Just another WordPress.com site

Archive for the ‘RENUNGAN DAN KHOTBAH’ Category

Mengasihi orang tua, sebesar apakah?


PENULIS: EV. HEREN, S.TH

EFESUS 6:1-3

TUJUAN: REMAJA DAPAT MENGEMBANGKAN KASIH YANG TEPAT DALAM HUBUNGAN ORANG TUA ANAK

“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang gala”.  Pernah  mendengar peribahasa ini? Adakah di antara saudara-saudari yang masih ingat artinya? Peribahasa ini menunjukkan perbandingan, jalan itu panjang, gala itu pendek (gala adalah bamboo  yang biasa dipakai untuk tiang bendera atau untuk memetik buah di pohon). Banyaknya kasih yang diberikan orangtua pada anaknya disetarakan dengan jalan yang panjang entah dimana ujungnya, sementara kasih anak seperti gala, yang begitu pendek dan terbatas.

Ada 1 keluarga yang memiliki 7 anak.  Ke-7 anak itu semuanya disekolahkan di sekolah yang baik dan mahal, di beri uang jajan yang cukup, diajak rekreasi ke mana-mana, pokoknya berbagai hal dikorbankan orang tua mereka untuk membuat ke-7 anaknya berhasil. Tetapi sayang sekali, 3 di antaranya tidak menghargai pengorbanan ortu yang kerja keras membayar biaya sekolah mereka, mereka menyalah gunakan uang spp, dan ikut-ikutan rombongan anak-anak nakal hingga putus sekolah, bahkan keluar masuk kantor polisi hingga uang ortunya habis dan jatuh miskin. Sisanya? 4 lagi menjadi orang yang lumayan berkecukupan secara ekonomi, tapi tetap sayang, hanya satu yang menunjukkan kasih dan perhatiannya pada ortu mereka.  Hanya satu yang mau memberi rumah ke ortu, memberi uang bulanan, menjaga ortu yang sakit, dsb.  Dan ironisnya yang satu ini justru bukan yang terkaya, melainkan yang sekalipun cukup,namun nilai kekayaannya paling rendah diantara 4 yang berhasil tadi.

Orang tua (baik ayah maupun ibu) cenderung mencurahkan kasihnya yang begitu banyak dan besar pada anaknya, mereka mengasihi anak tanpa syarat, dan pengorbanannya pada anak sejak anak itu lahir tidak terhitung.

Sebaliknya, anak-anak sendiri, seringkali sangat membatasi kasihnya pada orang tua, jarang sekali ada anak yang mau berkorban bagi orangtuanya. Anak sering hitung-hitungan dalam memberi kasih pada orang tua.             -           Mungkin itu sebabnya pengurus remaja membuat tema: “Terlalu sedikit atau terlalu banyak kasih” – dalam rangka membicarakan bagaimana kita patut mengasihi orang tua dengan tepat.

Kalau orang duniawi saja bisa menyindir dan menegor anak-anak yang kurang mengasihi ortu dengan peribahasa Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang gala , Alkitab memberikan nasihat yang jauh lebih dalam dari itu, tak hanya menyindir dan menegor, tapi juga membimbing kita bagaimana cara mengasihi orang tua dengan benar dan berkenan pada Tuhan.

Ukuran Kasih pada Orang Tua

Sebelum bicara tentang bagaimana, saya ingin lebih dahulu mengajak kita merenungkan, sebagai pengikut Kristus, seberapa besar  kasih yang patut kita berikan pada orang tua.

Matius 22:37-39

Mat 22:37  Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Mat 22:38  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Mat 22:39  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Tuhan adalah yang utama dan nomor satu.  Tak  ada satu kasih pun yang boleh melebihi kasih kita terhadap Tuhan.  Termasuk kasih kita terhadap diri sendiri dan orang lain, dan kasih kepada orang tua, tidak boleh lebih besar dari kasih terhadap Tuhan.

Lalu, yang kedua adalah kasih terhadap diri sendiri dan sesama kita harus setara dan seimbang.  Orang lain termasuk orangtua kita sendiri. Kita sebenarnya tahu bagaimana kita ingin dikasihi, sebagaimana kita ingin dikasihi, demikianlah kita patut mengasihi orang tua. Sebagai contoh: Siapa di sini yang ingin hidup kelaparan (bukan diet)?  Untuk tidak kelaparan, kita berjuang bekerja dan menyiapkan makanan (minimal membeli makanan).  Ini disebut mengasihi diri sendiri.  Saya pernah menemukan ada yang remaja yang saking malasnya, ketika berada di kost, tidak ada makanan, dia tidak berusaha apa-apa. Sudah diberi uang saku, tapi untuk keluar energy ke warung membeli makananpun ga mau, dia buka kulkas, yang ada hanya buah apel 7 biji, wah pas katanya untuk 7 hari.  Akibatnya sakit lambung. Ini orang yang tidak normal dan tidak mengasihi dirinya sendiri. Orang yang normal akan mengasihi dirinya dan berusaha menjaga dirinya dari kelaparan.  Sebagaimana kita tidak mau kelaparan, maka kita juga patut tidak membiarkan orang tua kita kelaparan. Kasih yang setara antara terhadap diri sendiri dan ortu. Kasihi orangtuamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Wujud Kasih pada Orangtua:

Eph 6:1  Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

Eph 6:2  Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:

 

Efesus 6 yang baru kita baca adalah satu bagian dengan pasal 5 yang juga bicara soal hubungan dalam keluarga. Dari dua pasal ini kita dapat menemukan bahwa Kasih itu  unik! Satu kata kasih memiliki cara penerapan sendiri pada masing-masing anggota keluarga.  Tuhan.  Selintas kita lihat : kasih suami pada istri diterapkan dengan mencintai, merawat (dalam arti memenuhi kebutuhan istri), dan melindungi, kasih istri pada suami diterapkan dengan menghormati suami, kasih orang tua terhadap anak dengan mendidik dan membesarkan anak-anaknya, kasih anak pada orang tua adalah dengan menghormati mereka.

Mengapa harus menghormati orang tua? Orang tua adalah wakil Tuhan di bumi.  Ketika manusia lahir di dunia, sebagai bayi, ia tidak tahu  tentang Tuhan dan kasih Tuhan, yang ia tahu adalah kehadiran orang tuanya, yang mencintainya dengan memeluknya, memberi dia susu untuk makanannya.  Orang tua mendapat otoritas dari Tuhan untuk memelihara, mendidik, dan mencukupi kebutuhan anak-anak yang dititipkan Tuhan pada mereka.  Orang tua kita adalah cerminan Tuhan yang pertama kali dikenal oleh setiap umat manusia. Mereka adalah wakil Tuhan.  Sikap hormat kita pada orangtua adalah tanda/bukti awal kita menghormati Tuhan.  Seseorang tidak mungkin mencintai dan menghormati Tuhan yang tidak kelihatan, sementara wakil Tuhan yang kasat mata saja, yang jelas-jelas sudah berjasa melahirkan, merawat, dan mendidiknya,  tidak dia hormati.

Langkah-langkah Menghormati Ortu:

  1. Taati orangtuamu (Efesus 6:1-3)
  • Taati kedua orang-tuamu, bukan salah satunya saja.  Anak-anak sering mengeluh ortu-nya pilih kasih, padahal realitanya ada juga anak-anak yang “pilih” kasih dan memilih-milih pada orang tua yang mana mereka taat.  Firman Tuhan jelas mengatakan taati ayah dan ibumu.
  • Belajarlah untuk tulus dan hindari sikap adu domba.  Bila kamu minta ijin pada salah satu ortu-mu dan tidak diberikan ijin, belajarlah untuk taat dan jangan mengadu-domba orangtuamu.
  • Bagaimana jika ortu yang melanggar Firman Tuhan? Ef 6:1 menyatakan “taatilah orangtuamu di dalam Tuhan”.  Artinya jika harus diperhadapkan pada perintah yang bertentangan dengan Firman Tuhan, kita tetap harus memilih untuk taat pada Tuhan, TETAPI itu tidak berarti kita bersikap kurang ajar pada orangtua kita. Apapun situasinya anak patut menghormati ke-2 orang tuanya tanpa pilih-pilih.
  • Ilustrasi: seorang anak remaja memiliki ibu seorang penjudi.  Sejak kecil ia terbiasa disuruh-suruh untuk pergi ke tempat tertentu membeli perangkat judi agar tidak dicurigai pihak yang berwajib.  Ketia ia beranjak ke remaja ia menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya, ia bertumbuh dan mulai kenal kebenaran, dan ia mulai tahu bahwa apa yang dilakukan ibunya itu tidak dosa (karena merupakan kecanduan judi) dan melanggar hukum juga. Suatu hari ibunya kembali meminta ia pergi membelikan perangkat judi itu, dan kali ini dia menolak dengan kalimat dan nada yang sopan. Ibunya kaget dan langsung membentak dan berkata “kamu sudah berani kurang aja dan tidak taat sama mama ya”.  Anak itu gentar, tapi tetap dengan hormat dia menjawab “mama, aku menghormati mama. Tapi maaf, untuk yang satu ini saya tidak bisa karena dosa dan melanggar hukum. Tapi kalo Mama minta aku belanja, antar mama ke dokter, bahkan sampai malam-malam cari obat ke apotek, semua aku lakukan.” Mamanya tetap mengomel, tapi anak itu tidak bersalah dalam sikap menghormati orang tuanya.
  • Kesimpulan: kita bisa saja tidak menuruti perintah yang melanggar Firman Tuhan dan hukum, tapi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghormati orang tua. Tapi ingat, pada umumnya perintah orangtua itu wajar dan tidak salah, kasus di atas sangat jarang.  Taati orang tuamu.
  1. Minta dan hargai petunjuk orangtuamu

Amsal 1:7  Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Amsal 1:8 “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayamu,dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.”

Salah satu wujud kasih dan hormat adalah memperhatikan nasihat dan petunjuk orang tua. Sebagai orang yang pernah melewati masa remaja, saya ingat bahwa remaja seringkali merasa lebih pintar dari orang tuanya, lebih modern, lebih gaul, dan hi-tech, gak gaptek, bener sih….tapi..Tanpa sadar banyak remaja yang meremehkan nasihat ortu-nya dan berpikir bahwa  analisa dan keputusan mereka itu pasti benar tanpa harus mencari nasihat ortu ataupun, kalau sudah dinasihati, tidak mau menuruti nasihat itu.

Sdr, setinggi apapun tingkat pendidikan seorang anak  dan secanggih apapun dirinya dibandingkan orang tuanya,  tetap tidak bisa mengalahkan orang tua dalam hal pengalamannya.  Dan yang lebih penting dari itu ialah, orang tua wakil Tuhan untuk memberikan bimbingan dan petunjuk bagi anak-anak mereka.

hukum ke 5 dalam 10 hukum berkata kita harus menghormati orang tua supaya lanjut umur kita di bumi.  Hal ini berkaitan dengan mendengarkan dan mengikuti nasihat orang tua yang mencegah dari marabahaya dan jerat maut. Orang tua seringkali memiliki kepekaan lebih tajam tentang bahaya.  Jika sebuah nasihat tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, maka mengikutinya akan mendatangkan kebaikan bagi kita.    Saya ingat sejak kecil kami diajarkan untuk menabung.  Sampai SMA saya masih menuruti nasihat itu.  Siapa sangka tepat pada saat saya hendak masuk kuliah, orangtua saya tidak dapat membiayai saya sama sekali, dengan tabungan saya ditambah bantuan tambahan dari kakak saya untuk menutupi sedikit lagi kekurangan uang masuk kuliah, saya bisa kuliah.  Tentu sambil bekerja sambil kuliah, hingga lulus.  Mendengarkan nasihat orang tua menyelamatkan masa depan kita.

Menghormati orang tua berarti mendengarkan dan menghargai nasihat mereka.

  1. Menolong orangtua dan lakukan tanggung jawab sebagai anak.

Wujud lain dalam mencintai dan menghormati ortu adlah dengan menolong meringankan beban orang tua sesuai kapasitas kita.

Tuhan Yesus memberikan teladan yang sangat baik dalam hal menolong meringankan beban orang tua-Nya di bumi.  Di usia 12 tahun, hikmat dan pemahaman Tuhan Yesus akan Firman Tuhan sudah sangat menonjol.  Namun Dia masih menunggu hingga usia 30 tahun baru terjun sepenuhnya melayani khalayak ramai.  Karena Dia terlebih dahulu melayani keluarga yang membesarkanNya.  Yusuf, suami Maria, mati di usia yang masih muda, dan Tuhan Yesus bekerja sebagai tukang kayu untuk mencukupi kebutuhan ibu dan anak-anak ibunya yang lahir sesudah Tuhan Yesus.  Adik sekandungNya.  Tuhan Yesus menjalankan peranNya secara sempurna sebagai anak yang teladan.

Di usiamu saat ini, yang dapat kamu lakukan adalah membantu orang tuamu, dengan mengambil bagian tanggung jawab dalam keluarga sesuai kemampuanmu.  Sebagai contoh: di keluarga kami ada 4 bersaudara. 3 perempuan dan 1 laki-laki. Masing-masing kami, oleh orang tua kami diserahkan tanggung jawab, ada yang cuci piring siang, cuci piring malam, menyapu sore hari, mengunci pintu rumah di malam hari, selain membersihkan tempat tidur masing-masing.  Dengan melakukan hal ini saja, beban orang tua sudah cukup diringankan, dan hati mereka senang dan bangga, sekalipun tidak terucap di bibir mereka setiap saat.

Membantu urusan rumah tangga bukan hanya meringankan beban orang tua, tapi juga melatih  mental dan keterampilan hidup kita.  Contoh: berapa banyak di antara kita yang tahu bagaimana menjahit pakaian yang robek, atau memendekkan celana yang kepanjangan tuntas dengan jahitannya?   Membantu orang tua dalam urusan rumah tangga mempersiapkan kita untuk menjadi orang yang tangguh di masa depan.

Membantu orang tua juga dapat dilakukan dengan mengirimkan mereka uang saat kita sudah bekerja nanti.  Jangan lupakan mereka.  Mungkin uangmu tidak seberapa, tapi sukacita yang mereka rasakan sebagai orang tua itu berlipat-lipat ganda, karena mereka merasa dikasihi dan dihormati.

  1. Pelihara orangtuamu di masa tua / masa lemah mereka.

Yoh 19:27 – ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihi-Nya disampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya “ibu, inilah anakmu” kemudian katanya kepada muridNya: “inilah ibumu” sejak itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Adalah tanggung jawab seorang anak untuk merawat orangtuanya di masa tua mereka, atau kalau mereka belum tua tapi lemah tak berdaya karena sakit.  Tuhan Yesus menitipkan ibunya kepada murid termuda-nya yaitu Yohanes, yang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi yang paling panjang umurnya di antara semua murid.  Tuhan Yesus tidak membiarkan ibunya seorang diri memasuki masa tuanya, sekalipun Ia sendiri harus mati demi menebus dosa manusia.

Merawat orang tua di masa tua mereka adalah langkah nyata menghormati orang tua.

Di Singapore, ada seorang konglomerat yang pada saat memasuki masa pensiunnya, memberikan warisannya kepada anak dan mantunya.  Karena dipikirnya ia sudah tua, dan tidak perlu apa-apa selain istirahat dengan tenang di rumah, maka ia memindahkan seluruh hartanya secara tertulis, sah, atas nama anaknya.  Siapa sangka, suatu ketika anaknya mengusir sang ayah yang sudah tua keluar dari rumah.  Maka sang ayah hidup sebagai gelandangan di pinggir jalan kota Singapore. Sampai suatu kali, ada seorang pria, mantan rekan bisnis mengenali pria tua itu, dan melaporkan kejadian itu kepada perdana menteri Singapore. Perdana menteri tersebut sangat marah mendengar ada kejadian tersebut, maka atas perintahnya, seluruh surat pemindahan harta itu dibatalkan, dan bapak tua itu dikembalikan ke rumahnya. Perdana menteri sampai mengeluarkan peraturan dilarang menyerahkan harta pada anak sebelum pemberi warisan benar-benar mati. Saya tidak terlalu ingat apa hukuman yang diberikan kepada anak yang mengusir ortunya tersebut.  Tapi anak tersebut, yang menelantarkan orangtuanya, benar-benar bersikap tidak menghormati ortu.

Mungkin tidak semua peristiwa menelantarkan ortu seperti cerita tadi.  Tapi berapa banyak anak yang benar-benar mau memelihara ortu-nya ketika mereka sakit? Ketika mereka renta? Penghormatan terakhir kita bukan pada saat orang tua kita berada di peti mati.  Penghormatan terakhir kita adalah pada saat mereka masih hidup, tidak berdaya, namun bisa merasakan kita berjuang merawat mereka, mengasihi mereka.

Jadi 4 langkah ini yang patut kita jalankan untuk menunjukkan kasih hormat kita pada orang tua kita.

  1. Taat
  2. Menerima petunjuk ortu
  3. Membantu ortu dan melakukan tanggung jawab
  4. Memelihara ortu saat mereka tua atau lemah

Kesulitan untuk menghormati ortu karena pernah terluka, dikecewakan? Dalam hubungan ortu anak pasti ada gesekan.  Hubungan semanis apa pun dalam keluarga pasti pernah terjadi saling mengecewakan bahkan saling melukai. Dan harus diakui ada yang cukup parah kerusakan hubungannya dengan ortu.  Namun kamu bisa kembali mulai dari awal untuk mengasihi dan menghormati ortu, dengan cara mulai dari mengampuni ortumu. Ampuni ayahmu jika ia pernah melukai hati. Ampuni ibumu jika ia tidak seperti harapanmu.  Ketahuilah tidak ada orang tua yang sempurna.

Dengan pengampunan, kamu seperti membuang sampah dari kapal hidupmu.  Sampah itu, jika tidak dibuang, makin hari makin menumpuk memberatkan beban kapalmu hingga batas akhir dan hendak tenggelam. Semakin menunda membuang sampah, semakin besar kemungkinan tenggelam.

Kesaksian.

Jangan sebut kita mengasihi Tuhan, jika kita tidak mengasihi orang tua kita.

Tuhan menolong kita memberikan kasih pada orang tua kita dengan tepat.

* KHOTBAH INI PERNAH DISAMPAIKAN PENULIS DI REMAJa GKKA ARJUNO SURABAYA

YUNUS 4: Langkah Tuhan dalam Mendidik Umat-Nya


Tema Teks Yunus 4:1-11        : Didikan Tuhan terhadap Yunus

Tema Khotbah                                    : Langkah Tuhan dalam Mendidik Umat-Nya

Pendengar                               : Jemaat Umum

Tujuan  Umum                        : Agar jemaat dapat memahami belas kasih Tuhan kepada manusia dan menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang lain.

Sdr, ketidak-selarasan antara pengatahuan yang dimiliki seseorang dengan kehidupannya, selalu menimbulkan permasalahan, terlebih lagi kalau ketidak selarasan itu terjadi antara pengetahuan akan Tuhan pada diri seseorang dengan kehidupan nyatanya, hal itu akan menimbulkan masalah besar, dan tentunya yang pertama kali merasakan masalah itu adalah dirinya sendiri.  Hal seperti inilah yang terjadi pada diri Yunus.

Pasal 4 ini bercerita tentang situasi Yunus setelah Niniwe bertobat oleh khotbah Yunus. ternyata  Yunus sangat tidak senang melihat Pertobatan Niniwe dan belas kasihan Tuhan kepada Niniwe.  Dan perasaan yang dialami Yunus ini adalah perasaan yang sangat buruk, sdr.  Untuk itu Tuhan mencatat perasaan tersebut dalam Alkitab dengan satu kata “kejahatan besar” yang dalam bahasa Indonesia di Alkitab LAI kita diterjemahkan “marah.”

Sdr, lebel“jahat” untuk pertama kali tercetus dalam kitab Yunus adalah ditujukan kepada kota Niniwe dalam pasal 1, dan dalam pasal 3:8,10a, dan 10b kata jahat juga ditujukan kepada Niniwe.  Tapi sekarang lebel yang sama ini dikenakan kepada Yunus sang Nabi yang “membuat” Niniwe bertobat.(“” karena Yunus hanya perantara/alat yang dipakai Tuhan)

ARTINYA:  bukan cuma Niniwe yang diliputi ancaman  kejahatan dalam hatinya, tapi Yunus pun mengalami hal yang sama.

IRONISNYA adalah bahwa justru pada saat Niniwe sudah berbalik dari kejahatan-nya, kejahatan itu menguasai Yunus.  Yunus sangat yakin bahwa kejahatan Niniwe akan membuat Tuhan benar-benar menjatuhkan malapetaka atasnya. Namun kenyataannya sekarang batas waktu yang ditentukan Tuhan sudah habis, Niniwe bertobat dan Tuhan tidak jadi menjatuhkan hukuman-Nya.  Yunus menjadi marah.  Hal itu memimpin dia kepada akhir yang buruk yaitu ia gagal memahami belas kasihan Tuhan yang sudah diberikan kepadanya dalam pengalamannya sendiri ketika diselamatkan Tuhan DARI BADAI DAN IKAN BESAR.  Hati Yunus tidak selaras dengan hati Tuhan. Apa yang menyebabkan hati Tuhan pedih, itu yang membuat hati Yunus senang. Yunus benci dengan apa yang Tuhan telah lakukan dan itu membuatnya marah.

Dalam kemarahannya ia berdoa: (YA TUHAN, bukankah telah kukatakan itu ketika kau masih di negeriku? Itulah sebabnya , maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Tuhan yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menysal karena malapetaka yang hendak didatangkanNya)

Nampak jelas dari kalimat-kalimat tersebut bahwa  ia tidak menyesali tindakan pelarian diri-nya di pasal 1.  Hajaran Tuhan dengan badai besar dan ikan besar yang menelannya  tidak membuatnya  paham akan sifat Tuhan walaupun dari mulut-nya sendiri keluar pernyataan tentang sifat-sifat Tuhan secara tepat.  Pelajaran yang Tuhan berikan lewat pengalaman bersama orang-orang dikafir di kapal  dulu, juga tidak membuatnya sadar, padahal orang-orang yang ia sebut kafir itu lebih punya perasaan, mereka,  sebelum melempar Yunus ke dalam laut, telah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya, karena menghargai nyawa Yunus, Akan tetapi YUNUS Tidak menghargai nyawa orang-orang yang tidak kenal Tuhan.

Alasan mengapa hal seperti tersebut bisa terjadi adalah karena Yunus adalah nabi yang tahu banyak, bahkan hafal isi kitab suci, tapi pengetahuan itu sama sekali tidak hidup dalam dirinya.  Doa Yunus dalam perut ikan membuktikan betapa hebatnya pengatahuan Yunus akan kitab suci, doanya merupakan kutipan dari Mazmur-mazmur, diantaranya adalah Mzm 18:6; 120:1;  86:13; 88:6, dan Mazmur-mazmur lain.  Jelas sekali bahwa Yunus sangat akrab dengan literatur pujian dari Mazmur. Dengan modal pengetahuan kitab suci juga Yunus menyatakan karakter Tuhan dalam 4:2 ini (pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia)

AKAN TETAPI pengenalan Yunus hanya sebatas kognitif-nya.

DAN ITU MENIMBULKAN KONFLIK DI DALAM DIRI YUNUS SENDIRI.

Tidak heran jika  kita mendapati bahwa ada antitethic parelelism (PERTENTANGAN) di dalam isi doa Yunus dalam 4:2-3 dengan 2:1-9.  Yunus yang memuji kemurahan Tuhan di pasal 2, kini berbalik dan menyesal akan hal itu di pasal keempat.

Kemarahan Yunus kepada Tuhan makin jelas terungkap di ayat tiga dengan meminta Tuhan untuk mengambil nyawa-nya dan mengatakan bahwa kematian-nya lebih baik daripada hidup-nya.  Kalimat ini menunjukkan betapa dalam-nya ketidak-puasan Yunus terhadap kebaikan Tuhan, yang telah ia alami sendiri secara dramatis ketika ia diselamatkan dari dalam laut. 

Nampaknya kemurahan Tuhan kepada Niniwe dianggap sebagai ketidak-adilan Tuhan oleh Yunus. YUNUS BAHKAN MENANTANG TUHAN UNTUK MENCABUT NYAWANYA.

APLIKASI

Sdr, lamanya perjalanan hidup kita bersama Tuhan, banyaknya pengalaman belas kasihan dari Tuhan atas hidup kita,  dan banyaknya pengetahuan kita akan Tuhan ternyata tidak menjamin hidup kita diperkenan oleh Tuhan.  Sekian lama Yunus menjadi nabi Tuhan, dan sekian banyak pertolongan Tuhan yang dialaminya, tidak membuat dirinya diperkenan Tuhan.  Hatinya dan kelakuannya tidak mau sejalan dengan hati Tuhan sekalipun pengetahuannya tentang Tuhan begitu jelas, sistematis, dan berlimpah. Dan itu membuat Yunus berada pada posisi melawan Tuhan.

Sdr, ketika kehidupan nyata kita tidak selaras dengan pengetahuan kita akan Tuhan, maka kita pun sedang berada pada posisi melawan Tuhan. Orang yang mengenal Tuhan, yang seharusnya menjadi sekutu Tuhan, tapi berdiri sebagai lawan Tuhan/musuh bagi Tuhan! Dalam posisi seperti ini  sebenarnya Tuhan layak langsung menghajar kita, Tapi kenyataannya Tuhan tidak selalu langsung menghajar kita ketika kita menentang Dia, Tuhan begitu sabar menuntun kita pada pengertian, begitu sabar mengajar kita, membujuk kita, hanya kitanya saja yang masih terus keras kepala.  Mirip seperti Yunus, mari lihat tindakan Tuhan selanjutnya

sebagai jawaban atas doa Yunus tersebut, di ayat empat Tuhan malah balik bertanya dengan satu pertanyaan retoris. Tuhan  sama sekali tidak menghiraukan permintaan Yunus untuk kematian-nya.  Sebaliknya Tuhan mendidik Yunus dengan menguji kebenaran tuduhan Yunus pada Tuhan.  Tuhan bertanya: “Apakah baik bagi-mu untuk marah”  - Sewaktu Yunus protes dengan tindakan Tuhan, artinya keputusan Tuhan dianggap tidak baik oleh Yunus dan sekarang Tuhan justru berbalik bertanya “Jadi, apakah baik jika engkau marah” pertanyaan ini sudah seharusnya membawa Yunus kepada pengertian bahwa kemarahan-nya tersebut merupakan sesuatu yang jahat secara moral.  Jawaban Tuhan terhadap Yunus ini kembali membuktikan karakter Tuhan yang murah hati, berbelas kasih, dan panjang sabar.  Jawaban Tuhan begitu baik dan sabar, yang diberikan untuk membawa Yunus yang keras kepala kepada pengoreksian diri yang benar.

2. Rupanya tegoran yang merupakan didikan Tuhan yang pertama untuk menyadarkan Yunus setelah pertobatan Niniwe ini tidak juga membuat Yunus sadar.  Yunus masih terus marah dan ini digambarkan dengan tindakan ‘mengambek’ nya:

Yunus membangun dengan tangannya sendiri sebuah pondok / tempat berteduh sementara, terbuat dari dahan-dahan yang dianyam seperti pondok-pondok, dan ditutupi oleh daun yang  segar.

Namun Ketika Yunus terus menerus mengeluh, tampaknya daun-daun pondok yang dibuatnya  sudah layu.  Tuhan tahu tanaman hidup merupakan pelindung sinar matahari yang lebih baik daripada pondok buatan tangan Yunus.  Karena itu, di dalam belas kasihan dan didikan-Nya,  Tuhan menyediakan Yunus sebuah tanaman untuk mengurangi rasa tidak senang-nya.

Ini adalah langkah lain dari Tuhan untuk mendidik Yunus agar mengerti/bukan sekedar tahu – sifat Tuhan.  Yunus sangat senang, Namun sayangnya Yunus gagal menangkap bahwa anugerah kemurahan (tanaman itu) adalah dari Tuhan untuk siapa saja yang Tuhan mau.  Pemberian itu baik bagi Yunus sejauh tidak diberikan pada Niniwe.

3.  Didikan Tuhan berlanjut dengan mengirimkan seekor ulat yang memakan tanaman itu di keesokan harinya sebelum matahari terbit, dan ketika matahari terbit, sebelum tindakan pengrusakan tanaman itu selesai benar, Tuhan sudah mendatangkan angin timur yang amat panas.  Sengatan matahari membuat Yunus lemah tubuhnya dan kehilangan tanaman pelindungnya menggusarkan hati-nya.  Pengajaran Tuhan kali ini pun masih tidak dimengerti oleh Yunus sehingga sukacitanya ditelan oleh kegusaran.

Akibatnya Yunus kembali mengungkapkan keinginannya untuk mati .  Kali ini perhatian Yunus sudah terikat kepada diri-nya sendiri.  Kehilangan tanaman yang menolongnya untuk mempertahankan hidup membuat Yunus putus asa.  Nampaknya tidak wajar, tapi ini adalah hasil dari sakit rohani yang dalam.  Tuhan ingin menyelamatkan Yunus dari sakit rohani ini.

Sebagai jawaban atas reaksi Yunus, kembali Tuhan bertanya kepada Yunus “layakkah engkau marah kerena pohon jarak itu?”.  Namun kali ini pertanyaan retoris yang seharusnya dijawab dengan ‘tidak’ ini mendapat jawaban yang tidak biasa dari Yunus, yaitu ‘baik bagi-ku marah sampai mati.’ Yunus bersikeras membenarkan kemarahan-nya.  Tanaman itu begitu penting bagi-nya dan Tuhan menghancurkannya.  Sekali lagi kita melihat Yunus tidak menghargai nyawa dalam hal ini adalah nyawanya sendiri

Yunus putus asa, kemarahan atau kejahatan itu begitu melingkupi hatinya sehingga Yunus tidak mau hidup di bawah pengaturan anugerah Tuhan, Namun  ia juga tidak siap untuk hidup tanpa anugerah Tuhan (nyatanya ia masih butuh pohon yang dari Tuhan itu).  Pada akhirnya, karena dikuasai kemarahan : daripada harus hidup bersama dengan Tuhan yang berbelas kasih, Yunus memilih untuk memisahkan diri, yaitu dengan kematian.

Ayat 10 – 11

Namun puji Tuhan, Tuhan yang murah hati, berbelas kasih, dan panjang sabar tidak membiarkan Yunus begitu saja di dalam keputus-asaan-nya.  Sekali lagi Tuhan dengan penuh kasih mendidik Yunus, Tuhan mengkontraskan sikap Yunus terhadap tanaman dengan sikap Tuhan terhadap Niniwe.  Sementara Yunus mengeraskan hati-nya terhadap penduduk Niniwe, Yunus sebaliknya menaruh belas kasihan terhadap tanaman yang tidak pernah ada campur tangan dan jerih lelah Yunus di dalam-nya dan yang hidup cuma selama satu hari.  Walaupun begitu, tentu Tuhan  sebenarnya tahu bahwa Yunus tidak sungguh-sungguh berbelas kasih terhdap tanaman itu.  Yunus hanya kehilangan kenyamanan-nya, sama seperti dia tidak sungguh-sungguh menderita karena Niniwe melainkan karena kesombongan teologi-nya.  Jadi kalimat ini sebenarnya lebih merupakan ironi.

Dengan membandingkan tanaman dengan Niniwe, Tuhan ingin menunjukkan kepada Yunus betapa, dalam pandangan Tuhan,  Niniwe jauh lebih berharga daripada sekedar tanaman itu.  Hal ini didukung dengan penyebutan jumlah penduduk yang 120.000 orang, suatu jumlah yang sangat besar pada masa itu.  Dengan apa yang dialami oleh Yunus yaitu penyelamatan Tuhan kepada-nya dari dalam perut ikan besar, seharusnya Yunus sadar bahwa satu nyawa begitu berharga di mata Tuhan, apalagi sejumlah besar nyawa yang ada di dalam kota Niniwe itu.

Namun ada hal lain yang ingin Tuhan ajarkan pada Yunus.  Kalimat yang mengatakan bahwa orang Niniwe tidak tahu antara tangan kanan dan tangan kiri menjadi bukti penting karena dibaliknya mengandung arti bahwa mereka kurang pengetahuan. Kurang-nya pengetahuan ini  yang mungkin menyebabkan mereka membuat keputusan yang jahat. Itulah sebabnya ketika Yunus memberitahu Firman Tuhan tentang penghukuman Niniwe di pasal 3, mereka kemudian bertobat.

Setelah semuanya itu tidak ada lagi tanggapan ataupun bantahan dari Yunus.

Dan memang sdr, tidak ada seorang pun yang bisa berbantah-bantahan tentang kasih karunia Tuhan, kebaikan Tuhan, tidak seorang pun yang bisa protes akan keputusan Anugerah yang Tuhan mau berikan kepada siapa saja yang mau ia beri.  KarenaIa adalah Tuhan yang penuh dengan kasih karunia.

Aplikasi:

Penggalian terhadap kisah Yunus ini membawa kita bercermin tentang diri kita di hadapan Tuhan.  Dari dalamnya kita melihat tentang sosok diri yang sombong dan angkuh, yang “manja”- mengambek demi kenyamanan diri sendiri, yang tegar tengkuk, bebal tak jua mengerti didikan yang sudah bagitu banyak diberikan melalui pengalaman pribadi yang berlimpah – diri yang tidak tahu bersyukur atas pertolongan yang begitu nyata-nyatanya sudah dialami oleh diri sendiri, diri yang berontak terhadap Tuhan-tidak mau diatur hidupnya oleh campur tangan Tuhan, tapi sebenarnya juga tidak sanggup hidup tanpa campur tangan Tuhan, diri yang miskin hati, tak mampu memberikan kesempat bagi orang lain untuk bertobat.

Tuhan ingin kita berubah dan terus bertumbuh.  Jika pada hari ini ada teguran yang Tuhan berikan melalui alur dan penggalian kisah Yunus ini, dengarkanlah Dia dan patuhlah pada kehendaknya.  Hendaklah hati dan tingkah hidup nyata kita sepadan/selaras dengan kehendakNya.

YUNUS 1:AKIBAT TIDAK TAAT PADA PANGGILAN TUHAN


Penulis             : Heren

Nats                 : Yunus 1

Tema               : Akibat ketidak-taatan pada panggilan penginjilan.

 

Pendahuluan

Ketika saya kuliah, saya selalu menggunakan jam weaker ini (tunjukkan jam weaker) untuk membangunkan saya.  Setiap kali berdering, saya bangun.  Tetapi ada saat-saatnya, ketika liburan, karena terbiasa, saya tanpa sadar menyetel weaker, ketika  besok paginya weaker berbunyi, saya menjadi menyesal “mengapa menyetelnya padahal libur” – dan saya mematikan bunyinya, dan menjauhkan weaker ini dari tempat tidur saya, dan hari – hari berikutnya, di saat liburan, weaker ini benar-benar saya singkirkan jauh-jauh, dengan demikian saya tidak perlu diperintah oleh weaker ini.

 

Kadang-kadang manusia memperlakukan Tuhan seperti saya memperlakukan jam weaker saya, kalau suka, kalau rasa-rasanya sedang cocok, kalau rasa-rasanya memungkinkan dan bisa taat dengan perintah Tuhan, maka kita mendekat pada Tuhan – tapi bila kita merasa tidak suka / tidak setuju/ atau rasanya perintah Tuhan tidak selaras dengan kondisi kita, maka kita menjauhkan Tuhan dari hidup kita seperti saya menyingkirkan weaker saya.

 

Itu yang terjadi pada Yunus.  Ketika Tuhan memerintahkan Yunus untuk pergi memberitakan firman Tuhan di sana, menegor dosa-dosa mereka, Yunus malah pergi berlawanan arah dari Niniwe, ia lari ke Tarsus.  Yunus berpikir dengan lari, ia bisa menghindar dari perintah Tuhan, mungkin juga ia berpikir, dengan lari maka Tuhan akan memecatnya dari tugas dan jabatan kenabiannya – dengan demikian rencana menyelamatkan Niniwe akan batal atau penugasannya dialihkan pada orang lain.

 

Akan tetapi kenyataannya tidak demikian.  Tuhan tidak bisa dikontrol oleh manusia.  Ketidak-taatan manusia sama sekali tidak bisa mengalihkan rencana Tuhan, malah justru membuat manusia harus menanggung akibat dari ketidak-taatannya.

 

Dari pengalaman Yunus, kita akan melihat bahwa ada 2 akibat ketidak-taatan:

  1. Menenggelamkan diri sendiri pada penderitaan.(v.4, 6, 7, 12)

Sdr, Yunus bin Amitai yang diceritakan di sini adalah nabi yang sama yang pernah menegor raja Yerobeam di 2 Raja 14:25.  Jadi, Yunus bukanlah nabi baru ketika ia dipanggil untuk menyampaikan F.T di Niniwe sehingga ia begitu lugunya – tidak tahu bahwa tak ada satu manusia pun bisa lari dari Tuhan.  Yunus sangat mengenal Sifat Tuhan bahwa Tuhan maha kuasa, maha ada, dan tidak bisa lari daripadaNya…..  Lalu mengapa Yunus tetap saja lari dan tidak taat pada Tuhan?

Kejahatan Niniwe

Sdr, Niniwe adalah ibukota kerajaan Asyur.

Bangsa Asyur sangat terkenal kekejamannya. Mereka bukan hanya membunuh dalam medan perang, tapi setelah perang usai, mereka menyerbu ke dalam kota, menyiksa rakyat dari musuh yang tersisa, caranya pun sangat kejam.

- orang ditelentangkan, diikat pada pasak, lidahnya dicabut sampai ke akar-akar, dan belum cukup, orang itu dikuliti sampai mati.  Belum puas sampai di situ saja, orang Asyur memajang kulit-kulit orang yang telah disiksanya di sepanjang tembok kota musuh tersebut, untuk menakuti-nakuti musuh dan membuktikan betapa kuatnya Asyur.

 

Jadi inikah  sebabnya Yunus lari, karena takut? Juga bukan, keberaniannya untuk minta dilempar menunjukkan Yunus tidak takut mati, jadi apa alasannya?

 

Karena ia muak dengan kejahatan Niniwe, ia diliputi kebencian oleh dosa orang-orang Niniwe.  Baginya, Niniwe tidak pantas diselamatkan.  Selain itu Yunus sangat kenal isi Kitab Suci, di kitab Suci yang sudah ada sebelum Yunus menjadi nabi tercatat bahwa nantinya bangsa Asyurlah yang akan menguasai Israel, menjadi alat Tuhan untuk penghukuman bagi Israel. Banyak penafsir yang berpendapat hal ini pun menjadi salah satu alasan pelarian Yunus, karena sifat nasionalis, cinta bangsa yang besar.

 

Apapun alasannya, tindakan ketaatan Yunus tidak dibenarkan oleh Tuhan. Tuhan berhak memberikan keselamatan kepada siapa yang Ia mau. Akibatnya, Yunus menderita baik secara fisik maupun rohani

Secara fisik:

Yunus menderita di hempaskan ke sana-kemari oleh badai. Benturan, rasa mual, pusing, dsb dirasakan di kapal yang hampir karam itu.  Secara fisik juga ia harus menderita tenggelam dalam laut, berdiam dalam perut ikan yang amis , gelap dan harus berebut oksigen dengan hewan besar itu  selama 3 hari, ini bukan pengalaman yang menyenangkan sekalipun nampaknya seru di mata kita.  Karena selama itu ia tidak tahu apakah ada harapan baginya untuk selamat setelah ditelan ikan besar.

 

Namun penderitaan yang lebih besar yang dialami Yunus adalah penderitaan secara rohani:

Dalam ayat 5 dikatakan Yunus turun ke bagian paling bawah kapal dan tidur – dengan nyenyak. Secara psikologis ada berbagai cara alami yang dilakukan orang untuk lari dari stressnya, kalau bukan makan, tidur.  Yunus tidur dalam rasa bersalah dia yang besar terhadap Tuhan, karena ketidak-taatannya.  Tapi itu tidak bisa lama, akhirnya nahkoda kapal membangunkannya, dan Yunus harus berhadapan dengan kenyataan lagi!  Nahkoda meminta dia berdoa memohon kepada Tuhan yang disembah Yunus untuk menyelamatkan mereka.  Ini masalah besar, sdr.  Bagaimana mungkin dapat berdoa kepada Tuhan yang sedang dikhianati? Ia lari karena tidak taat, kini mungkinkah ia datang meminta pertolongan Tuhan yang sedang dijauhinya? Yunus mengalami gejolak dan pergumulan rohani yang besar!

Aplikasi:

 

 

  1. Akibat yang lain: menenggelamkan orang lain dalam penderitaan

Ketika memutuskan untuk  ikut menumpang dalam kapal tersebut, Yunus sama sekali tidak berpikir kalau ketidak-taatannya akan berdampak pada orang lain, apalagi kepada pelaut-pelaut kafir yang tidak dikenalnya. Ia pikir apa yang dialaminya adalah urusan pribadinya yang tidak ada kena mengena dengan orang lain.  Tapi kejadian pada hari itu membuktikan bahwa problem rohaninya berdampak pada orang lain juga. Ketidak taatannya menyeret orang lain untuk ikut menderita.

 

Pelaut dan penumpang lain yang sama sekali tidak tahu menahu tentang Yunus harus ikut merasakan badai besar.  Ayat 5 berkata awak kapal menjadi takut.  Sdr, berani adalah modal utama seorang pelaut/awak kapal.  Jika dalam test masuk menjadi pelaut, seseorang kedapatan punya sifat penakut, maka otomatis dia tidak diterima.  Berani adalah modal jadi pelaut.  Selain itu bagi  pelaut badai adalah pengalaman yang tidak asing.  Pelaut pada umumnya sudah bisa memperkirakan kapan ada badai sehingga mereka bisa menghindar atau menunda pelayaran.  Tapi seandainya itu pun terjadi, mereka punya cara untuk mengatasinya.  Akan tetapi  di ayat 5 dikatakan mereka menjadi takut, artinya badai yang satu ini memang sangat mengerikan, diluar perkiraan dan tidak mampu mereka atasi. Cara terakhir sudah mereka lakukan, membuang barang-barang, tapi itu pun sepertinya tidak akan menolong mereka.  Karena itu mereka berteriak-teriak kepada Tuhannya.

 

Orang-orang disekitar Yunus turut masuk dalam penderitaan gara-gara ketidak-taatan Yunus.

 

Semestinya setelah bangun dan melihat kondisi tersebut Yunus sadar, bahwa dirinyalah yang bersalah dan langsung mengaku di hadapan Tuhan,

berbalik pada Tuhan dan

memohon Tuhan menghentikan badai itu, dan

mengambil konsekuensi ketidak-taatannya sendiri.

 

Semestinya Yunus sudah melakukan hal itu tanpa menunggu diundi dan kedapatan namanya di sana.

 

Tapi Yunus telah kehilangan kepekaannya, ia juga telah kehilangan belas kasihannya, setelah tertangkap basah baru mengaku.

 

Aplikasi:

Sdr, seringkali kita sebagai anak-anak Tuhan di jaman modern ini pun masih bersikap seperti Yunus.  Kita pikir bila terjadi kerusakan hubungan antara kita dan Tuhan, ketidak-taatan kita dalam pemberitaan Injil, itu adalah urusan kita pribadi.  Kita tidak menyadari, betapa besarnya penderitaan yang kita bawa pada orang lain akibat ketidak-taatan kita untuk memberitakan Injil kepada mereka.  Kalau Yunus menjadi penyebab terjadinya badai, ini kehendak Tuhan untuk menghukum Yunus, maka, bagi kita pun sama, badai hidup kita biarkan terjadi dalam kehidupan orang di sekeliling kita karena kita lari dari panggilan untuk memberitakan keselamatan.

 

 

 

Mari mengambil waktu untuk memeriksa kembali kehidupan kita secara keseluruhan di hadapan Tuhan, jangan sampai menunggu dipukul Tuhan dalam badai baru berbalik dan taat.

ROH KUDUS DAN PENGUDUSAN ORANG PERCAYA


2 Tessalonika 2:13
Penulis : Heren

Pendahuluan
Sdr, saat ini, khususnya sejak abad 20, ada dua sikap yang cenderung terjadi ketika orang Kristen berhadapan dengan topik Roh Kudus. Di satu pihak, ada yang begitu bersemangat dan yakin berbicara tentang Roh Kudus bahkan mengklaim kalau dirinyalah yang paling dipenuhi Roh Kudus karena punya ciri-ciri tertentu (misalnya bahasa roh), di pihak lain ada orang-orang Kristen yang sangat antipati bila bersinggungan dengan topik Roh Kudus.

Bagaimana sikap yang sepatutnya kita ambil sebagai orang Kristen?
Yang pasti orang Kristen tidak boleh antipati dengan Roh Kudus, karena Alkitab jelas-jelas berkata bahwa Roh Kudus adalah pemberian Allah yang dijanjikan lewat Yesus Kristus untuk menyertai orang-orang percaya setelah Yesus naik kesorga. Roh Kudus bukan khayalan atau cerita buatan manusia, tetapi janji nyata yang sungguh-sungguh dipenuhi Allah.

Siapakah Roh Kudus itu?
- Roh Kudus adalah janji yang diberikan oleh Yesus Kristus untuk menjadi Parakletos “penolong yang lain” bagi manusia setelah Yesus tidak ada lagi di dunia bersama-sama kita.
- Roh Kudus adalah TUHAN  sendiri, dengan pribadi yang berbeda dari  Bapa dan  Anak, yaitu yang punya tugas khusus pula – menyertai dan memimpin orang percaya pada kebenaran.
- Jadi, pekerjaan Roh Kudus tidak harus dikaitkan dengan gejala supranatural. Sdr, saat ini gereja yang mengaku dipenuhi Roh Kudus, menarik minat dari ratusan bahkan ribuan orang. Caranya untuk menunjukkan bahwa gereja itu dipenuhi Roh Kudus adalah dengan mengadakan mujizat-mujizat, hal-hal yang sifatnya supranatural, mengetahui isi pikiran seseorang dan masa depan orang. Hati-hati iblis pun bisa mengadakan hal-hal yang supranatural.
- Hadir atau tidak hadirnya Roh Kudus dalam diri seseorang juga dikaitkan dengan persyaratan berbahasa Roh. Paulus dalam 1 Korintus 12 jelas memaparkan bahwa bahasa roh adalah salah satu karunia dari sekian banyak karunia, jadi bukan keharusan. Bahkan itu juga bukan karunia terutama, karunia terutama adalah bernubuat (berkata-kata dengan hikmat Tuhan, kata-kata yang menyatakan kebenaran, menegor ataupun menguatkan). Tetapi yang terjadi adalah berbagai penipuan, termasuk kursus bahasa Roh. Juga muncul kesombongan rohani, menghakimi orang lain tidak memiliki Roh Kudus/belum dibaptis Roh Kudus
Siapa saja yang sudah dibaptis oleh Roh Kudus?
- Seseorang langsung dibaptis oleh Roh Kudus pada saat ia percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat pribadinya. Memang pada diri murid-murid Yesus yang pertama tidak demikian, setelah mereka percaya, mereka menunggu 10 hari di Yerusalem baru Roh Kudus turun atas mereka secara serentak, karena memang saat itu adalah moment awal penggenapan janji Yesus memberikan Roh Kudus pada orang-orang percaya. Saat itu murid-murid berbahasa Roh (yaitu bahasa yang bisa dimengerti oleh semua orang termasuk yang tidak kristen waktu itu – tidak seperti yang dilakukan di berbagai gereja abad ini). 120 murid menerima bahasa Roh, tepat setelah itu, Petrus berkhotbah, dan jumlah yang percaya bertambah 3.000 orang lagi, mereka pun dibaptis oleh Roh Kudus saat percaya, TAPI TIDAK BERKATA-KATA DALAM BAHASA ROH. Dengan demikian orang percaya pada Yesus pasti dibaptis Roh Kudus, tetapi tidak harus berbahasa roh. (Kis 2:38)

Sdr, semua yang sudah dibaptis Roh Kudus pasti berkerinduan/punya kemauan untuk dibaptis gerejawi Sebagai tanda pengakuannya dihadapan orang lain bahwa ia sudah percaya Yesus Kristus sebagai juruselamatnya. Tapi,
tidak semua orang yang sudah dibaptis secara gerejawi telah dibaptis Roh Kudus. Karena itu wajar orang-orang mulai mencoba mencari cara bagaimana membedakan antara orang Kristen yang sungguh-sungguh dan bukan (sekalipun sama-sama telah dibaptis gerejawi) tetapi caranya tidak tepat dan sangat prejudis (menghakimi)

Permasalahan ini akan terus ada selama kita ada di dunia. Oleh sebab itu Tuhan Yesus memberikan perumpamaan yang sangat tepat – tentang gandum dan ilalang:
Gandum dan ilalang sangat mirip dan sulit dibedakan ketika masih sama-sama muda, mereka berada di ladang yang sama, tumbuh berdampingan. Tidak ada yang tahu mana gandum dan ilalang – sampai tiba saatnya masa berbuah, gandum akan dipenuhi bulir-bulir yang berisi, sehingga batangnya mulai merunduk, sementara ilalang hanya menghasilkan bunga ilalang dan tetap tegak – sehingga jelas sekali perbedaannya. Saat itulah diketahui mana gandum dan ilalang, gandum akan dipanen, ilalang akan dibuang ke perapian.

Orang Yang dipenuhi Roh Kudus akan menghasilkan buah kekudusan, seperti kehendak Tuhan.
Ulangi lagi ayat …2 tesalonika 2:13
Latar belakang penulisan surat, laporan Timotius tentang keadaan tesalonika. Mereka terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh “luar” yang dengan sengaja merusak nama baik dan ketulusan Paulus, orang-orang luar itu juga yang mempengaruhi tingkah laku mereka. Memang kota Tesalonika tidak separah Korintus, tapi pikiran mereka mulai dirusak, tidak lagi kudus, mereka berpikir buruk tentang pelayanan, tentang orang yang menjadi pemimpin rohani, dan ini akan terus berlanjut …. Semakin parah jika tidak dihentikan. Oleh karena itu Paulus segera menulis surat untuk mereka.

Kudus berasal dari kata Qados, yang artinya terpisah, tidak bercampur. Ketika orang percaya membiarkan pengaruh dunia, dosa masuk ke dalam dirinya, ketika orang percaya tidak menjaga dirinya, terpisah dari pengaruh dosa, maka di situ kekudusan orang percaya dinodai.

Orang percaya memang disebut orang kudus. Tapi kenyataannya kita bukan orang kudus, kita masih tetap bisa berbuat dosa. jadi apa maksudnya. Pribadi yang bekerja untuk menjadikan kita kudus adlah Roh Kudus. Roh kudus, merupakan pribadi ketiga dari Allah Trigunggal, disebut Roh Kudus, karena pekerjaanNya, yaitu menjadikan kita kudus. Dia menyucikan kita.

Penyucian merupakan proses yang dimulai pada waktu kita percaya pada Kristus sebagai juruselamat. Proses ini berlanjut sampai kita mati. Proses pengudusan membutuhkan kerjasama antara Roh Kudus yang menyucikan manusia. Dalam proses pengudusan ada perjuangan dan usaha manusia untuk bertumbuh dalam pengudusan (Filipi 2:12-13)

Akhir-akhir ini, di jaman yang disebut jaman Roh Kudus banyak orang yang mengaku-aku dipenuhi Roh Kudus, tetapi hidupnya samasekali jauh dari kekudusan:
Jim Baker, mengaku dipenuhi Roh Kudus, tetapi menyelewengkan uang untuk Tuhan, menipu dan bermain-main dengan wanita tuna susila hingga dipenjarakan 45 tahun. Cara penipuan: bekerja sama dengan timnya mencari tahu penyakit hadirinya, dan mengatakan
Roh Kudus yang memberitahunya.

Begitu juga dengan Jimmy Swagart melakukan hal yang mirip. Jim Baker bertobat, namun Jimmy Swagart tidak.

Apakah orang-orang ini memenangkan banyak jiwa, iya…. Tapi banyak juga yang jatuh ketika mengetahui ketidak-kudusan hidup mereka.

Roh Kudus tidak bisa dibohongi, orang yang hidup bersama Roh Kudus akan dikuduskan, tetapi orang yang memalsukan pekerjaan Roh Kudus, yang mengaku-aku akan dibongkar kedoknya, karena Roh Kudus adalah Allah yang tidak suka dipermainkan.

Aplikasi dan tantangan:

Tekankan apa artinya kekudusan hidup: proses seumur hidup yang melibatkan kerjasama antara manusia dan Roh Kudus.

BERJAGA-JAGALAH (khotbah untuk hari kenaikan Tuhan Yesus)


Matius 24:36-44

Tujuan: Agar jemaat lebih menjaga hidup sehari-harinya sambil menantikan kedatangan Tuhan.

Penulis : Ev. Heren

 

Bicara soal Kenaikan Tuhan Yesus selalu berkaitan dengan janjiNya untuk datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya. KedatanganNya ke dunia digambarkan oleh manusia dengan banyak versi, tapi mari kita lihat apa kebenaran soal kedatanganNya dan inti dari pesanNya tentang menyambut kedatanganNya yang kedua kali.

24:37 “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.

24:38 Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,

24:39 dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.

24:40 Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;

24:41 kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.

24:42 Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

24:43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.

24:44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Pendahuluan:

Dalam sebuah film Akhir Zaman, diceritakan bahwa pada saat menjelang kedatangan Tuhan Yesus orang-orang percaya akan diangkat satu per satu, orang-orang yang sedang bekerja di sawah tiba-tiba saja hilang, teman yang berada di sampingnya langsung terkejut dan bingung entah kemana temannya, 2 wanita  yang sedang sama-sama bekerja salah satunya tiba-tiba saja hilang, diangkat Tuhan, yang lain tertinggal bengong ke mana temannya?  Film ini membuat cukup banyak orang Kristen yang menontonnya , tanpa pengertian yang utuh akan Firman Tuhan, percaya bahwa pengangkatan orang percaya di akhir jaman akan persis seperti itu… padahal sebenarnya tidak demikian.

Kisah dalam film tersebut, diangkat secara hurufiah dari dua ayat perumpamaan Tuhan Yesus tentang akhir jaman dalam Mat 24:40-41 “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;

Mat 24:41  kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”

Sdr, ketika Tuhan Yesus mengajar, banyak kalimat-kalimat kiasan yang sama sekali tidak bisa diartikan secara hurufiah, apalagi bila Ia sedang mengajar dalam bentuk perumpamaan, mari kita coba perhatikan Mat 24:34 “Aku berkata kepadamu; Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu sebelum semuanya ini berlalu” – jika tanpa pengertian yang utuh akan Firman Tuhan, pendengar saat itu akan berpikir bahwa mereka (yang hidup saat itu dan sedang mendengarkan perkataan Tuhan Yesus)  akan tetap hidup sampai saat tuhan Yesus datang kedua kali dalam kemuliaanNya, tapi kenyataannya tidak demikian, sampai sejauh ini pun Tuhan Yesus belum datang, karena perkataan tersebut merupakan bentuk kiasan/ada makna lain yang lebih dalam di balik kata-kata Tuhan Yesus ini.  Dan dengan cara seperti itu juga yang dilakukan Tuhan Yesus ketika ia mengucapkan Mat 24:40-41.    “Pada waktu itu kalau ada 2 orang diladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan”- tidak berarti bahwa akhir jaman, pengangkatan orang percaya berarti orang percaya diangkat/dipungut satu-persatu sebelum kedatangan Tuhan Yesus, karena

-          Yang masih hidup tidak akan mendahului mereka yang sudah mati 1 Tes 4:15 “ Ini kami katakan kepadamu dengan Firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekalli-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.”  Jadi tidak ada pengangkatan orang percaya sebelum bangkitnya orang-orang mati pada akhir jaman.

-          Pengangkatan orang percaya dilakukan secara bersama-sama: 1 Tes 4:16-17 “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 17. Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan dingkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongksong Tuhan di angkasa.

-          Jadi hanya satu kali kedatangan ke-2, dan satu kali pengangkatan secara bersamaan (bukan satu per satu)

Jadi apa artinya cerita Tuhan Yesus tentang 2 orang di ladang dan 2 wanita yang sedang memutar batu kilangan ini?

Sdr, LAI telah memberikan judul yang cukup bisa mewakili inti dari maksud pengajaran Tuhan Yesus dalam Matius 24, nasihat supaya berjaga-jaga, berjaga-jaga untuk apa? Yaitu untuk menyambut kedatangan Tuhan.  Sebelum bicara tentang orang-orang yang sedang bekerja dan diangkat, Tuhan Yesus lebih dahulu bicara tentang gambaran kondisi dunia saat kedatanganNya.

24:37 “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.

24:38 Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,

24:39 dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.

  1. Pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, kehidupan akan berjalan seperti biasa, mirip seperti kondisi pada jaman Nuh.  Pada masa Nuh, sebelum air bah datang, segala sesuatu berjalan seperti biasa, hari-hari berjalan normal, orang-orang makan, minum, ada acara kawin mengawinkan, itu semua kegiatan sehari-hari yang normal dalam dunia. Kalau dalam bayangan kita sekarang bisa diwakili sedikit (tidak sepenuhnya) dengan kondisi menjelang Tsunami di Aceh, orang-orang masih pergi ke pasar, jalan-jalan, makan-makan di restoran, ada yang sengaja masih tidur sekalipun matahari sudah terbit karena itu hari Minggu, sebagian lain masih di gereja (Sekolah Minggu/kebaktian), namun secepat kilat air datang menyapu semuanya.  Dalam jaman Nuh, air bukannya menyapu isi daratan, tapi makin naik-naik tak tertandingi, menenggelamkan semua isi daratan…
  2. Pada saat kedatangan Tuhan Yesus itu juga orang-orang sibuk mengurus urusan-urusan duniawi.  Makan, minum, kawin mengawinkan adalah aktivitas jasmani, nampaknya ini kegiatan yang biasa, tapi jika dihubungkan dengan jaman Nuh, maka aktivitas jasmani ini sesuatu yang luar biasa, karena berdasarkan Kej  6:5 Tuhan menilai orang-orang pada jaman Nuh itu melakukan kejahatan yang besar.  Mungkin sedikit aneh bagi kita, mengapa Tuhan Yesus tidak menyebutkan bahwa mereka sedang mencuri dan berbohong, dan saling membunuh, tapi malah menyebut makan, minum, dan kawin mengawinkan?  Sdr, segala sesuatu yang dilakukan dengan mengabaikan Allah adalah kejahatan di mata Allah.  Bagi orang-orang pada jaman Nuh, makan, minum, kawin mengawin adalah hal yang utama, jauh lebih utama dari Allah.  Waktu-waktu yang semestinya dipakai untuk bertobat dan berdoa mereka pakai untuk keinginan daging, Mereka hidup demi dan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata.  Dan itu dipandang Tuhan sebagai sesuatu yang jahat sehingga Tuhan memutuskan melenyapkan mereka dari muka bumi.  Apa yang terjadi pada jaman Nuh ini, juga terjadi pada masa ini, saat-saat menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali: manusia hidup, sibuk bekerja, berkarir, berbisnis, untuk memenuhi kebutuhan jasmani – dan melupakan Allah.  Manusia sibuk mencari uang, agar bisa makan enak, agar bisa menikmati fasilitas yang membangun tubuh jasmani, agar bisa mendapatkan hiburan dan bisa tertawa, tapi Allah dilupakan, tak pernah memberi diri untuk mengakui dosa, datang pada Tuhan, apalagi melayani Tuhan dari dalam hati, seakan-akan urusan rohani adalah urusan nomor dua bahkan nomor tiga, yang kalau ditunda pun tidak akan mendatangkan kerugian apa-apa dibandingkan jika urusan bisnis yang tertunda, akan menimbulkan kerugian jutaan bahkan ratusan juta mungkin.  Manusia menempatkan Allah di posisi paling belakang dan paling bawah, dan ini pun Tuhan nilai sebagai Kejahatan Besar di mataNya.  Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang seperti jaman Nuh, akan terkejut ketika Tuhan Yesus dating kedua kalinya, karena Alkitab berkata di ay.39 mereka tidak tahu akan sesuatu, lebih tepat jika dikatakan mereka tidak siap karena sikap tidak mau tahu mereka, karena  faktanya Nuh sudah memberitakan ajakan pertobatan.  Orang-orang seperti inilah yang akan tertinggal di bumi untuk mendapatkan penghukuman Allah.

Aplikasi:

Apa yang sedang kita lakukan saat ini menjelang kedatanganNya?  Sedang terlalu sibukkah kita dengan urusan dunia, sibuk dengan toko, bisnis, dan pekerjaan kita demi sesuap nasi? Setelah waktu-waktu bekerja yang padat dan melelahkan apakah kita sibuk mencari hiburan bagi diri sendiri, sementara Allah diabaikan?  Sdr, Sebelum air bah tiba, Nuh terus menyerukan panggilan pertobatan, namun mereka semua mengabaikan dan menertawakan Nuh, saat ini, bagi kita pun, seruan yang sama terus dikumandangkan di mimbar, Firman Allah terus diberitakan mengajak kita untuk berbalik kembali kepada Allah, apakah respon kita?

Pada saat kedatangan Yesus yang kedua kalinya, juga akan ada:

  1. ada pemisahan, perbedaan akan terlihat.

24:40 Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;

24:41 kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.

Seperti dijelaskan di awal khotbah, ini bukan menunjuk kepada pengangkatan satu per satu orang percaya, tapi menunjukkan bahwa  Sekalipun 2 orang yang dari luar nampak sama, sama-sama bekerja, pada wilayah yang sama, tapi di hari itu Tuhan akan memisahkan mana yang milikNya, yaitu yang percaya,dan mana yang bukan milikNya, yaitu yang menolak Dia.  Dalam perumpamaan di lain yang serupa Tuhan Yesus menyebut pemisahan antara domba dan kambing, antara gandum dan ilalang.  Dua orang manusia bisa saja hidup bersama-sama sehari-harinya, bertingkah laku mirip – mungkin,  bagi kita sulit membedakan mana yang sungguh-sungguh beriman pada Yesus mana yang tidak, TAPI TUHAN MENGENAL MILIK KEPUNYAANNYA, oleh karena itu, pada hari kedatanganNya, yang seorang dibawa dan yang lain (yaitu yang tidak percaya dan tidak mempersiapkan diri untuk kedatanganNya) ditinggalkan.  Ini menunjukkan bahwa keselamatan tidak bisa membonceng/ikut-ikutan, iman adalah milik pribadi per pribadi, tidak menjamin bahwa orang yang tinggal satu atap akan sama-sama diangkat oleh Tuhan Yesus, tidak menjamin bahwa sepasang suami-istri pasti akan sama-sama diselamatkan dari penghukuman hari terakhir, tidak ada jaminan bahwa sesama rekan pelayanan/aktivis Gereja akan sama-sama diangkat sekalipun tampak sama-sama bekerja keras dalam urusan-urusan gereja, yang menjamin pengangkatan dan penyelamatan adalah iman kita secara pribadi kepada Yesus Kristus.  Kesiapan pribadi menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali adalah mutlak bagi setiap orang percaya.  Ay. 42. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

  1. KedatanganNya tiba-tiba.  Pencuri – yang akan merampok.  Gambaran malapetaka, bagi mereka yang tidak percaya dan tidak taat padaNya.

24:43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.

24:44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Kalimat ayat-ayat ini sangat jelas, Tuhan Yesus datang secara mendadak, tak ada seorang pun yang tahu kapan waktu Pencuri akan datang, waktu kedatangan Tuhan Yesus pun tidak ada seorang yang tahu.  Karena itu kita harus berjaga-jaga, siap sedia.

Berjaga-jaga maupun bersiap sedia adalah tindakan aktif.  Tidak ada orang yang bisa berjaga-jaga dengan pasif, tanpa melakukan apa-apa.  Jika kita berkata kita mau berjaga-jaga terhadap pencuri, itu berarti kita aktif bertindak, kita memasang pagar, selalu mengunci pintu dan jendela rumah,misalnya, memasang lampu yang cukup terang di sudut-sudut yang berbahaya agar satpam/petugas siskamling bisa melihat dengan jelas kalau ada yang memanjat – pokoknya segala hal yang bisa kita lakukan mempersiapkan kemungkinan ada seorang pencuri yang akan datang.  Demikian pula sikap kita dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus, kita tidak dapat pasif menunggu sampai Tuhan Yesus datang, lalu kaget… kita diberi tanggung jawab, untuk aktif menantikan kedatanganNya.. melakukan kehendakNya, menjaga kekudusan hidup kita (dalam berpikir, dalam mengambil keputusan, dalam bertindak) – hidup bukan ikut-ikut cara-cara orang dunia, tapi sesuai Alkitab.

Waktu kedatangan Tuhan Yesus memang seperti waktu kedatangan pencuri yang tak terduga, tapi KehadiranNya pada saat kedatangan ke-2 itu bagi kita adalah Sukacita, karena Ia datang sebagai pahlawan kita, untuk menyelamatkan kita – NAMUN bagi mereka yang tidak percaya hingga tidak siap menyambutNya, kedatangan Tuhan Yesus adalah malapetaka, karena Ia akan persis seperti pencuri yang akan mengambil semuanya dari hidup orang yang tidak percaya – tanpa sisa.. segala kejayaan, sukacita, damai, kehidupan semuanya akan diambil olehNya…yang tersisa hanya ratap tangis duka cita dalam penghukuman kekal.

Akan dalam posisi yang manakah kita? sebagai orang yang siap atau yang tidak peduli dan tidak percaya?  maukan kita bersiap-siap? menyambut kedatanganNya?

Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus


APA YANG DIINGINKAN YESUS

Sdr, semua orang Kristen menganggap Natal itu penting, Kematian Yesus dan Paskah juga penting, tapi Kenaikan Tuhan Yesus, banyak yang tidak menganggapnya penting bahkan melupakannya.  Padahal Kenaikan Tuhan Yesus tidak kalah pentingnya dengan Natal, Jumat Agung, Paskah, ataupun Pentakosta.  Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga merupakan sebuah pembuktian Kemuliaan Kuasa Yesus Tuhan, bahwa Dia berbeda dari semua orang yang pernah bangkit dari kematian, karena semua orang yang pernah mengalami mujizat bangkit dari kematian akhirnya akan mati lagi sama seperti manusia lain, Namun Tuhan  Yesus, setelah kebangkitanNya dari kematian, Dia tidak pernah lagi mengalami kematian, Dia Naik ke sorga disaksikan murid-muridNya. Dan inilah berita yang akan kita dengan tentang kenaikanNya:

Act 1:6  Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”
Act 1:7  Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Act 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Act 1:9  Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
Act 1:10  Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
Act 1:11  dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naiksorga.”
Act 1:12  Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.
Act 1:13  Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.
Act 1:14  Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Ayat-ayat yang baru kita baca merupakan gambaran moment perpisahan antara Tuhan Yesus dan murid-muridNya sebelum Ia terangkat ke Sorga.  Ini merupakan perpisahan kedua, perpisahan pertama ketika Tuhan Yesus disalib dan mati, tapi itu berlangsung hanya dalam waktu 3 hari saja, karena setelah kebangkitanNya pada hari yang ketiga Tuhan Yesus berulang kali menemui murid-muridNya. Pada moment perpisahan kali ini, Tuhan Yesus akan pergi dalam jangka waktu jauh lebih panjang, yaitu bukan sampai 3 hari tapi sampai akhir jaman.  Biasanya orang yang tahu akan berpisah, akan memberikan pesan-pesannya yang selalu diingat, demikian juga  Tuhan Yesus perlu menyatakan pesan-pesan terakhir yang berupa keinginanNya untuk dilakukan oleh setiap muridNya, yaitu setiap orang yang percaya kepadaNya.

Dari Kisah 1:6-4 ini saya mengajak untuk melihat 3 keinginan Tuhan Yesus bagi murid-muridNya, termasuk kita para murid Kristus di masa kini:

Tuhan Yesus ingin murid-muridnya

1.    Memiliki Pola Pikir Kristus:

Act 1:6  Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”  – Kalimat pertanyaan murid-murid ini mencerminkan pola pikir para murid – yang sekalipun sudah 3 ½ tahun ikut Tuhan Yesus dan belajar dariNya, sudah menyaksikan Kematian dan KebangkitanNya, namun masih saja berpola pikir duniawi. Untuk itu Tuhan Yesus menjawab : “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Act 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Apa yang dipikirkan para murid, dan apa pula yang dipikirkan Tuhan Yesus?
Di sini kita melihat perbandingan pola pikir antara para Murid dan Tuhan Yesus:

A.    Saat itu murid-murid berpikir bahwa PELAKU PELAYANAN DI BUMI adalah Tuhan Yesus.  Setelah melewati masa-masa sedih, ragu dan ketakutan akibat penyaliban Yesus, Kebangkitan Tuhan Yesus memberikan sebuah perubahan besar.  Kebangkitan Kristus telah membangkitkan kembali keyakinan dan harapan murid-murid pada Tuhan Yesus, ada rasa penuh kemenangan di hati melihat musuh-musuhNya tidak punya kuasa atas Yesus, sudah dimatikan pun Dia tetap bangkit. Kemenangan Tuhan Yesus membuat murid-murid berpikir dan berharap Tuhan Yesus tetap terus bersama-sama mereka di bumi untuk bekerja melayani sebagaimana yang mereka harapkan; à tapi Tuhan Yesus menyatakan yang sebaliknya kepada para murid, APA  yang diinginkan, direncanakan, dan dimintaNya adalah bahwa justru para murid tersebut yang harus menjadi pelaku pelayan di bumi setelah Ia pergi pada Bapa. Tongkat estafet telah beralih, dari Tuhan Yesus kepada orang-orang yang menjadi muridNya, “kamu akan menjadi saksi-Ku” –kata Yesus, artinya bukan lagi Yesus yang MENGABARKAN INJIL, melainkan setiap murid yang mengabarkan Injil dengan cara menjadi saksi Kristus.  Menjadi saksi mencakup 2 hal:  dalam perkataan yang bercerita tentang keselamatan Kristus, maupun dalam tingkah laku yang mencerminkan Kekudusan dan kebenaran Kristus.
Sdr, Pola pikir bahwa Yesuslah PELAKU PELAYANAN DI BUMI  masih ada di kalangan orang Kristen masa kini, kita percaya pada Kematian dan KebangkitanNya, tapi kita tidak mau ambil bagian dalam tanggung jawab pelayanan, kesaksian dan pengabaran Injil.  Kita membiarkan orang-orang di sekitar kita, bahkan orang terdekat kita tanpa pernah kita menginjili mereka.  Kita pikir “biar Tuhan saja yang bekerja melayani orangtua saya, saudara saya, kerabat saya, tetangga saya – sampai mereka bisa percaya pada Kristus.”  Kita pikir “mudah-mudahan Tuhan menganugerahkan keselamatan kekal kepada mereka tanpa kita harus membuka mulut kita menyaksikan Kristus, tanpa kita harus menguras keringat untuk melayani mereka dengan berbagai resiko.” Seakan-akan semua tugas penginjilan dan penyelamatan ada di tangan Tuhan dan kita boleh berpangku tangan. Kita lupa, bahwa kita bisa mengenal Kristus karena ada orang yang merelakan dirinya menyampaikan kabar baik itu kepada kita. Jika Kita masih berpikir seperti ini, Tuhan ingin kita berubah dari pola pikir yang demikian.  Mari kita berpola pikir  seperti Kristus, bahwa sejak Kristus naik ke Sorga, pelaku pelayanan di bumi ini adalah manusia, yaitu kita semua murid-murid Kristus, bukan hanya para pendeta penginjil.  Ini merupakan tanggung jawab sekaligus persembahan hidup kita di hadapan Tuhan.

B.    Perbandingan pola pikir  ke-2: murid-murid berfokus pada pikiran tentang kerajaan yang sementara di bumi, kerajaan yang fana, karena itu mereka bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”  Sebenarnya bila diperhatikan konteks pembicaraan yang hari itu dan saat itu sedang terjadi, pertanyaan murid-murid ini melenceng dari topiknya alias “tidak nyambung” -  karena sebelumnya Tuhan Yesus sedang bicara tentang janjiNya untuk memberikan Roh Kudus, Kis 1:5, Sebab yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.  Topik pembicaraan Yesus yang sangat rohani ini langsung di sambut dengan pertanyaan “”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”, tetapi dari sini jelas terlihat bahwa murid-murid masih terobsesi pada pemulihan kerajaan dunia yang fana.  Beban  dan pergumulan hidup mereka yang berat akibat tekanan bangsa lain (romawi) di negaranya menyebabkan mereka terfokus pada pokok persoalan duniawi mereka.  Sama halnya ketika kita bicara dengan seseorang yang sepertinya tidak nyambung-nyambung, kita bicara A, dia bicara Z,  kita ajak ngobrol topik B,C,D tetap saja dia bolak-balik terus bicara soal masalah Z, karena masalah itu sangat mengikat dirinya, hingga dia terus berputar-putar dengan masalah itu dalam pikiran dan pembicaraannya.  Hal yang persis terjadi pada diri murid, Pola pikir mereka begitu terkungkung oleh pergumulan hidup yang sedang mereka hadapi, hingga mereka yang mereka dambakan adalah pemulihan kerajaan bagi umat Israel, seperti pada masa jaya Daud dan Salomo dahulu, yang bebas dari kuasa bangsa asing  yang menekan mereka. Padahal yang menjadi pokok pengajaran Kristus adalah “kehadiran Kerajaan Tuhan” – (Kis. 1:3). Yaitu kerajaan Tuhan didalamnya manusia dapat dibebaskan dari kuasa dosa. KERAJAAN yang kekal-tidak fana.  Pola pikir yang berfokus pada kerajaan duniawi yang sementara juga merajalela di lingkungan orang-orang Kristen saat ini.  Bukankah lebih mudah bagi kita jika diajak memikirkan masalah duniawi daripada rohani, kita lebih senang jika topik obrolan adalah persoalan dunia daripada rohani.  Para orang tua akan sangat rela mengeluarkan ratusan juta untuk anak-anaknya mengambil kuliah ekonomi, komputer,dll untuk membangun kerajaan bisnisnya, dll daripada mendanai puluhan atau lebih rendah dari itu, belasan juta bagi anaknya untuk sekolah Teologia demi membangun kerajaan Sorga.  Kita lebih sukacita menginvestasikan waktu kita nonton sinetron atau lawakan di TV untuk menghilangkan stress daripada menginvestasi waktu belajar Alkitab/PA atau ikut seminar cara penginjilan.  Kita terus berputar-putar pada persoalan duniawi hidup kita.

Terhadap pola pikir seperti ini Tuhan Yesus menjawab: “”Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Act 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”  Dengan kata lain Tuhan Yesus hendak berkata: “berfokuslah pada ketetapan bapa”
Tuhan Yesus tidak menjawab kapan karena  Ia tidak boleh memberitahu kapan KerajaanNya yang sempurna datang, yaitu yang dimulai dengan kedatangan Kristus yang kedua, karena menurut ketetapan Bapa, hari itu akan datang dengan tiba-tiba tanpa seorang manusia pun yang tahu.  lagi pula KerajaanNya bukan kerajaan duniawi seperti yang dipikirkan para murid.- Karena itu Tuhan Yesus membawa para murid untuk lebih berfokus pada kehendak Bapa, bukan berputar pada obsesi pribadi yang keluar dari pergumulan hidupnya.  Hal ini bukan karena Tuhan Yesus menyuruh murid-muridnya menyangkali realita bahwa dalam hidup mereka sebagai manusia ada masalah dan pergumulan, tapi Tuhan Yesus mengajarkan, jangan terjebak pada masalah hidup atau menyimpang dari fokus kita pada Tuhan oleh karena adanya masalah hidup.  Fokusnya adalah kehendak Bapa, yaitu kerajaan Tuhan (yang tidak disebutkan kata-kata Kerajaan Allah di pesan ini),  Mengapa Tuhan Yesus tidak menyebut kerajaan Tuhan saat itu juga?

Sebenarnya persoalan kerajaan Tuhan/ yaitu kerajaan Sorga sudah diajarkan pada murid-murid selama Yesus 3 1/2 tahun bersama mereka, tapi sampai saat itu murid-murid masih tidak paham/salah memahami, di hari kenaikanNya Tuhan Yesus tidak menjelaskan /mengklarifikasi panjang lebar tentang jenis kerajaanNya, karena Tuhan sudah menetapkan kelak ketika Roh Kudus turun atas mereka, maka saat itu juga pikiran dan pengertian mereka akan langsung terbuka tentang pengajaran Yesus selama ini.   Manakala kerajaan Tuhan tersebut hadir maka kehidupan setiap orang di atas muka bumi ini ditandai oleh pertobatan dan pengampunan dosa. Sebab kerajaan Tuhan merupakan wujud dari pemerintahan Tuhan yang menguasai hati dan pikiran manusia, sehingga mereka hidup dalam takut kepadaNya. Dengan demikian, ketika Kristus berbicara mengenai Kerajaan Tuhan pada hakikatnya bukan sekedar suatu janji tentang kehidupan sesudah kematian, tetapi kehidupan umat manusia saat ini. Apakah saat ini kita selaku gerejaNya telah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Tuhan di dalam kehidupan riel? Jadi iman Kristen dalam terang kebangkitan Kristus, justru mendorong setiap orang percaya untuk menyadari realita masa kini dan memaknai secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Tuhan dalam kehidupan masa kini

C.    Perbandingan pola pikir ke-3: murid-murid berpikir jangkauan / objek pelayanan adalah terbatas kepada suku bangsa mereka saja, yaitu Israel, sementara dalam kerangka pola pikir Kristus pelayanan mencakup dan menjangkau seluruh umat manusia di bumi. Murid-murid sangat terobsesi kerajaan Israel dipulihkan, karena masih berpikir bahwa inilah satu-satunya bangsa yang mereka cintai, selain itu, jika kerajaan itu dipulihkan dan Kristus menjadi rajanya, maka mereka sebagai murid-muridNya pastilah menjadi menteri-menteri atau orang-orang penting yang bekerja dan melayani di kerajaan yang dipulihkan itu. Sungguh menaikkan posisi dan derajat mereka.  Tetapi Tuhan Yesus membenahi pola pikir mereka –  “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”  –jadi bukan hanya satu bangsa saja yang akan dilayani, melain semua bangsa.  Bangsa Israel, sejak jaman Abraham hingga Kristus datang ke dunia sudah hidup eksklusif: mereka adalah bangsa pilihan, bangsa yang kudus, yang berbeda dari bangsa lain, mereka tidak boleh mencemarkan diri dengan cara berbaur dengan bangsa lain baik dalam pernikahan maupun dalam pergaulan masyarakat, tidak heran jika murid-muridpun masih berpikir dalam pola pikir kesukuan seperti itu.  Menghadapi pola pikir yang sudah mendarah daging ini, Tuhan Yesus menuntut sebuah perubahan: keselamatan bukan lagi untuk satu bangsa, sudah saatnya keselamatan itu sampai ke semua bangsa – di seluruh muka bumi ini. Untuk berita ke seluruh bangsa di seluruh bumi itulah Tuhan Yesus memanggil dan mempersiapkan para murid.  Sdr, kita perhatikan di sini, bahwa mula-mula bahkan sampai saat kenaikan Tuhan Yesus pun, murid-murid masih berpola pikir sempit: kesukuan, jangankan berminat mendekati dan menjangkau suku bangsa lain, berpikirpun tidak, tetapi di kemudian hari, mereka semua mentaati panggilannya, mereka menyebar masuk ke berbagai bangsa, tanpa prestige/derajat tanpa posisi penting, dengan pola pikir Kristus mereka melayani semua bangsa.
Pola pikir para murid sebelum diubahkan masi sering tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Pola kehidupan bergereja kita sering masih begitu kental dengan “kemuliaan diri, keluarga, etnis/suku dan kelompok” kita masing-masing, persis seperti para murid yang ingin memperkuat posisi mereka jika kerajaan itu dipulihkan.   Itu sebabnya latar-belakang dan motivasi mengikut Kristus masih ditandai oleh upaya untuk menguatkan posisi/kedudukan diri kita di tengah-tengah masyarakat.Di beberapa gereja, pelayanan sebagai pengurus/diaken/penatua lebih merupakan sebuah jabatan daripada pelayanan yang rendah hati, bahkan ada gereja yang majelisnya diwajibkan pakai jas dan duduk di kursi khusus 2 baris di depan, duduk di kursi-kursi kehormatan,setiap minggu tanpa pernah kenal jemaat karena menyambut tamu, karena fokus pada kursi kebesarannya, dan hanya mau menginjili orang-orang tertentu. Pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang memiliki obsesi duniawi seperti itu adalah bagaimana dengan kuasa kebangkitan Kristus dan Roh Kudus mereka dapat memperoleh posisi/kedudukan di tengah-tengah kelompoknya? Sdr, Setiap kita sangat rentan/mudah untuk terjebak/terpeleset pada pola pikir seperti ini. Padahal yang diutamakan oleh Kristus yang bangkit dan janji menerima Roh Kudus adalah bagaimana peran kita sebagai umat percaya untuk menjadi saksiNya yang memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa bagi setiap orang.  Janji Kristus yang bangkit itu pada prinsipnya  bukan untuk menguatkan “prestige” diri, keluarga, etnis dan bangsa. Tetapi janji Tuhan untuk memperlengkapi kita dengan kuasaNya untuk menjadi saksi yang mampu mengubah atau mentransformasi dengan kuasa kasihNya semua orang jenis apapun yang Tuhan kirim pada kita, atau yang kepada mereka Tuhan telah mengutus kita.

2. yang diinginkan Tuhan Yesus, kita
Percaya pada JanjiNya dan hidup untuk JanjiNya, Yaitu Janji untuk Datang Kembali ke-2 kalinya:  Ini Keinginan Kristus bagi murid-muridNya, sekalipun tidak Ia katakan sendiri saat itu juga, namun Kristus telah berulang-ulang mengatakannya selagi Ia masih berada bersama-sama para murid.  Dan kali ini, lewat perantaraan Malaikat, janji Tuhan diingatkan lagi, Ia akan datang kembali.  Terangkatnya Tuhan Yesus merupakan sesuatu yang luar biasa, Kemuliaan Yesus yang selama hidupnya sebagai manusia selalu terselubung, tidak diperlihatkan, saat itu benar-benar dibukakan, Ia naik dengan Agungnya ke Sorga.  .” Para murid terkesima dengan peristiwa Tuhan Yesus yang terangkat ke sorga. Mereka terus menatap ke langit. Jadi walaupun Tuhan Yesus telah lenyap dari pandangan mereka, mereka terus melihat ke atas. Karena mereka terus menatap ke atas, maka mereka melupakan tugas yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus untuk kembali ke Yerusalem. Tuhan Yesus berkata: “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan BapaKu. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24:49).  Sikap para murid ini seringkali menjadi ciri dari beberapa orang-orang Kristen yang sering terus-menerus menatap kepada kemulian sorga, tetapi mereka melupakan tugas dan tanggungjawab yang riel mereka sebagai murid Kristus di masa kini untuk menjadi saksi di tengah lingkungannya. Karena itu mereka sering tidak tangguh dan tabah menghadapi kesulitan hidup ini. Mereka kemudian melarikan diri ke dunia mereka yang penuh imajinasi tentang keselamatan di sorga nanti.
Di tengah-tengah kesulitan kehidupan yang kini makin bertambah berat dan kompleks, kita dapat melihat bahwa ibadah atau kebaktian di berbagai gereja makin dihadiri banyak orang. Kita bersyukur manakala mereka digerakkan oleh kerinduan dan sikap kasih yang antusias kepada Tuhan. Tetapi jujur masih banyak di antara kita banyak yang menjadikan ibadah sebagai tempat pelarian dalam dunia imaginer rohani.  Di dalam kebaktian kita seperti merasakan hadirat Tuhan, tetapi di rumah, di lingkungan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain karena kita menghindari tanggung jawab kita dan hidup kita dengan sembrono dan sama sekali tidak memberikan Kesaksian tentang Kristus, bahkan mungkin orang menjadi kecewa pada Kristus karena melihat tingkah laku kita.  Kita melayani di gereja, tetapi di rumah kita selalu bertengkar karena tidak pernah kita berfungsi sebagaimana mestinya dalam keluarga, yang semestinya berfungsi sebagai pengatur rumah tangga-bersikap acuh dan mengurus diri sendiri, yang semestinya berfungsi sebagai pelindung keluarga, hanya melindungi diri sendiri bahkan menjadi ancaman bagi anggota keluarganya, yang semestinya turut bersama-sama menopang ekonomi keluarga malah “memoroti” kas keluarga, yang semestinya menjadi kebanggaan keluarga, malah mempermalukan karena hidup serampangan.  Semuanya berakar dari sikap yang tidak hidup untuk Janji Tuhan.  Karena jika seseorang hidup untuk Janji KedatanganNya, maka ia akan berhati-hati, jangan sampai karena kehidupannya yang egois, serampangan, dan tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai saksi Kristus, maka di hari yang dinantikan itu, justru menerima perkataaan pahit dari Tuhan “Aku tidak berkenan padaMu-enyahlah kamu hai hamba yang tidak setia” – dan berujung pada “kebinasaan.”

maka melalui kebaktian kenaikan Tuhan ini kita dipanggil untuk teguh berjuang ke dalam kehidupan riel di masa kini. Orang-orang yang percaya Kristus semestinya tidak boleh menjadi orang-orang yang mudah menyerah, tidak ulet dan akhirnya gagal dalam perjuangan hidup sehari-hari.
Kembali ke peristiwa para murid yang bengong, Tuhan tidak membiarkan murid-muridNya untuk berlama-lama terbuai melihat kemuliaan:
Act 1:10  Act 1:11  dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naiksorga.”
Tegoran Malaikat Tuhan mengingatkan murid-murid pada JanjiNya: Bahwa Anak Manusia akan datang dalam Awan dan Kemuliaan-Nya”  Hidup pengikut Kristus adalah hidup oleh janji-janji Tuhan.  Tidak ada janji Nya yang tidak ditepati, Ia berjanji untuk datang ke dunia, dan sungguh Yesus lahir, Ia berjanji untuk mati mengganti hukuman dosa manusia dan bangkit pada hari ketiga, itupun terjadi. Ia berjanji memberikan Roh Kudus, itupun terjadi (yang peringatannya akan kita lakukan 10 hari dari sekarang), dan yang terakhir, yang tersisa, Ia berjanji akan datang ke-2 kali dalam kemuliaanNya, untuk menghakimi dunia dan mengangkat kita yang percaya padaNya, dan ini pun pasti terjadi.  Jika selama ini, Yesus yang kita kenal adalah seorang anak tukang kayu, yang nampaknya lemah, sering dihina, bisa dipukul, bisa diludahi, karena ia datang dengan mengosongkan dirinya, melepaskan haknya untuk menampilkan Kuasa dan KemuliaanNya,  maka Pada hari itu, Yesus yang kita jumpai, adalah Yesus yang penuh Kuasa, penuh Kemuliaan, Agung, sama sekali tidak ada kehinaan seperti yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya ketika di dunia, dan saat itu, semua mata di seluruh bumi, dapat melihat Dia, dan tidak ada lagi yang dapat menyangkal bahwa “Sungguh Kristus adalah Tuhan.” – saat itu Kristus akan mengangkat semua orang yang percaya dan  hidup untuk JanjiNya.

Percaya dan hidup untuk Janjinya, berarti mengisi kehidupan untuk melakukan persis seperti FirmanNya, mengisi hidup untuk melayani, menjadi saksi bagi Kristus dalam realita kehidupan kita masing-masing.  Sama seperti yang dilakukan para murid setelah teguran dua orang malaikat, tegoran yang  menyadarkan para murid untuk kembali ke dunia realita agar mereka diperlengkapi oleh kuasa Roh Kudus. Para murid kemudian kembali ke Yerusalem dan melakukan persis yang dipesankan Tuhan Yesus.  Mereka tidak lagi bengong seperti ketika melihat Tuhan Y esus naik ke sorga, atau bingung hingga kembali kepekerjaan lama seperti setelah kematian Tuhan Yesus, tapi mereka bersiap-siap,  para murid berkumpul sehati-sepikir dalam doa (Kis. 1:14). Mereka berdoa bersama-sama dengan membuka ruang hati mereka untuk dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus. Ini berarti para murid akhirnya telah berhasil meninggalkan obsesi mereka untuk pemulihan kerajaan Israel dan idealism diri yang dibangun dalam dunia imaginer mereka. Ketika kita berhasil melepaskan semua obsesi terhadap berbagai keinginan dan idealisme diri, maka sesungguhnya kita telah membuka ruang yang semakin lebar bagi pekerjaan Roh Kudus.

Kegagalan kita untuk menjadi saksi Kristus karena ruang (space)  yang kita sediakan bagi Tuhan dan karyaNya terlalu sempit. Selama “inner space” (ruang hati) kita sangat sarat dengan berbagai keinginan dan cita-cita dunia, maka kita akan menghalangi/menutup semua pintu dan akses bagi pekerjaan Tuhan dalam kehidupan kita.  Namun sebaliknya ketika kita mampu melepaskan diri berbagai obsesi yang duniawi, bersedia untuk hidup yang dilandasi oleh penyangkalan diri dan kerelaan untuk dipakai oleh Tuhan; maka kita dimampukan untuk menjadi saksiNya yang hidup.  Bahkan yang melegakan kita dipakai dan dilengkapi oleh Tuhan karena kuasaNya, yaitu Roh Kudus. Dengan kuasa Roh Kudus tersebut kita dimampukan untuk menjadi berkat bagi sesama di sekitar kita. Berkat keselamatan Tuhan tersebut  kita nyatakan kepada sesama dan orang-orang di sekitar kita dengan cara mengkomunikasikan kasih Tuhan dan pengampunan di dalam nama Kristus. Ketika orang-orang di sekitar kita mulai dari yang terdekat sampai yang terjauh bersedia hidup dalam pertobatan dan pengampunan, maka pada saat itu terwujudlah Apa yang Tuhan Yesus Mau. Karena tujuan utama dari kenaikan Tuhan Yesus ke surga adalah memampukan para murid untuk menerima kuasa Roh Kudus sehingga mereka mampu mewujudkan kehadiran Kerajaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.  Jika demikian, bagaimanakah dengan kehidupan saudara? Apakah kita sekarang bersedia untuk menjadi saksi Kristus yang terus-menerus mengkomunikasikan kasihNya kepada para anggota keluarga, sesama yang kita jumpai dalam pekerjaan, para anggota jemaat, orang-orang yang tinggal bersama dalam lingkungan tempat tinggal kita? Tuhan pasti akan melengkapi kita dengan kuasaNya, yaitu Roh Kudus. Amin.

* pernah dikhotbahkan di Kebaktian Umum GKIM Tasikmalaya tahun 2008.
penulis: Ev. Heren

Renungan dari Mazmur 12


Renungan  dari Mazmur 12

by. Heren.

(12-2) Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.

(12-3) Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang.

(12-4) Biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar,

(12-5) dari mereka yang berkata: “Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?”

(12-6) Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya.

(12-7) Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.

(12-8) Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya, Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini.

(12-9) Orang-orang fasik berjalan ke mana-mana, sementara kebusukan muncul di antara anak-anak manusia.

“Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis” – ketika pertama kali membaca ayat ini, respons saya adalah

  1. “sungguh ini adalah perkataan yang sangat spontan dan jujur dari seorang anak Tuhan”.  Dalam dunia tempat kita hidup ini, anak-anak gelap lebih banyak jumlahnya daripada anak-anak terang.  Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia akan mengutus murid-muridnya seperti domba di tengah-tengah srigala.  Maka dari itu, ketika seorang anak Tuhan sedang bergumul dan berjuang untuk hidup taat dan lurus sesuai Firman Tuhan, banyak sekali tantangannya, banyak cemooh, banyak pelecehan, banyak dorongan untuk menariknya keluar dari jalan yang lurus.  Itulah kondisi yang dihadapi oleh pemazmur.  Mungkin sebagian orang bisa berpikir, Pemazmur terlalu berlebihan/hiperbola menilai lingkungannya bahkan menuduh si pemazmur berbohong dengan perkataan “sebab orang saleh telah habis” – dan berharap si pemazmur bisa berpikir lebih positif dan lebih jujur lagi. Tetapi sekali lagi, ungkapan pemazmur ini adalah ungkapan yang paling jujur, karena sejauh matanya sanggup memandang, memang di sekitarnya sudah tidak ada lagi orang yang saleh yang turut bersama-sama dengan dia dalam pergumulan iman. Konteks pembicaraan pemazmur bukan orang-orang di bagian bumi yang lain yang tidak dia kenal, pemazmur sedang bicara tentang orang-orang riil di sekelilingnya yang menindas dan menekan diri pemazmur sebagai anak Tuhan, dengan menggunakan senjata bibir.  Pemazmur melihat bahwa ada bahaya yang sangat mengancam dari prilaku orang-orang disekilingnya, ay.3b: mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang, dalam prakteknya bisa dikatakan bahwa mereka memakai perkataan bibir yang manis untuk menipu, untuk menekan mental orang lain, dan untuk menghasut, yaitu segala sesuatu yang tujuannya adalah untuk menghancurkan.  Dari ayat 2 dan 3 kita melihat kontras antara pemazmur dan orang-orang fasik di sekelilingnya: Pemazmur berkata dengan spontan dan jujur,tapi orang-orang fasik di sekelilingnya berkata dengan penuh rencana busuk dan penuh dusta, dusta terhadap orang lain sekaligus dusta terhadap diri sendiri. Aplikasi: Sdr, kita sebagai anak Tuhan dituntun untuk menjadi orang-orang yang jujur di hadapan Tuhan, tapi sayangnya dunia, khususnya di jaman sekarang ini, mengembangkan dusta menjadi sebuah cara hidup sehari-hari.  Bahkan ada teori yang diseminarkan dan diajarkan untuk mencoba mempositifkan segala sesuatu, hal dosa pun dituntut untuk dilihat secara positif dengan tujuan agar hidup bisa dijalani dengan lebih nyaman, tanpa tertekan oleh rasa bersalah.  Inilah penyesatan yang diajarkan pada manusia jaman ini, tapi betapa banyak orang Kristen yang menerimanya bahkan ngotot menerapkannya pada orang lain?  Dosa adalah dosa, tidak bisa dipositifkan menjadi sebuah kesalahan/perbedaan cara semata. Sdr, setiap usaha untuk memutar balik kenyataan kebenaran adalah dosa, dan cara hidup seperti itulah yang membuat tidak banyak orang yang dalam hatinya menjerit secara spontan dan jujur pada Tuhan, mereka menerima dosa dengan santai, tanpa pergumulan, seperti orang-orang fasik di sekeliling Daud, sang pemazmur.  Maka perenungan pertama yang menjadi PR kita untuk terus dikerjakan setiap hari sejak hari ini adalah: Apakah kondisi kita seperti Pemazmur yang jujur, atau seperti orang-orang disekeliling pemazmur yang menipu diri sendiri dan orang lain?
  2. respons kedua saya dari perenungan ayat 2 adalah “Pemazmur menilai dirinya dengan tepat – yaitu sebagai orang yang lemah dan butuh pertolongan Tuhan”.  Di tengah keganasan tipu daya orang-orang fasik disekelilingnya, pemazmur tidak mencoba untuk mengatasi sendiri kondisinya, tapi minta tolong pada Tuhan, Pemazmur mengandalkan Tuhan.  Ay 4 dan ay. 5 menunjukkan kekontrasan sikap Pemazmur.  Di ayat 4 pemazmur menyatakan Tuhanlah yang akan mengalahkan orang-orang fasik dan penipu tersebut, sementara ay. 5 menunjukkan orang-orang fasik merasa bahwa kemenangan ada di tangan mereka karena memiliki kemampuan berkata-kata/bersilat lidah.  Ini pun sikap menipu diri sendiri dari orang-orang fasik, dan ini tidak akan lama karena Tuhan tidak berdiam diri, Tuhan tidak membiarkan manusia memegahkan diri.  Ay. 6 pernyataan Tuhan yang menyatakan pembelaanNya terhadap Pemazmur, si orang benar yang berada dalam posisi ‘lemah’.  Tuhan memberi keselamatan pada orang yang menghauskannya (ay.6c).  Ia memenuhi janjiNya karena janjiNya itu murni, dan inilah janji itu: Tuhan akan senantiasa menjaga kami (yaitu orang-orang yang taat mengikut Tuhan) terhadap angkatan yang jahat.  Saya yakin kita pernah mendengar ungkapan ini: ketika kita turun tangan- Tuhan angkat tangan, ketika kita angkat tangan- Tuhan turun tangan.  Ini adalah ungkapan yang dapat menyimpulkan perenungan kedua kita hari ini: bahwa uluran tangan Tuhan adalah bagi mereka yang menyerah, mengakui kelemahannya dan menyatakan dirinya membutuhkan Tuhan.” – Apakah kita ingin mendapatkan uluran tangan Tuhan yang menolong dan menjaga kita?  akui kelemahan kita di hadapan Tuhan, dan andalkan Tuhan sepenuh diri kita.      Amin.

Renungan dari Mazmur 13


Renungan dari Mazmur 13

Penulis Heren

Ketika saya kecil, saya pernah dibawa jalan-jalan ke  sebuah pulau kampung halaman orang tua saya. Pada waktu itu saya diajak ke sebuah tempat yang diyakini ada dewanya, di sana kami dilarang untuk sembarangan bicara dan bertindak, dilarang ngomong apa adanya, harus diam.  Ketika menjadi seorang Kristen, saya sangat bersyukur karena Alkitab mengajarkan bahwa kita boleh mencurahkan isi hati kita apa adanya di hadapan Tuhan.  Sebagai seorang Kristen saya mendapat ijin  dan kesempatan dari Tuhan untuk dikoreksi ketika isi pikiran yang kita curahkan  itu salah, dan mendapat kekuatan jika itu sungguh benar.  Daud mencurahkan isi hatinya, atau lebih tepat ia mengeluh dengan penuh emosi:

(13-2) Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?

(13-3) Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

(13-4) Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,

(13-5) supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.

(13-6a) Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu.

(13-6b) Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Apa yang dikeluhkan Daud: (a)  Daud merasa Tuhan meninggalkannya, ia merasa terpisah dari Tuhan.  Sdr, tidak ada yang lebih menakutkan bagi anak Tuhan selain saat ia melihat bahwa dirinya terpisah dari Tuhan.  Puncak penderitaan Tuhan Yesus di kayu salib adalah saat ia menjerit “Eli-Eli Lama SAbakhtani” – Allahku-Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?”  Hidup anak Tuhan adalah hidup yang bergantung dan lekat pada Tuhan, jadi jika hubungannya dengan Tuhan menjadi jauh apa lagi terpisah, itu adalah sebuah siksaan terberat.  Sebagai apllikasi bagi kita saat ini: Mari kita lihat hubungan kita dengan Tuhan dan perasaan kita saat ini, jika hubungan kita dengan Tuhan saat ini memburuk/menjauh, kita sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Tuhan secara hati-kehati (selain dari rutinitas) dan kita tidak merasa apa-apa, kita patut memberi tanda awas pada diri kita, karena anak Tuhan tidak akan pernah tenang jika hubungannya memburuk dengan Tuhan.

Saat Daud menjerit adalah saat-saat dimana ia sudah cukup lama bersabar menanti jawaban Tuhan, menanti ada sinar cerah masuk menerangi segala problem yang dihadapinya.  Namun sampai saat itu Tuhan seakan masih “menahan “kebaikanNya” dan pertolonganNya bagi Daud.  Karena itu Daud menjerit “berapa lama lagi , Tuhan Kau lupakan aku terus menerus.

Hal ke-2  yang dikeluhkan Daud adalah: perasaannya sendiri yang kuatir, yang dilanda kesedihan yang mendalam,- Daud menyadari bahwa ia sedang kuatir dan sedih.  Kekuatiran dan kesedihan itu sendiri adalah menjadi sebuah masalah tersendiri selain penyebab rasa kuatir dan sedih itu sendiri, karena itu Daud mengeluhkan dan membawa rasa kuatir dan sedih itu dihadapan Tuhan.  Agar Tuhan menyelesaikannya.  Berapa kali kita membawa kesedihan dan kuatir kita dihadapan Tuhan?  Atau kita lebih suka mengatasi kesedihan dan kuatir itu dengan cara yang kita sendiri yang sia-sia.  Di jaman sekarang, ada banyak cara yang ditawarkan untuk membuang kesedihan dan kekuatiran, ada diskotik bagi anak muda, ada minuman keras dan obat terlarang untuk menghilangkan beban kuatir, ada sarana “curhat” lewat sms/chatting di internet, atau kumpulan PKK/arisan untuk bisa bersenang bersama, tapi semua itu hanya sementara, tidak memberikan solusi dan kelegaan sejati.  Kita memiliki Tuhan tempat mengadu dan bisa memberikan jawaban, mengapa masih mencari yang lain yang sia-sia?

Dan hal ke-3 yang dikeluhkan Daud adalah :tekanan oleh musuh yang meninggikan diri atasnya.  Daud menyadari bahwa depresi yang dialaminya pasti terlihat jelas dari matanya, orang yang depresi menunjukkan sinar mata yang suram, dan Daud menyadari betapa jika hal ini sampai ketahuan dan terlihat oleh musuhnya, maka akibatnya musuhnya merasa menang.  Sampai pada keluhan yang ketiga ini, tiba-tiba Daud menjadi tersadar.  Kalau musuhnya menang, berarti Daud kalah, Kalau Daud kalah, berarti Tuhannya lah yang kalah, dan hal itu tidak mungkin terjadi!!  Tuhan tidak mungkin kalah, itu sebabnya Tuhan tidak akan lebih lama lagi membiarkan semua kondisi itu berlangsung, Daud seakan langsung dibangkitkan keyakinanannya, bahwa Tuhan akan menunjukkan kemenanganNya sebagai Tuhan Daud, artinya problem yang sedang dan sudah lama dihadapinya akan segera berakhir/terselesaikan.

Karena itu, sebelum masalahnya selesai, sebelum musuhnya benar-benar dikalahkan, sebelum Tuhan berbuat sesuatu terhadap tekanan musuhnya, Daud segera di ayat 6 menyatakan keyakinannya “kepada kasih setiaMu aku percaya”- dalam hal ini Daud yakin Tuhan tidak akan mempermalukan diri Tuhan sendiri dengan memberikan kemenangan pada musuh Daud,yaitu mereka yang membenci dan menertawakan Tuhan.  Sebelum semua masalahnya sungguh-sungguh teratasi, DAud bahkan sudah bisa bersorak karena penyelamatan Tuhan yang dia yakini segera datang.  Di sini kita belajar, rasa syukur berkaitan dengan iman.  Syukur tidak baru diberikan ketika ada solusi, syukur tidak baru diberikan ketika problem teratasi, tetapi syukur yang sejati diberikan setiap saat dengan iman bahwa Tuhan akan menyatakan pertolongan/penyelamatannya bagi kita.  Daud yakin, jika selama ini ia telah mengalami kebaikan Tuhan, maka Tuhan pasti akan tetap melakukan itu kembali karena Ia Tuhan yang setia.  Dengan demikian, Tidak perlu menunggu lama, setelah selesai mengeluh pada tempat yang benar, yaitu pada Tuhan, 2 hal yang Tuhan kerjakan bagi Daud, memberikan sukacita, dan membuat matanya kembali bercahaya,

Saya senang membaca dan merenungkan kitab Mazmur, karena dari sini kita belajar, bahwa anak-anak Tuhan punya tempat untuk mencurahkan isi hatinya secara tepat, bahkan setelah mengeluhkan hal-hal negative pun, Tuhan memberikan cahaya di hati anak-anak Tuhan bahwa kita  masih tetap bisa menaruh harapannya pada Tuhan, dan dapat menikmati sukacita sebelum melihat penyelesaian yang tuntas atas problema kita, karena sebuah iman.  Berbahagialah kita yang menaruh harapan dan keluh kita pada Tuhan.

Renungan dari Mazmur 14


Renungan dari Mazmur 14

Penulis: Heren

Beberapa waktu lalu teman saya bercerita bahwa toko-toko buku Kristen di Jakarta sedang ramai-ramainya menjual lukisan yang menggambarkan jalan sempit dan jalan lebar, jalan sempit adalah jalan yang ditempuh anak-anak Tuhan, dan jalan lebar orang-orang duniawi yang biasanya disebut Tuhah “anak-anak manusia”.  Mazmur 14 juga berbicara tentang 2 macam orang tersebut,

Psa 14:1 Untuk pemimpin biduan. Dari Daud. Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah.” Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.

14:2  TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.

14:3  Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.

14:4  Tidak sadarkah semua orang yang melakukan kejahatan, yang memakan habis umat-Ku seperti memakan roti, dan yang tidak berseru kepada TUHAN?

14:5  Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, sebab Allah menyertai angkatan yang benar.

14:6  Kamu dapat mengolok-olok maksud orang yang tertindas, tetapi TUHAN adalah tempat perlindungannya.

14:7  Ya, datanglah kiranya dari Sion keselamatan bagi Israel! Apabila TUHAN memulihkan keadaan umat-Nya, maka Yakub akan bersorak-sorak, Israel akan bersukacita.

ayat 1-4 pemazmur menceritakan khusus tentang anak-anak manusia, khususnya tentang dosa dan kerusakan total manusia.  Pemazmur menyebut  anak-anak manusia yang duniawi sebagai orang-orang yang bebal.

  • ‘Orang bebal berkata dalam hatinya: “tidak ada Tuhan”’: Pemazmur menyebut orang-orang yang berhati ateist sebagai orang bebal. Ateist yang dimaksud di sini bukanlah orang yang tidak percaya ada Tuhan, tapi ateist yang dimaksud di sini adalah mereka yang tidak menjadikan Tuhan sebagai miliknya, yang mengabaikan kehendak Tuhan. Ateisme yang dimaksud di sini adalah mereka yang tidak menganggap Tuhan itu penting dalam hidup mereka, yang menyangkali campur tangan dan kekuasaan Tuhan atas hidupnya dan tidak mau bergantung sama sekali pada Tuhan. Ini menggambarkan penolakan secara sembunyi-sembunyi terhadap Tuhan,
  • Mathew Henry seorang peneliti dan penafsir Alkitab menyebut hati ateist ini sebagai sebuah wabah.  Wabah ini adalah wabah yang menyebar bukan hanya diluar kalangan Kristen, tapi juga sampai di kumpulan anak-anak Tuhan, seorang lain yang bernama Gaeblein menggambarkan orang itu adalah mereka yang duduk dalam jemaat yang mimic/prilakukanya mirip dengan orang beriman, tapi dirinya  yang asli: dari dalam hatinya, menunjukkan sikap ateisme yaitu mengabaikan Tuhan, hukum-hukumNya, dan umat pilihanNya.  Gaeblein menyebut orang ini sebagai humanist/secularist, yaitu orang-orang yang mengandalkan kamanusiaan /dirinya sendiri.  Perkataan hatinya “tidak ada Tuhan” itu ketahuan dari ekspresi hidupnya yang tidak kudus lewat tindakan-tindakan amoral. Dan Tuhan menyebut orang itu sebagai orang bebal.
  • Lawan bebal adalah berhikmat.  Seseorang disebut berhikmat ketika ia mau takut akan Tuhan menyandarkan  hidup pada Kekuasaan Tertinggi) – dan sebaliknya ia disebut bebal ketika ia bersikukuh tidak mau takut pada Tuhan, dan mau mengandalkan kekuasaan palsu dan fana dari dirinya sendiri atau dari si jahat, padahal ia sudah mendengar Firman/hukum Tuhan. Billy Graham, seorang pengkhotbah terbesar di jaman ini, selalu memberikan tantangan KKR-nya dengan kalimat yang kira-kira demikian “mana yang adalah dirimu, orang berhikmat atau orang bebal?  Orang berhikmat mau taat pada Firman dan percaya pada Yesus, tetapi orang bebal tetap menolak Dia di hatinya dan mengandalkan diri sendiri.  Maka, setiap kali kita diperhadapkan pada tuntutan untuk melakukan Firman Tuhan secara taat tapi kita berat untuk melaksanakannya dengan utuh, maka pertanyaan ini juga yang perlu diajuka pada kita, kita termasuk orang berhikmat atau orang bebal? Orang berhikmat maut taat, orang bebal menolak untuk taat.

Dalam relasinya dengan orang-orang benar/anak-anak Tuhan, kebencian para orang bebal pada Tuhan menghasilkan tindakan penganiayaan terhadap anak-anak Tuhan, ay.4 menyebut mereka sebagai orang yang memakan habis umat-Tuhan seperti memakan roti, dan yang tidak berseru pada Tuhan.  Arti ayat ini:  Orang-orang yang tidak punya pengenalan akan Tuhan ini, mengabdikan diri untuk menjadi budak perkerja kejahatan.  Mereka sendiri sebenarnya bukan orang yang tanpa tekanan hidup atau tanpa kelemahan, tetapi hati yang menolak Tuhan membuat mereka tidak bisa berteriak minta tolong pada Tuhan untuk menguatkan mereka, akibatnya mereka memakai cara memakan orang lain yang lebih lemah, supaya dirinya terlihat kuat.

Namun akan tiba saatnya orang-orang seperti ini akan mengalami keterkejutan besar, saat Tuhan mendatangi mereka.  Bahasa aslinya adalah mengalami rasa takut yang besar pada Tuhan, apa yang mereka tidak mau taruh di hati mereka sejak awal, yaitu takut akan Tuhan, itulah yang akan Tuhan buat pada mereka dengan terpaksa.  Mereka akan diperhadapkan pada Kekuatan Tuhan yang melindungi umatNya yang tertindas.  Pada hari itu, semua orang bebal/ateist/tidak takut Tuhan ini tidak bisa mengelak lagi, karena Kuasa Tuhan akan nyata di hadapan mereka, puncak dari semua ini adalah pada saat Kedatangan Kristus yang kedua, dimana semua lidah akan mengaku, semua lutut akan bertelut, tidak ada lagi yang dapat menyangkali Dia.

Sesungguhnya bagian Mazmur ini  memperlihatkan dan menubuatkan penganiayaan terhadap orang benar, tetapi ini bukan untuk membuat kita menjadi takut, melainkan semakin beriman dan yakin bahwa Tuhanlah yang menjadi perlindungan bagi anak-anakNya selama-lamanya.   Amin.

Hasil Doa: Apakah Merupakan Ukuran Tingkat Kerohanian Seseorang?


Hasil Doa: Apakah Merupakan Ukuran Tingkat Kerohanian Seseorang?

penulis: Heren

Markus 9:22-25

Sdr, Dalam berbagai kisah penyembuhan orang sakit dan kerasukan, pada umumnya kita melihat ada 2 modal yang dibawa orang pada Yesus ketika mereka minta sesuatu daripadaNya: PENGHARAPAN DAN IMAN. Pengharapan bahwa Yesus mau menyembuhkan mereka, dan Iman bahwa Ia Sanggup menyembuhkan mereka.  Akan tetapi kisah yang kita baca ini berbeda:  Bagian perikop ini bercerita tentang seorang ayah yang punya anak yang kerasukan setan.   Sang ayah sudah membawa anak itu pada murid-murid Yesus untuk disembuhkan, ternyata murid-muridnya gagal.  Jadi sang ayah mencari guru mereka, yaitu Yesus, untuk meminta pertolongan yang sama.  Laki-laki yang datang pada Yesus itu berkata Ayat 22b “jika Engkau dapat berbuat sesuatu – tolonglah kami dan kasihanilah kami” Laki-laki ini  berharap Yesus mau menyembuhkan anaknya, tapi tidak percaya Yesus mampu menyembuhkan anaknya.  Ia hanya Harap-harap cemas “mudah-mudahan Tuhan Yesus mampu menyembuhkan.”

Mungkin bagi kita agak janggal, mengapa ia tidak percaya pada Yesus padahal Tuhan Yesus sudah membuat begitu banyak mujizat penyembuhan, lalu mengapa  ia datang pada Yesus kalau tidak percaya.  Inilah yang terjadi:

-          laki-laki/sang ayah ini punya suatu kebutuhan yang besar, butuh pertolongan bagi kelepasan anaknya dari kerasukan.

-          Berbagai usaha sudah dilakukannya agar anaknya bisa sembuh, karena anak itu sudah bertahun-tahun kondisinya demikian..

-          Tapi semua usahanya itu gagal, termasuk usaha mendapatkan pertolongan dari murid-murid Yesus pun gagal.

-          Dengan penuh rasa pengharapan, ia berharap Guru dari murid-murid yang gagal itu bisa menyembuhkan anaknya.  Tapi imannya sudah tidak utuh oleh karena kegagalan demi kegagalan yang dialaminya, terutama oleh kegagalan murid Yesus.  Setelah murid-murid gagal menolongnya, apakah mungkin sang guru ini dapat menolongnya?

-          Karena itu ia berkata “Jika Engkau dapat – berbuat sesuatu bagi kami ….. jika Engkau dapat … tolong dan kasihanilah kami.”

-          Kata-katanya benar-benar meragukan kemampuan Yesus.  Jelas bahwa ia tidak beriman pada Kuasa Tuhan Yesus yang mampu menyembuhkannya.

Karena itu Tuhan Yesus menegur ketidakpercayaannya dengan keras.

Tepat setelah ditegor ayah tersebut langsung mengatakan :Ya aku percaya.  Tapi langsung disambung dengan kalimat yang berlawanan – tolonglah aku yang tidak percaya ini” – membuat orang bingung: mana yang benar?  Dia percaya atau tidak percaya? Apakah ia berbohong saat berkata aku percaya? Lalu dengan cepat mengoreksi kalimatnya tersebut?

Sdr, sebenarnya tidak ada kebohongan dalam perkataan laki-laki tersebut.  Saat mengatakan Ya, aku percaya, laki-laki ini menyatakan suatu kemauan/tekad untuk percaya demi kesembuhan anaknya, tapi ia pun mengakui bahwa imannya itu masih jauh dari sempurna, tidak utuh, masih bercampur dengan rasa tidak percaya.  Untuk itu ia dengan rendah hati memohon pertolongan Tuhan Yesus untuk mengatasi rasa tidak percayanya, sebuah tindakan yang tepat.

Jelas sekali, dalam peristiwa ini, laki-laki tersebut tidak cukup beriman pada Yesus saat mengajukan permohonan, tapi Tuhan Yesus malah menjawab dan memenuhi permohonannya.  Tuhan Yesus mengusir setan dari anaknya.  Tuhan Yesus menyembuhkan anak itu. Tujuannya, agar ia lebih percaya.  Agar imannya bertumbuh dalam iman. Karena Yesus menyadari bahwa dengan memenuhi doanya maka imannya akan dikuatkan.  Jadi, doanya dijawab bukan karena ia sudah punya iman yang sempurna tapi supaya imannya makin sempurna.

Melalui kejadian ini ada 2 kita perlu tanamkan dalam diri kita:

1. Bahwa Hasil Doa tidak bisa sepenuhnya dipakai untuk menilai kualitas rohani seseorang.

Sdr, saat ini banyak orang menilai kualitas  rohani seseorang dari HASIL doanya.  Kalau doanya berhasil, berarti dia punya kualitas iman yang baik. Kalau tidak terjawab MAKA ia akan dituduh kurang beriman, atau saat itu ia sedang tidak beriman.

Akan tetapi kisah yang kita baca hari ini memperlihat sesuatu yang berbeda dari pandangan umum orang:

Sang ayah dari anak yang kerasukan itu dijawab permohonannya sekalipun imannya masih sangat tipis, peristiwa ini mirip dengan Petrus yang ditolong Tuhan saat tenggelam di laut Galilea karena tidak cukup iman saat berjalan di atas air bersama Yesus. Tuhan Yesus menjawab permohonannya, tapi juga menegurnya karena tidak percaya.

Ternyata DIPENUHINYA DOA SESEORANG BUKANLAH UKURAN KUALITAS IMAN SESEORANG.

Entah ada atau tidak di antara kita yang hadir saat ini yang selama ini berpikir kalau ada orang doanya tidak dijawab atau dijawab “tidak” oleh Tuhan, maka ia adalah orang yang tidak beriman, kiranya pada hari ini kita meninggalkan konsep yang demikian.  Karena cara berpikir ini akan membuat kita menjadi seorang penuduh yang kejam terhadap orang lain yang sedang bergumul dalam doanya.

Hal kedua yang perlu kita tanamkan:

2. Hasil doa bukan tujuan akhir dari pertumbuhan iman seseorang.

Jika Hasil doa adalah tujuan akhir dari pertumbuhan iman seseorang maka setelah anak yang kerasukan itu disembuhkan, maka sang ayah stop imannya sampai di tahap yang lemah itu.  Dan Petrus juga, setelah diselamatkan dari air tidak akan bertumbuh lagi. Cukup sampai di sana, karena doanya sudah dijawab. Hasil doa bukan tujuan akhir dari pertumbuhan iman kita sebagai orang Kristen. Justru itu merupakan awal dari langkah pertumbuhan kita yang berikutnya.  Menuju tingkat rohani yang lebih tinggi lagi.

Namun banyak  orang Kristen cukup puas pada hasil doanya dan tidak mau bertumbuh lagi. Saat sedang ada masalah begitu tekun berdoa.  Setelah masalah selesai mulai jarang berdoa, bahkan tidak berdoa lagi selain doa makan dan doa tidur.  Saat usahanya goyang, saat dipecat, rajin sekali ke gereja, ikut berbagai kebaktian – semua kebaktian diikuti – ikut pelayanan, nggak bisa nyanyi pun ikut pelayanan koor, rajin sekali.  Tetapi setelah usahanya mantap lancar, setelah dapat pekerjaan, ke gereja pun sebulan sekali, sibuk bisnis.  menjadikan hasil doa sebagai tujuan akhir pertumbuhan kita sama saja dengan kita  mencintai berkat Tuhan lebih daripada Tuhan sang pemberi berkat itu sendiri.

Sdr, hasil doa bukan tujuan akhir hidup orang Kristen, seandainya demikian, maka Paulus, sang rasul besar yang kita kagumi itu adalah orang yang gagal.  Karena doanya agar Tuhan mengambil duri dalam dagingnya tidak pernah dikabulkan Tuhan.

Tujuan akhir hidup seorang Kristen adalah beroleh kebenaran sejati , kebenaran sejati itu yang seperti apa? Yaitu seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam Filipi 3:10 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Ini tujuan akhir pertumbuhan hidup orang Kristen. Sebuah pengenalan akan Tuhan, persekutuan pribadi dengan Tuhan, dan kemenangan dari kuasa maut.

Hasil doa mestinya menuntun kita pada tingkat pengenalan yang lebih tinggi pada Tuhan.  Setelah sang anak dilepaskan dari kerasukan, sang ayah masuk ke tingkat pengenalan yang lebih tinggi: Yesus sungguh-sungguh punya kuasa untuk menyembuhkan DAN imannya ditambahkan.  Setelah diselamatkan dari air, Petrus masuk ke tingkat pengenalan yang lebih tinggi, bahwa Yesus adalah Tuhan penguasa alam yang sesungguhnya, ia adalah mesias, penolong yang sesungguhnya.  Setelah Paulus dijawab doanya: “tidak lepas dari duri dalam dagingnya” (suatu penyakit tertentu yang dideritanya) Paulus makin mengenal kehendak Tuhan atas dirinya: bahwa ia tidak boleh meninggikan dirinya – hanya Tuhan yang patut ditinggikan.

Bagaimana dengan kita, apakah setelah doa kita dijawab kita makin bertumbuh dalam pengenalan kita pada Tuhan?  Seorang Kristen yang masih bayi rohani agar berlaku anak-anak secara rohani: “yang ia minta adalah kebutuhan dirinya sendiri” – ketika ia mulai tumbuh agak besar, ia mulai melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa orang-orang sekelilingnya pun punya kebutuhan, dan “ia mulai mendoakan teman-teman dan keluarganya”, semakin matang ia sudah punya visi, melihat dunia dan kebutuhannya “ia berdoa untuk hal-hal yang penting untuk pekerjaan Tuhan secara luas – seiring dengan doa bagi lingkungan, keluarga dan dirinya sendiri” Adalah menyedihkan jika seorang yang sudah menjadi kristen bertahun-tahun doa pribadinya selalu itu-itu saja :”untuk pilek, punggung sakit, ekonomi” selalu hal yang sama, tak pernah mendoakan orang lain, negara dan dunia secara pribadi. Kebanyakan orang kristen tidak pernah mendoakan negaranya atas beban pribadi, inisiatif sendiri, hanya berdoa di gereja saat pemimpin memberikan pokok doa bagi negara.  Saat melihat kejadian, ancaman dan bencana di TV-pemboman – puluhan orang terluka parah -  banyak orang  yang menjadikannya sekedar berita, namun tidak terbeban berdoa bagi mereka yang sedang sangat membutuhkan pertolongan Tuhan saat itu. Doa-doa pribadi kita selalu sama, untuk diri sendiri,  Tak ada pertumbuhan, senantiasa bayi.  Jika demikian, Tuhan pasti sedih, karena Tuhan ingin kita bertumbuh melalui doa kita.   Mari kita bertumbuh seiring dengan berkembangnya kehidupan doa kita. Kiranya Tuhan menolong kita.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.