Itu yang dialami Yesus, disakiti hatiNya oleh para murid dan pengikutNya karena mereka semua menghindari Dia.  Tapi Yesus tidak mendendam.

2. Yes 53:3 “Ia dihina dan hindari orang”,  Dihina orang adalah hal ke-2 yang dicatat Lukas tentang perjalanan Tuhan Yesus menuju Golgota, mulai Lukas 22:63 – dikatakan Orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olokkan Dia sambil memukili dan menyiksa Dia. Muka Yesus ditutupi, lalu mereka memukuli Dia, tanpa Dia bisa melihat siapa yang memukulNya, dan mereka mempermainkan Yesus dengan mengajak main tebak-tebakan, siapa yang memukuli Dia?  Ini penghinaan yang luar biasa bagi seorang Raja di atas segala raja.

3. Bukan Cuma itu, Ia juga dipukul dengan cambuk.  Cambuk romawi bukan sekedar satu tali rotan yang lentur dan keras, tapi merupakan tali yang bercabang sampai 5 atau 6 cabang, yang diujung masing-masing ada benda tajam, seperti mata kail yang terbuat dari tulang-tulang hewan yang tajam.

Tuhan Yesus sudah mengalami penyiksaan  itu sejak ia dalam pengadilan, ia dicambuk Dengan 5 atau 6 mata kail yang sekaligus menghujam tubuhnya, dan ketika ditarik, punggungnya bukan Cuma berdarah, tapi daging dan kulitnya ikut tertarik bersama ujung kail itu.  Ini terjadi Berulangkali (puluhan).

- Ketika selesai dicambuk, tubuhnya robek-robek penuh luka, langsung dikenakan jubah ungu untuk mengejek Dia.  Jubah itu yang terus dipakai sepanjang perjalanan menuju golgota.  Luka yang masih basah, mengering dan lengket mengeras di kain ungu itu.  Ketika sampai di Golgota, dengan paksa para prajurit menarik jubah itu, dan koreng yang melekat ikut tertarik, luka-luka lama terbuka lagi, jauh lebih sakit dari sebelumnya…

- Paku besar menghujam tangan dan kakiNya,

- dan orang-orang mengejek Dia “Hai engkau pembuat mujizat, tolonglah diriMu sendiri”- Ia dihina, dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan.  Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Kondisi Yesus yang berlumur darah, membuat orang menutup muka, tidak ada yang mau memandang rupanya  – karena begitu buruk akibat siksaan.

Sejak di pengadilan, wajah Yesus sudah hancur, catatan sejarah menunukkan bahwa tulang pipinya retak, tulang hidungnya patah, matanya bengkak dipukuli, dan tubuh Yesus pun sudah hancur kena cambuk.  Setelah diadili bolak-balik antara Pilatus dan Herodes, akhirnya di tangan Pilatus, keputusan diambil, Tuhan Yesus diputuskan disalib, bukan karena ditemukan kesalahan pada diriNya, tapi Ia diberikan Pilatus untuk menghindari pemberontakan orang-orang Yahudi.  Yesus ditukar dengan penjahat-pembunuh bernama Barabas.  Pada jaman itu, dalam hukum Romawi, ada aturan tukar terdakwa khusus bagi terdakwa bangsa Yahudi.  Jadi Yesus divonis mati, sebagai menggantikan Barabas yang sudah divonis mati.  Bangsa Yahudi yang sudah gelap mata, lebih memilih Barabas orang yang pernah membunuh, mencabut nyawa, untuk dibebaskan, dan menuntut Yesus, yang pernah membangkitkan orang mati, untuk dihukum mati.  DOSA MENGGELAPKAN MATA MANUSIA, DAN MEMBALIKKAN KEADAAN.  YANG BERSALAH DIBEBASKAN DAN YANG BENAR DIHUKUM MATI.

4. Setelah keputusan diambil Pilatus, Yesus digiring, memikul salib menuju Golgota.  Ia menuju Golgota tanpa protes, tanpa berkata apa-apa(Yes 53:7): Dia tidak membuka mulutNya, seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, Ia tidak membuka mulutnya.  “Membuka mulut”- sesuai bahasa Ibrani yang dipakai kitab Yesaya, punya arti: Tanpa protes.  Tanpa mengeluh.  (penjahat asli, biasanya berdalih pada saat ketangkap basah, bahkan saat dijatuhi hukuman pasti – masih tetap protes, berulang kasus yang saya hadapi, anak yang ketangkap basah berbuat pelanggaran sekolah, hal pertama yang dilakukannya adalah “buka mulut  BELA DIRI, pakai ilmu silat: SILAT KATA, ALIAS BERDALIH” (dengan ekspresi serius tapi mata berbohong) untuk menghindari hukuman.  Tapi Tuhan Yesus tidak buka mulut sama sekali/Ia tidak protes, tepat seperti yang dinubuatkan nabi Yesaya.  Manusia biasa tidak akan tahan diperlakukan demikian, termasuk penjahat yang digiring sampai ke salib bersamaan dengan Tuhan Yesus, mulut mereka penuh sumpah serapah, kutukan, protes.  Mereka tidak mau dihukum mati, sekalipun mereka berbuat banyak kejahatan, mereka tidak bisa terima kenyataan itu. Di tengah brutalnya penyiksaan, penjahat-penjahat ini tidak  bisa mengendalikan emosi mereka,…. maka Segala isi hati yang kotor tidak tertahankan untuk keluar dari mulut orang yang mendapat hukuman mati tersebut, dari sepanjang perjalanan menuju golgota, sampai mereka tiba di atas kayu salib itu.

Semua yang keluar dari mulut mereka negatif, kecuali ketika salah satu penjahat bertobat, baru kata-katanya berubah positif.

Tuhan Yesus tidak membuka mulutNya untuk protes, tak ada kata-kata kotor keluar dari mulutNya, karena tidak ada kekotoran dalam hatiNya.  Ia membuka mulutnya, tapi  dengan 7 kalimat yang positif, penuh pengampunan, dan perhatian. Keluh sakit yang diucapkannya, juga bukan merupakan protes atau pemberontakan kepada para penyalibNya. Ia mengeluh langsung kepada Bapa di sorga, keluhan tanpa protes dan tanpa kutukan.

5.Hal lain yang dicatat Yesaya, yang benar-benar dialami Yesus, Yes 53:5 : Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita.  Di atas salib, perut Yesus ditikam hingga menembus  lambungNya.

Sdr, lambung yang tertikam, kepala yang berdarah oleh mahkota duri tajam yang bukan Cuma diletakkan begitu saja, tapi ditancapkan keras di kepala, tubuh yang robek-robek akibat cambuk yang menghujam dan menarik daging Yesus, membuat orang-orang di sana saat itu berpikir, “sungguh orang ini sedang dimurkai Allah”.  Tetapi saudara, sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungNya, dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, semestinya yang berada di sana adalah kita- yang berdosa.

Yesus mati, bukan sekedar menggantikan barabas, Yesus mati menggantikan hukuman dosa kita semua.  Tuhan tahu, tidak ada  manusia yang sanggup membayar dosa manusia sendiri yang terlalu besar dan banyak. Manusia tidak bisa menghapus dosanya sendiri, itulah sebabnya dalam kekristenan perbuatan baik tidak membawa manusia masuk ke sorga, sorga adalah tempat kudus, tidak boleh ada dosa di sorga, itu sebabnya sekalipun manusia sudah berbuat ratusan juta kebaikan, tapi jika ada satu dosa saja – tidak bisa masuk ke sorga.  Untuk alasan ini, Tuhan Yesus, sekalipun sanggup dan berkuasa untuk melepaskan diri dari kayu salib, Ia tidak memikirkan diri sendiri atau menjaga gengsi/harga diri sendiri,… Ia memilih mati bagi manusia.

Inilah alasan Yesus mau mati bagi manusia karena kasih.  Alasan kedua kenapa Yesus mau mati bagi manusia adalah KARENA TANPA KEMATIAN TIDAK AKAN PERNAH ADA KEBANGKITAN.  JIKA YESUS tidak pernah mengalami kematian, Ia tidak akan bangkit dan membuktikan kemenangan atas kuasa maut.  Yesus memutuskan untuk mati agar ada kemenangan, mematahkan kuasa iblis.

Semua yang terjadi pada Yesus di Golgota, seluruh pengorbanan dan lukaNya membuktikan Kasih Tuhan yang besar pada manusia.  Dan Tuhan mau engkau dan saya menghargai luka-luka dan pengorbanan yang sudah ia buat bagi kita.

Ilustrasi: Suatu hari saya dan teman-teman sekelas saya di SAAT sedang kerja bakti membersihkan ruangan-ruangan di kampus.  Masing-masing membawa alat kerjanya sesuai yang ditugaskan.  Beberapa bawa sapu, beberapa bawa lap pel. Lap pelnya berbagai macam asal-usul, ada yang dari kaos bekas, ada yang dari span pendek bekas, ada yang lap pel beneran.  Saya bawa span pendek bekas. Saat kerja bakti, ada pembagian tugas, ada yang angkat kursi ke luar ruangan, ada yang nyapu, ada yang ngepel, saya dapat bagian membilas lap pel, lalu dioper ke teman yang ngepel.  Banyak tuh yang saya bilas dan peras lap pelnya.  Ketika saya udah kelihatan keringatan, dan muka pucat kecapekan, eh ada teman cowok, yang habis angkat bangku, nawarin bantuan.  “udah gua gantiin dulu sementara” – lalu ia mulai membilas, baru membilas kain pel kedua, dia udah berteriak “aduh…” tangannya berdarah, saya kaget, ia berseru “ini lap siapa yang punya? Kok resletingnya gak dibuang, melukai tanganku?” wah saya merasa bersalah sekali, “sori, itu lap saya”.  Saya gak enak hati dengan teman saya, yang pertama karena lap itu saya yang punya dan lupa dibuang resletingnya, yang kedua: karena tugas membilas dan memeras adalah tugas saya, SEMESTINYA TANGAN SAYALAH YANG TERLUKA DAN BERDARAH, bukan tangan teman saya.  SEMESTINYA SAYA SENDIRI YANG MERASAKAN SAKIT DAN TERLUKA, karena kesalahan saya sendiri yang tidak teliti membawa lap pel dan karena memeras lap adalah tanggung jawab saya.  Tapi, justru teman saya yang berniat baik membantu saya yang terluka dan sakit. Sejak itu, saya sangat menjaga perasaannya dan jauh lebih berhati-hati dalam menjaga relasi pertemanan dengannya dari sebelumnya, saya gak mau melukai dia kedua kalinya, karena ia sudah berjasa menggantikan  capek dan luka yang semestinya saya terima.

SDR, SAKIT DAN LUKA yang Tuhan Yesus rasakan jauh lebih besar dan dalam dari luka teman saya.  Padahal semestinya kitalah yang menanggungnya.  Karena itu, jangan lagi sengaja dan membiarkan diri terus menyakiti hati Tuhan. Mari kita belajar menghargai pengorbanan Tuhan Yesus.

Jika kita sadar kita  sudah dibayar mahal dengan darah dan penderitaanNya mestinya kita berhenti terus menerus melukai hati Yesus? Banyak remaja Kristen yang berpikir: Terus-terusan “nakal” –sedikit-sedikit nggak apa-apalah pikir kita. Nyontek sedikit, bolos dikit dari sekolah dan persekutuan remaja, ngomong kotor sedikit, Piktor sedikit (pikiran kotor), melawan sedikit ama orang tua, jahil sedikit – colak colek pacar, bohong sedikit: sedikit-sedikit semua, dijumlahkan semua jadi bukit dosanya.  SDR2, JIKA ENGKAU MENGERTI APA ARTINYA DITUSUK, DICAMBUK HINGGA ROBEK, DIPUKUL HINGGA GAK BERBENTUK, DAN ITU SEMUA DEMI DIRIMU, ENGKAU TIDAK AKAN MEREMEHKAN PENGORBANAN YESUS DENGAN BERBUAT DOSA SEDIKIT-SEDIKIT.  TAPI ENGKAU AKAN BERJUANG SEBISA MUNGKIN MELAKUKAN YANG TERBAIK, BERHATI-HATI DENGAN HIDUPMU, SUPAYA YESUS TIDAK DILUKAI KE-2 KALINYA. Itu baru pertobatan sejati.

pertobatan sejati bukan sebatas menangis mengakui “aku sudah berbuat dosa ini dan itu”  Pertobatan Sejati dimulai dengan Pengakuan dosa dan dilanjutkan dengan Membiarkan/membuka hati menerima Yesus sebagai juruselamat. Ada orang-orang yang mau menjadikan Yesus sebagai juruselamat tapi tidak mengijinkan Dia jadi Tuhan atas hidupnya.  Maunya Yesus menebus dosanya dan menyelamatkan hidupnya hingga tidak masuk neraka, tapi tidak mengijinkan Yesus jadi Tuhan yang mengatur hidupnya, tidak mengijinkan Yesus mengatur tingkah lakunya, tidak mau melakukan yang menyenangkan hati Tuhan tetap seenaknya dalam perkataan dan perbuatannya.

Ketahuilah, Air mata tidak menjamin bahwa seseorang bertobat sejati, Tapi pertobatan sejati pasti diiringi Air mata pertobatan + terima Yesus sebagati Tuhan dan juruselamat + Usaha/perjuangan untuk tidak mengulangi dosa yang sama, perjuangan menghindari berbagai dosa apapun versinya – alias TAAT, menghargai pengorbanan Tuhan Yesus.

Peristiwa dari Pengadilan ke Goltota tidak berhenti sampai kepada kematian saja.  Setelah semua itu Yesus bangkit mengalahkan kematian/maut. Yesus adalah Tuhan yang menang atas kuasa maut, karena itu kemenangan juga menjadi milik kita, Oleh karena itu kita patut hidup selayaknya orang yang menang, tidak lagi membiarkan

MENANG ATAS MAUT


Penulis             : Heren

Nats                 : Lukas 24:1-12 ; Kejadian 3:1

Menurut sdr apa itu menang?

Cth: Jika ada seorang anak yang main catur sendiri, lalu setelah selesai ia terik “aku menang” – bisakah itu disebut menang?

jika seorang remaja dengan tinggi 180cm lomba lari dengan anak balita yang tingginya semampai (semeter tak sampai), lalu anak remaja itu tiba lebih dulu di garis finish – apa itu bisa disebut menang?

Sdr, sesorang baru bisa dikatakan menang kalau ada:

  • Lawan (main catur sendiri tidak bisa dikatakan menang karena tidak ada lawan)
  • ada sesuatu yang diperjuangkan
  • ada ancaman kekalahan (anak remaja vs Balita juga tidak bisa disebut menang, karena tidak ada ancaman kekalahan)

Jadi syarat menang, harus ada 3 hal tersebut,

Dan waktu seseorang dalam perjuangannya berhasil mengatasi lawan dan lolos dari kekalahan, saat itu dia dikatakan menang.

Kalau dikatakan Yesus menang atas maut, itu artinya

  • ada lawan yang dihadapi Yesus
  • ada perjuangan yang dilakukanNya
  • dan ada ancaman kekalahan.

Tentang Lawannya, siapa lawannya : Maut (Menang atas Maut-berarti lawannya adalah maut).

Kalau begitu maut itu benda mati atau benda hidup? Masakan Yesus berperang dengan benda mati? pasti dengan benda hidup donk. Maut menjadi sesuatu yang hidup karena ia digerakkan oleh iblis.

Iblis, si penguasa maut, berusaha menarik manusia untuk  berpartisipasi dengan dia masuk ke alam maut.  Selain itu, yang berkaitan erat dengan maut adalah dosa.  Sebab upah dosa adalah maut.  Dosa adalah sesuatu yang hidup, yang menggiring manusia ke sebuah tujuan yang pasti, yaitu maut, yang juga hidup, yang mengikat manusia, dan yang lalu menghancurkan manusia itu.

Tentang perjuanganNya, apa yang diperjuangkanNya? Ia memperjuangkan agar manusia lepas dari ancaman maut.

Tentang ancaman kekalahan, benarkah ada ancaman kekalahan, kan Dia Tuhan? Ancaman kekalahan tetap ada, iblis berusaha mengalahkan Dia dengan berusaha menggagalkan rencanaNya mati di kayu salib.  Contoh: Berulang kali ia menantang Tuhan Yesus untuk segera turun dari salib, jika Yesus turun dari salib maka rencana penebusan gagal, maka Yesus kalah.  Tapi Yesus membuktikan bahwa Ia tidak terkalahkan, Tuhan Yesus tidak “kecele” dengan tipuan iblis, karena itu Ia menang atas maut.

Ketika saya masih remaja, kata ‘maut’ itu biasa-biasa saja di telinga saya. Orang-orang sering menyebut-nyebut kata maut dengan bercanda.

- Kalau seluruh anggota kelas di sekolah ada maunya dengan guru, maka kita sering minta teman yang punya “rayuan maut”  untuk menghadap guru tersebut untuk ngelobi.

- Kalau nonton teman-teman main sepak bola, selalu ada orang-orang yang dijuluki memiliki tendangan “maut”.

Tidak ada sesuatu yang mengerikan dari maut, dan tidak ada yang menyedihkan juga.

Sampai suatu ketika, salah seorang teman gereja kami mengalami sakit kanker, baru saya gentar.  Kematian rasanya begitu dekat, namun waktu itu ia belum percaya.  Kami gelisah, apa yang akan terjadi? Bagaimana kalau ia meninggal? Akan ke mana dia, karena ia belum percaya. Dengan rajin penginjil kami menginjili dia, berbulan-bulan dia nggak mau terima Yesus, kami semua gentar membayangkan sesuatu yang mengerikan terjadi jika ia tidak menerima Yesus, sebagian menyerah.  Pas hingga waktunya, ia menerima Yesus, baru kami lega.  Ternyata bayang-bayang maut itu memang begitu mengerikan.  Tapi sekalipun ia sudah percaya, pada akhirnya, ketika ia pergi – kami tetap merasakan sedih juga, sedih sekali karena harus berpisah.

Sdr, maut adalah hal yang nyata.  Namun, Ada banyak manusia berusaha untuk menyangkal kenyataan, ingin mengalahkan maut.  Manusia berusaha dengan berbagai cara, artist-artist operasi plastik berulang-ulang untuk terlihat tetap muda, tidak ingin tampak tua karena tua identik dengan maut.  Ketakutan manusia akan maut dimanfaatkan oleh berbagai produk, produk susu kalsium – menawarkan tulang kuat hingga tua, produk alat-alat sport menawarkan tubuh sehat bugar, produk vitamin menawarkan kesehatan-antibody yang kuat menjauhkan dari penyakit.  Semuanya dengan kesimpulan yang sama, supaya menjauhkan manusia dari image/gambaran kematian.  Tapi kenyataannya, manusia tetap mati, sdr.    Kematian adalah sesuatu yang nyata, DAN TAKUT DAN SEDIH, ADALAH REAKSI MANUSIA TERHADAP KEMATIAN.

KETAKUTAN DAN KESEDIHAN, itu pasti terjadi jika seseorang menghadapi maut tanpa punya jaminan keselamatan.  Itu juga yang dirasakan para wanita dan murid-murid Yesus ketika Ia mati.  Yesus nyata-nyata telah mati di depan mata mereka.  Saat itu bagi mereka maut sudah berhasil merenggut Dia, sang Guru.  Jadi, wajar kalau saat itu mereka sangat ketakutan dan sedih.

Tapi ketakutan dan kesedihan tidak berlangsung lama, karena pada hari yang ketiga Yesus bangkit.  Ayat-ayat yang kita baca bercerita bahwa Ia bangkit, kuburNya kosong! Ia sudah Menang atau Maut!

Kebangkitan Yesus, KemenanganNya atas maut membuktikan 3 hal:

  1. Bukti bahwa Ia adalah Tuhan atas kehidupan

-          Tuhan Yesus selama hidupnya pernah menghidupkan orang mati.

-          Ia juga berkata bahwa Ia berkuasa memberikan nyawaNya, dan berkuasa untuk mengambilNya kembali.

-          Dan memang Saudara, Tuhan Yesus tidak akan mati jika Ia tidak menyerahkan nyawaNya sendiri.

-          Coba kita perhatikan: semua manusia mati dengan pasrah, tidak berdaya.  Kematian manusia biasa bersifat pasif, manusia tidak mampu untuk mencegah atau melarang nyawanya dicabut.  Begitu juga manusia sebenarnya tidak mampu mencabut nyawanya sendiri (orang yang berusaha mencabut nyawanya sendiri alias bunuh diri, tidak akan berhasil kalau Tuhan tidak mengijinkannya.  Makanya ada saja orang yang gagal bunuh diri, yang didapat rasa malu, dan lebih menderita-cacat.)

-          Kematian manusia biasa bersifat pasif, tetapi kematian Yesus itu bersifat aktif.  Yesus sendiri yang menyerahkan NyawaNya.  Selama Ia melayani, banyak orang yang berusaha menyingkirkan Dia, bahkan pernah berusaha mendorong Dia ke jurang, tapi mereka tidak berhasil.  Dikatakan Yesus berhasil menerobos mereka, dan melepaskan diri – KARENA BELUM WAKTUNYA. Artinya, Tuhan sendiri yang memilih kapan Ia harus mati, yaitu pada saat penyaliban.  Dan di atas kayu salib, Ia sendiri yang menyerahkan nyawaNya (Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaKU.)

-          Pada waktu Yesus bangkit, Ia mengambil lagi nyawaNya sendiri.  Siapa yang mampu melakukan hal ini selain Tuhan.  Ini membuktikan bahwa Yesus sungguh-sungguh Tuhan atas seluruh kehidupan.

  1. Kemenangan Tuhan atas maut, membuktikan bahwa janji Tuhan tidak pernah bohong.  Ia menggenapi nubuatNya sendiri.

-          nubuat Yesaya.  Yesaya 52-53 bercerita tentang Mesias/Hamba Tuhan yang dihina, diremukkan, untuk menanggung penyakit dan kesengsaraan manusia.  Tapi Mesias itu akan bangkit dari penderitaanNya.  Apa yang Yesus alami sama persis seperti yang tertulis di kitab Yesaya.

-          Kebangkitan Tuhan Yesus juga membuktikan nubuat yang diucapkan Yesus sendiri: Anak Manusia akan diserahkan dan akan bangkit pada hari yang ketiga.

-          Untuk nubuat yang terakhir ini, Tuhan Yesus menyebutnya sampai tiga kali kepada murid-muridNya.  Tapi mereka semua lupa,akan janji Tuhan itu. Yang ingat justru adalah para imam, sehingga mereka ketakutan kalau itu benar-benar terjadi – mereka akan malu, jadi mereka meminta kubur itu dijaga ketat.

-          Kebangkitan Tuhan Yesus, kubur yang kosong di depan mata murid-muridnya pada hari minggu itu, membuat mereka teringat kembali janji Tuhan Yesus.  Ia tidak pernah Ingkar.

  1. Kemenangan Yesus atas Maut, membuktikan bahwa Ia memang sanggup melepaskan kita dari kuasa maut.

Tuhan Yesus berjanji, barang siapa yang percaya padaNya tidak akan binasa, tapi akan diselamatkan.  Semua hal yang sudah saya sebutkan membuktikan bahwa Ia sungguh-sungguh Tuhan yang berkuasa dan yang tidak berbohong, artinya Ia dapat dipercaya dan diandalkan.  Dengan demikian kita tidak perlu ragu untuk menerima Dia sebagai juruselamat.  Ia sungguh-sungguh sanggup melepaskan kita dari kuasa maut.  Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi Dia untuk disucikan, Dia sanggup menolong kita dan mengubah hidup kita, baik pada masa ini, maupun masa y.a.d.

Aplikasi:

Kebangkitan Yesus, membuat kepercayaan kita tidak sia-sia.  Kita bukan menyembah Tuhan yang mati.  Dan kita tidak perlu malu dengan apa yang kita percayai.  Semestinya kita bangga, dan makin berani untuk menyatakan siapa yang kita percayai. Apa yang dialami Tuhan Yesus itu juga yang membuat semua rasul berani hidup dan mati bagi Dia.  Bagaimana dengan kita para remaja yang sudah mengenal Dia.

Perjamuan Terakhir


Markus 14:12-21; Matius 26:25
Ev. Heren

TAK ADA SEORANG PUN DI DUNIA YANG TAHU kapan SAAT KEMATIANNYA tiba. Mulai dari raja yang paling terkenal, guru paling hebat, hingga peramal/dukun yang biasanya dengan pertolongan kuasa kegelapan meramal masa depan orang, mereka semua tidak ada yang tahu kapan saat pasti kematiannya tiba. Namun Tuhan Yesus tahu benar, kapan saat kematianNya tiba. Karena Ia Tuhan yang maha tahu. Karena itu Yesus mempersiapkan sebuah perjamuan Paskah yang istemewa. Sebuah perjamuan Paskah yang terakhir bersama-sama muridNya.

Yesus menyuruh murid-muridNya pergi dan mempersiapkan ruangan serta berbagai hidangan perjamuan. Dikatakan bahwa Yesus memberitahu detail apa yang akan terjadi dalam perjalanan murid-muridNya, dan semua Injil yang mencatat peristiwa ini menyatakan bahwa apa yang dikatakan Yesus terjadi persis seperti yang dikatakanNya. Mulai dari murid-murid bertemu seorang yang membawa kendi berisi air, sampai kepada ruangan atas yang besar yang diberikan tuan rumah pada mereka. Apa yang terjadi Persis benar seperti perkataan Tuhan Yesus.

Yesus Maha Tahu, Ia bahkan tahu siapa yang akan menyerahkan diriNya. Membaca Kisah Perjamuan Paskah Terakhir Tuhan Yesus bersama para muridNya, mau tidak mau harus mengakui, Sungguh, Yesus Maha Tahu.

Oleh kemaha-tahuanNya, dalam makan Paskah ini juga, Yesus membuka kedok, mengungkapkan sebuah rencana pengkhianatan dari muridNya sendiri. Ini sangat mengagetkan dan menggelisahkan, baik bagi para murid umumnya, maupun bagi Yudas sang pengkhianat. Bagi Murid pengkhianatan seperti itu sepertinya hal yang mustahil, karena mereka masing-masing sudah begitu dekat dan akrab, mereka sudah seperti saudara satu sama lain, bagaimana mungkin ada yang akan tega menyerahkan guru mereka sendiri? Tapi mereka menyadari, bahwa Dia, Yesus, adalah kebenaran itu sendiri, Di dalam diriNya tidak ada kebohongan, hanya ada kebenaran. Karena itu perkataanNya pasti benar. Itu membuat mereka gelisah, dengan penuh kegentaran mereka bertanya pada Yesus “Bukan aku ya Tuhan?” Pertanyaan ini diajukan oleh semua murid Yesus, termasuk oleh Yudas. Bagi para murid lain, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang jujur, pertanyaan “bukan aku Ya Tuhan?” lahir dari rasa gentar dan rasa tidak percaya diri mereka – karena murid-murid tidak yakin benar bahwa mereka cukup kuat secara rohani maupun moral untuk tidak mengkhianati Yesus – sekalipun demikian, mereka masing-masing berharap Yesus menjawab “memang bukan engkau yang akan mengkhianati Aku”. Akan tetapi bagi Yudas, mengucapkan pertanyaan yang sama adalah semata-mata untuk menutupi kejahatan hatinya. Seluruh orang dalam ruangan akan dengan cepat mencurigai dia seandainya ia tidak mengajukan pertanyaan yang sama, untuk itu dengan penuh kemunafikan Yudas bertanya “bukan aku, ya Rabi?” Perhatikan, ada sesuatu yang berbeda dari Pertanyaan Yudas dibanding pertanyaan semua murid. Semua murid saat itu memanggil Yesus, Tuhan, sedangkan Yudas memanggil Yesus “Rabi”- ia mengganti pertanyaan itu menjadi “bukan aku, ya Rabi?”. Terlihat bahwa bagi Yudas, Yesus bukan Tuhan atas hidupnya, Yesus bukan penguasa hidupnya. Bagi Yudas saat itu, Yesus sudah tak lebih dari rabi/guru biasa yang hendak dikhianatinya.

Di perjamuan Paskah terakhir, Tuhan Yesus dalam kemaha-tahuanNya membeberkan adanya rencana pengkhianatan, saat itu juga semestinya bisa menjadi moment untuk menyadarkan/mempertobatkan Yudas dari rencana jahatnya. Tetapi dengan berdalih “bukan aku ya Rabi?”, jelas bahwa sesungguhnya Yudas sudah bulat tekadnya untuk mengkhianati Yesus demi uang sebagai ganti pengkhianatan itu. Uang yang kelak tidak pernah dinikmatinya sama sekali, karena penyesalan yang tak teratasi hingga setelah mengkhianati Yesus ia mati bunuh diri.

Moment Perjamuan Paskah Terakhir, mestinya menjadi moment untuk mengoreksi diri. Pembeberan rencana pengkhianatan membuat murid-murid was-was dan mengamati diri sendiri, kalau-kalau merekalah yang dimaksud Tuhan Yesus, kalau merekalah yang akan mengkhianati Tuhannya sendiri. Tapi Yudas melewatkan kesempatan itu, ia menutup hatinya, dan berdalih. Yesus telah memberikan indikasi/ciri-ciri yang sangat jelas bahwa yang akan mengkhianati adalah 1). seorang diantara ke-12 murid. 2)seorang yang sedang makan bersama-sama dengan mereka saat itu. 3)lebih spesifik lagi, dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Yesus. Sdr, hari itu Cuma ada satu orang yang berpapasan tangannya, mencelupkan rotinya satu pinggan dengan Tuhan Yesus. Murid-murid lain tidak memperhatikan kejadian itu, tapi Yudas sadar, bahwa dialah itu yang mengalami peristiwa itu, berpapasan tangan, mencelupkan roti satu pinggan dengan Tuhan Yesus. Namun sekalipun ciri-cirinya telah jelas mengarah ke Yudas, Yudas tak juga tertegor, tak ada keinginan berubah rencana, karena tekadnya sudah bulat, ia ingin mendapatkan uang lebih banyak lagi dari yang selama ini ia dapat, dan caranya dengan menjual Tuhan Yesus pada imam dan ahli Taurat. Yudas melewatkan kesempatan bertobat.

Sdr, setiap kali Tuhan membeberkan suatu fakta kebenaran tentang kejahatan, Tuhan ingin umatNya mengoreksi diri “akukah itu?”. Dan ketika sebuah kebenaran dinyatakan Tuhan ingin kita, umatNya, bertobat dan berbalik dari kejahatan. Pada Jaman Perjanjian Lama, Tuhan menggunakan kemaha-tahuanNya untuk membongkar kejahatan Daud. Tak ada yang melihat perzinahan dan pembunuhan yang dilakukan Daud, tapi Tuhan tahu. Ketika Tuhan memakai Natan untuk membeberkan kejahatan Daud, Daud bertobat. Dan itulah yang Tuhan inginkan.

Melalui moment Minggu Kesengsaraan Tuhan Yesus, biarlah menjadi moment kita untuk mengamati diri kita di hadapan Tuhan. Tuhan yang Maha tahu, mau membongkar setiap kejahatan dan kekotoran dalam hati kita, dan ia mau membersihkannya, agar Ia bisa masuk dalam hati kita.

Max Lucado, pernah menuliskan ilustrasi demikian dalam bukunya. Diceritakan ada seorang ayah bersama anaknya yang masih balita – sedang rekreasi ke pantai. Lalu di pantai yang panas, sang ayah melihat ada orang yang berjualan es krim. Pikirnya alangkah menyenangkan jika ia dan anaknya bisa sama-sama menikmati es krim di hari yang panas itu. Lalu ia menyuruh anaknya menunggu sejenak, dan ia pergi membeli es krim. Ketika kembali, sang ayah sangat kaget, mulut anaknya penuh dengan pasir, anaknya mengulum pasir di mulutnya. Ayah itu memberi perintah pada anak Balita itu untuk segera memuntahkan pasir dari mulutnya, tapi si anak menggeleng. Dengan paksa, sang ayah membuka mulut anak itu dan mengorek pasir itu dari mulutnya. Dicucinya dengan air bersih, setelah bersih, baru ia memberikan es krim itu pada anaknya.

Sdr2, selagi mulut masih penuh dengan pasir, tak ada es krim lezat yang bisa masuk. Selagi hidup kita masih mempertahankan – menyembunyikan kekotoran, dosa dan kejahatan di mata Tuhan, maka kita tidak akan bisa menikmati Kasih dan kebaikan Terbesar Tuhan.
Seorang wanita menyaksikan, bahwa puluhan tahun ia menjadi Kristen, tapi pernah terjadi selama beberapa tahun ia sama sekali tidak menikmati Paskah, berita Kesengsaraan Yesus sama sekali tidak membuatnya tersentuh, padahal ia sudah bertobat. Berita Kebangkitan Yesus, sama sekali tidak membuatNya bersukacita, padahal ia sudah percaya Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Renungan-renungan jalan salib selama menjelang Paskah hambar di telinga dan hatinya, lewat begitu saja. Sampai tahun yang kesekian, wanita ini merasa tidak tahan lagi, ia ingin merasakan kembali Pengorbanan Yesus secara pribadi, tapi kok tidak bisa? Pasti ada yang tidak beres. Ketika ia mengatakan “pasti ada yang tidak beres” saat itu baru ia tersadar, hidupnya tidak beres, ada bagian-bagian yang tidak beres di hadapan Tuhan dan ia sembunyikan dan tidak mau jujur di hadapan Tuhan. Ketika ia belajar jujur dan terbuka di hadapan Tuhan, mengakui dosa-dosanya dan memohon pengampunan dan pemulihan hatinya kepada Tuhan, maka Tuhan membersihkan hatinya, dan Ia mulai kembali meresapi makna kematian dan kebangkitan Yesus, dan itu berdampak pada berbagai aspek hidupnya, mulai dari emosinya, cara kerjanya, hingga cara bicaranya, semuanya.

Moment Perjamuan Terakhir, adalah moment Tuhan yang Maha Tahu membeberkan kejahatan, dan Ia menantikan kejujuran dan keterbukaan kita di hadapanNya. Tuhan akan sangat sedih jika ada Yudas ke-2, ke-3, dan seterusnya, yang berdalih, berpura-pura tanpa dosa, lalu pergi begitu saja meninggalkan perjamuan tanpa niat mengubah kesalahan yang sudah diperbuatnya, tanpa pertobatan dan perubahan hati. Tuhan menantikan kejujuran dan keterbukaan kita di hadapanNya. Amin