ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN 3: DIKENAL OLEH TUHAN


Penulis: Heren

Lukas 16:24-31

Kisah ini menunjukkan beberapa kontras antara dua orang, orang kaya dan Lazarus.  Kontras yang pertama si orang kaya adalah seseorang yang hidup dalam kemewahan dan kelimpahan selama di dunia sedangkan Lazarus adalah seorang pengemis yang miskin.  Kontras kedua: setelah kematian mereka yang bersamaan, si orang kaya masuk ke neraka, dan Lazarus masuk ke sorga.  Kontras ketiga, si orang kaya hanya disebut sebagai “si orang kaya” saja dalam kisah Yesus, tanpa nama, sementara si miskin disebutkan namanya: Lazarus. Pada perenungan kali ini kita hanya akan membahas kontras ke-3 ini.

Apa artinya sebuah nama di hadapan Tuhan? Nama merupakan merupakan tanda pengenal seseorang.  Kita tidak dapat mengaku-aku diri mengenal seseorang tanpa mengetahui namanya. Kenal tidak sama dengan sekedar tahu.  Kita dapat saja mengetahui ada seorang tukang baso yang selalu lewat di depan rumah kita, namun kita tidak mengenal namanya karena memang kita tak pernah ngobrol atau kenalan dengannya, itu kita namakan sebagai tahu sekali lewat saja.

Di dalam Firman Tuhan berulang kali dicatat Tuhan memberi nama kepada manusia yang dekat denganNya.  Adam mendapatkan namanya langsung dari Tuhan.  Abram dan Sarai diberikan nama baru oleh Tuhan menjadi Abraham dan Sarah setelah mereka menempuh perjalanan iman mereka, Yakub diberi nama Israel oleh Tuhan, Yesus Kristus diberi nama demikian oleh Yusuf sesuai saran TUHAN lewat malaikat, Simon diberi nama Kefas/Petrus oleh Tuhan Yesus.  Di dalam Alkitab hak memberikan nama hanya diberikan kepada pribadi yang lebih tinggi yang bertanggung jawab untuk memimpin dan memelihara.  Adam diberikan hak untuk memberikan nama kepada setiap hewan yang ada di Taman Eden dan semua hewan dalam taman itu ada dalam pimpinan dan pemeliharaan Adam.  Orang tua diberi hak memberi nama kepada anak-anaknya karena anak-anak selama masih belum akil balig berada dalam pimpinan, bimbingan dan pemeliharaan orang tua.  Sekalipun Alkitab hanya memberikan beberapa contoh tokoh-tokoh yang diberikan nama oleh Tuhan langsung, namun kitab wahyu menyebutkan bahwa Tuhan memiliki daftar nama lengkap orang-orang yang ada dalam kitab kehidupan.

Saya yakin bahwa Tuhan Yesus bukannya “tidak sengaja” atau “lupa” sehingga tidak mencantumkan nama si orang kaya dalam kisah ini.  Dengan tidak disebutkan namanya, si kaya digambarkan sebagai orang yang tidak dikenal oleh Tuhan.  Bukan berarti bahwa Tuhan tidak mengenal ciptaannya, tapi kata  tidak dikenal di sini berarti, tidak dianggap keberadaannya, tidak tercantum namanya dalam buku kehidupan, karena dia tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan.  Lazarus disebut dengan jelas namanya, menunjukkan bahwa dia, tidak peduli apa pun kondis lahiriahnya selama di dunia, adalah seseorang yang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, dan Tuhan mengenalnya. Itu sebabnya ia dikenal dengan nama Lazarus, tak hanya sekedar si miskin.

Pepatah dunia mengatakan “harimau mati meninggalkan kulitnya, manusia mati meninggalkan nama”, tergantung pada nama baik atau nama buruk yang ditinggalkannya selaras dengan pola prilaku hidup orang tersebut selama di dunia, tetap ada nama yang dikenang.  Tetapi kebenaran yang lebih dari itu yang perlu kita ketahui adalah, di hadapan Tuhan nama kita hanya muncul/tercantum/ dan dipanggil jika kita memiliki hubungan pribadi dengan Kristus.  Dia hanya memberikan nama pada mereka yang memiliki kehidupan yang dipimpin, di-rajai,  dan diatur oleh Tuhan.  Artinya, dalam hidup orang itu, kehendak Tuhan menjadi yang terutama dan pimpinan Tuhan menjadi kerinduan hatinya.  Ia tidak berjalan menurut kehendaknya sendiri, tetapi selalu percaya pada Tuhan, bersandar pada Tuhan, dan mencondongkan dirinya untuk taat padaNya.  Hal ini tidak muncul dengan tiba-tiba, melainkan dari sebuah awal, mengenal siapa Kristus, dan percaya kepadanya sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu mulai melangkah dalam perjalanan iman bersamaNya.

Kematian adalah realita, setiap orang akan mengalaminya kecuali mereka yang hidup pada jaman kedatangan Kristus ke-2 kali.  Untuk itu, tidak ada salahnya, bagi kita yang masih hidup dalam dunia, untuk mulai memikirkan, sudahkah kita memiliki hubungan pribadi yang akrab dengan Kristus?  Kenalkah Dia akan nama kita ketika kita kembali padaNya?

Hidup yang Berkualitas di Mata TUHAN


Hidup Berkualitas di Mata TUHAN

Kej 5:6-25 – Fokus: Kej 6:21-26

Penulis : Ev. Heren

6. Setelah Set hidup seratus lima tahun, ia memperanakkan Enos.  …

8. Jadi Set mencapai umur sembilan ratus dua belas tahun, lalu ia mati.

9. Setelah Enos hidup sembilan puluh tahun, ia memperanakkan Kenan. …

11. Jadi enos mencapai umur sembilan ratus lima tahun, lalu mati.

12. Setelah Kenan hidup tujup puluh tahun, ia memperanakkan Mahaleel.

14. Jadi Kenan mencapai umur sembilan ratus sepuluh tahun, lalu ia mati.

15. Setelah Mahaleel hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Yared.

17. Jadi Mahaleel mencapai umur delapan ratus sembilan puluh lima tahun, lalu ia mati.

18. Setelah Yared hidup seratus enam puluh dua tahun, ia memperanakkan Henokh.

20. Jadi Yared mencapai umur sembilan ratus enam puluh dua tahun, lalu ia mati.

21. Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah.

22. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak laki-laki dan perempuan.

23. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun.

24. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

25.  Setelah Metusalah hidup seratus delapan puluh tujuh tahun, ia memperanakkan Lamekh.

27. Jadi Metusalah mencapai umur sembilan ratus enam puluh sembilan tahun, lalu ia mati.

Bagian Alkitab yang baru kita baca  mungkin bagian yang paling tidak favorit – tidak banyak orang yang suka dengan bacaan silsilah seperti ini, sepertinya sangat membosankan, karena berisi nama-nama dan umur mereka.  Namun, dalam kenyataannya, setiap kali mendengar berita wafatnya seseorang yang akan ditanyakan labih dahulu adalah umur dan sebab wafatnya, bukan? Bagian Alkitab ini bukan hanya menceritakan deretan nama dan umur, namun sebuah silsilah yang penting dan menjadi pelajaran bagi manusia hingga saat ini.  Tuhan sengaja menaruh silsilah dalam Alkitab supaya

-          Manusia tahu  asal-usulnya – sebagaimana orang tua ingin anak-anak mengenal mereka, TUHAN terlebih lagi, ia ingin manusia tahu asal usulnya.  Silsilah dalam Alkitab ditulis agar manusia kenal dari siapa mereka berasal, mulai dari siapa orang tuanya, siapa kakeknya, siapa kakek buyutnya, siapa nenek moyangnya – sampai kepada puncaknya, manusia menemukan bahwa mereka berasal dari Tuhan – karena Adam  diciptakan Tuhan. Tuhan ingin dikenal oleh ciptaanNya.  Karena hanya dengan mengenal Tuhan, maka kita bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan tetap setia kepada Tuhan. Fakta Alkitab dan segala jaman mununjukkan bahwa manusia “berbalik” “meninggalkann” Tuhan karena tidak mengenal Tuhan penciptanya dengan baik.  Jadi, ibu-ibu, TUHAN ingin kita mengenalNya dengan baik, yaitu bahwa Tuhan adalah sumber hidup kita.  Dari Dia kita berasal.

-          Silsilah juga, menunjukkan ada rencana Keselamatan yang sangat teliti dari TUHAN untuk manusia, Sejak awal TUHAN telah menentukan siapa-siapa saja masuk dalam daftar keturunan untuk menjadi jalur masuknya Juruselamat – yaitu Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia ini.

-          Dari memahami silsilah saja kita bisa melihat bahwa Tuhan itu sangat Baik, ia tak membiarkan manusia semuanya binasa dalam hukuman kekal karena dosa tapi ia merancang jalan keselamatan bagi manusia. Tuhan tak hanya merencanakan keselamatan bagi manusia, tapi benar-benar “bekerja” dan mempersiapkannya.  Dia Tuhan yang tak sekedar berjanji dan berencana, tapi melaksanakannya juga.

-          Silsilah mengajarkan kita lebih mengenal bahwa Tuhan tepat janji sehingga kita dapat belajar sabar menanti. Antara kelahiran Yesus Kristus dengan Adam jarak waktunya jauh sekali, ribuan tahun, bahkan di dalam silsilah yang kita baca belum ada muncul nama Yesus, nanti di Perjanjian Baru baru muncul.  Waktunya sangaaat panjang, tapi janji itu terbukti ditepati oleh Tuhan.  TUHAN adalah Tuhan yang tepat janji, sekalipun kita harus menunggu dalam waktu yang panjang.

-           Saat ini, TUHAN menjanjikan keselamatan dalam Yesus: Jika kita percaya Yesus Kristus mau tebus dosa kita, Tuhan Yesus mau dan mampu mengampuni kita sekalipun dosa kita begitu besar dan banyak.  Ketika kita percaya hal ini:  maka kita beroleh keselamatan, nama kita tercatat dan tidak bisa hilang sebagai anggota sorga.  TUHAN tepat janji, dan ia ingin kita percaya janjiNya.

-          Hanya saja, setelah menerima janji keselamatan ini, kita tidak langsung dibawa ke sorga – kita masih diberi tanggung jawab melewati umur kita dengan sabar dan terus percaya teguh pada janji Tuhan ini.  Kita diminta untuk sabar dan setia menjaga kekudusan hidup kita hingga Tuhan Yesus dalam kemuliaan dan keagunganNya datang menjemput kita.

-          Jadi bp/ibu, rentetan nama dan umur yang tercantum di dalam silsilah Alkitab yang selama ini kita baca sekilas ternyata menyatakan keinginan Tuhan agar kita mengenalNya dan percaya janjiNya.

-          Dalam Silsilah juga, Tuhan seringkali menunjukkan apa yang Ia suka/apa yang berkenan pada Tuhan – yaitu dengan menuliskan hal-hal spesial. Dari sekian banyak nama yang sudah kita baca, Henokh, ia dicatat dengan  berbeda.  Sementara semua nama lain diberi keterangan dengan pola yang sama: bagi mereka hanya tertulis nama, umur dan nama anak, TAPI khusus pada saat bicara tentang Henokh Alkitab menuliskan sesuatu yang berbeda – BACA ulang ayat 21-24.  Catatan tentang Henokh tak sekedar nama dan umur:  ada 2 catatan penting tentang Henokh, yang hanya ditulis untuk Henokh, tidak ada pada nama-nama lain dalam silsilah ini. 1. Alkitab menyebutkan bahwa Henokh hidup bergaul dengan TUHAN. 2. akhir hidupnya bukan mati seperti orang-orang pada umumnya,Alkitab mencatat: Ia diangkat TUHAN.   Bp/Ibu yang dikasihi Tuhan, setiap orang punya nama, setiap orang punya umur masing-masing, baik itu panjang atau pendek, tapi tidak setiap orang punya kehidupan yang bergaul dengan TUHAN.  Dunia seringkali mengecoh/menipu kita dengan konsep bahwa keistimewaan hidup seseorang terbukti jika ia panjang umur.  Beberapa kali saya mendapat berita di koran maupun tv tentang orang-orang yang umurnya mencapai lebih dari seratus tahun.  Mereka diliput dan ditampilkan sedemikian rupa istimewa karena telah mencapai umur melebihi manusia pada umumnya.  Akan tetapi, Henokh menjadi istimewa bukan karena panjangnya umurnya – dalam silsilah yang sama ini – Metusalah, anak Henokh, mencapai umur yang paling panjang dalam seluruh catatan silsilah Alkitab yaitu 969 tahun, hampir 1000 tahun! Hampir 10 abad!  Tapi kenyataannya bukan Metusalah  yang ditulis secara istimewa dalam silsilah ini.   Sekalipun umurnya paling panjang di antara para leluhur, tapi cara pencatatan hidupnya oleh Alkitab tetap sama saja format/bentuknya dengan semua nama lain – yaitu nama – umurnya saat punya anak, nama anak, lalu umurnya saat mati. Sama persis dengan nenek moyangnya pada umumnya. Akan tetapi, Henokh, sekalipun tercatat dalam silsilah ini sebagai orang dengan umur terpendek yaitu 365 tahun, ia mendapatkan posisi istimewa di mata TUHAN.

-          Jadi, bukan panjangnya umur yang membuat seseorang itu spesial/istimewa di mata TUHAN.  Henokh menjadi begitu spesial karena kualitas hidup yang dijalaninya- ia bergaul dekat dengan TUHAN.  Kata bergaul dengan TUHAN ditulis 2 kali dalam 2 ayat, menunjukkan betapa kualitas ini sangat melekat pada diri Henokh. “Bergaul dengan TUHAN” dalam bahasa Perjanjian Lama ditulis sebagai “berjalan dengan TUHAN”.  Berjalan bersama merupakan sesuatu tindakan terus menerus, bukan setengah-setengah atau sepotong-sepotong. (kalau berjalan bersama hanya di awal perjalanan itu namanya mengantar sedikit, kalau semula jalan sendiri lalu di tengah jalan berjalan bersama sebentar lalu pisah lagi jalan masing-masing, itu mungkin namanya berpapasan.)  Berjalan bersama yang dimaksud adalah perjalanan hingga ujung jalan hidup tanpa pernah berpisah / saling meninggalkan apa pun yang terjadi.  Dengan cara terus-menerus seperti ini, bertahan dan setia, Henokh bergaul dengan TUHAN seumur hidupnya.

-          Bergaul dengan TUHAN adalah gaya hidup sehari-hari Henokh.  Cara Henokh bergaul dengan TUHAN adalah:  segala tindakan, pola pikir, dan keputusannya sepanjang ia hidup bersumber pada pengenalan Henokh akan TUHAN dan keyakinannya pada janji TUHAN.  Di tengah jaman yang makin rusak dan makin banyak manusia yang jahat, Henokh tetap kokoh pada TUHAN yang ia kenal dan ia percaya janji TUHAN.  Dalam PB,  dalam kitab Yudas 1:14-15, diketahui ternyata Henokh dalam hidupnya bertindak menegor dosa orang-orang di jamannya:

-  yaitu orang-orang yang tidak mau berpegang pada janji Tuhan,

- mereka yang tidak percaya dan tidak bersedia bersabar menantikan janji Tuhan

-sehingga hidup mereka terus diisi dengan gerutu, keluhan, dan menista Tuhan.

- Bp/ibu, menjadi orang benar di antara orang benar bukan sesuatu yang mudah, karena dalam diri kita masing-masing ada akar dosa yang terus mendorong kita untuk hidup dalam daging, TAPI menjadi orang benar di antara begitu banyak orang yang tidak benar/yang hidup sesukanya, itu jauh lebih sulit. Namun Henokh telah bergaul/berjalan dengan TUHAN tanpa pernah berhenti gara-gara pengaruh orang-orang di sekelilingnya.  Ilustrasi;  Beberapa waktu yang lalu saya sempat menegor seorang pemuda Kristen yang saya kenal, karena baru saja mengambil uang perusahaan tanpa sepengetahuan bossnya, uang tersebut semestinya dikeluarkan untuk membayar hotel klien, tapi karena klien tersebut buru-buru ia tidak jadi memakai hotel, maka ia mengambil uang itu bagi dirinya sendiri.  Menurutnya apa yang ia lakukan benar karena semua orang di kantornya melakukan yang sama. Menurut teman-teman seprofesinya, itu bukan pencurian, dan tidak salah selama tidak diketahui boss.  Sementara ita tahu definisi mencuri menurut Firman Tuhan: yaitu mengambil hak/milik orang lain.  Tapi ia lebih suka menerima pendapat lingkungannya dari pada Firman Tuhan.

-          Henokh tidak ikut cara pikir dunia di sekitarnya, ia juga tidak ikut-ikutan bertingkah sama seperti orang sekelilingnya yang tidak benar- sekalipun banyak orang melakukannya dan menganggapnya biasa.

-          Itu sebabnya, Henokh masuk dalam daftar saksi-saksi iman dalam Ibrani 11:5.  Henokh disebut berkenan pada TUHAN – bukan karena jumlah umurnya, tapi karena Kualitas hidupnya, yang bergaul dengan TUHAN,  yaitu dengan cara bertindak, berpola pikir, dan berkeputusan yang bersumber pada TUHAN, yang kita kenali lewat Alkitab.

-          Bp/ibu pada hari ini, dalam suasana dukacita kehilangan …………..yang kita kasihi, mau tak mau kita juga diingatkan kelak kita akan mengalami apa yang Bp/ibu/sdr kita alami, sebuah kematian, meninggalkan tubuh kita dan kembali kepada Tuhan sang pencipta manusia. Bagi almarhum/almarhumah, beliau sudah menyelesaikan jalan hidupnya selama di dunia, namun bagi kita masih ada tanggung jawab, jalan hidup yang harus kita tempuh.

-          Waktu yang telah lewat tidak dapat kita ulang dan perbaiki, namun waktu yang masih tersisa di depan kita memberikan kepada kita sebuah tanggung jawab besar, untuk mengisinya dengan hidup yang berkualitas.  Kualitas dunia menurut standard manusia umumnya adalah nama baik/popularitas, kecantikan/ketampanan, banyaknya materi/harta benda, kesehatan, dan umur yang panjang.  Tapi Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa ternyata apa yang dunia anggap paling penting dan berharga, dimata Tuhan tidak mendapatkan penghargaan tertinggi – TUHAN tidak tertarik pada popularitas kita, TUHAN tidak terpesona pada kecantikan/ketampanan kita, TUHAN tidak tertarik dengan jumlah materi, kesehatan dan umur kita, namun TUHAN tertarik dan memuji manusia yang hidup bergaul dekat dengan TUHAN, seperti Henokh.

-          Saat ini tanggung jawab diberikan kepada kita, apakah kita mau menjadi manusia istimewa dengan cara hidup bergaul dengan TUHAN di sepanjang sisa umur kita, atau kita mau menjadi manusia seperti pada umumnya, yang hidup, tanpa dikenan TUHAN.

-          Biarlah pelajaran dari hidup Henokh dapat mendorong kita untuk menapaki hari-hari di depan kita dengan satu tekad: bergaul dekat dengan TUHAN sampai akhir hidup kita.  Memang tidak mudah menjadi orang yang berbeda, ada rasa tidak nyaman, kadang rasa terancam karena dunia tak menyukai kita, tapi kita tidak berjalan sendiri, karena kita sedang berjalan bersama TUHAN.  Ia akan menghalau serigala yang hendak menerkam kita di setiap persimpangan, ia menampung air mata kita di sepanjang jalan, Ia memberikan peristirahatan dan kelegaan ketika kita mulai lelah, Ia mencegah dan menarik kita kembali ketika kita mulai menyimpang dan bingung.  Mari kita hidup bergaul dekat dengan TUHAN di seluruh jalan kita yang masih harus kita lalui.   ***

(24) Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Kalimat ini sangat penting, karena menunjukkan kemana tujuan hidup seseorang yang bergaul dengan Allah.  Orang yang bergaul dengan Allah akan diangkat/dibawa tinggal bersama-sama dengan Allah.  Dan karena tempat Allah adalah di Sorga, maka ke sanalah tujuan yang akan dicapai orang yang bergaul dengan Allah.

-     Aplikasi: tak cukup hanya berpuas sebagai manusia ciptaan yang istimewa, tapi TUHAN mengharapkan kita memiliki kehidupan yang lebih berkualitas.

Catatan: tulisan ini hanya merupakan isi penguraian Firman Tuhan, pengkhotbah harus menambahkan introduksinya sendiri yang berupa empati dan simpati bagi keluarga, serta menutup isi penjelasan dengan penghiburan dan penguatan bagi keluarga dan sanak yang berduka. Tuhan memberkati

——————————————————–
Anda bisa mendapatkan informasi setiap posting baru blog ini di email Anda dengan cara mengklik follow di halaman depan (home) blog.

Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin 2: Apa yang Merupakan Jaminan Sejati dan yang Bukan


Nats:  Luk 16:24-31

Penulis: Heren

 

 

Dari perikop ini kita melihat 2 orang tokoh, yaitu Lazarus yang miskin dan orang kaya.  Mereka digambarkan sebagai orang-orang yang memiliki kesamaan.  Sama-sama mengenal Abraham, mereka berasal dari satu bangsa, satu nenek moyang yaiu Abraham, mereka “tampkanya” memiliki satu kepercayaan yang sama, satu Tuhan, yaitu Tuhan yang disembah Abraham. Tapi ternyata orang yang sama ini berbeda tujuan setelah mengalami kematian.

 

Lazarus menuju ke Sorga sementara orang kaya tersebut menuju ke Neraka. Perikop ini sama sekali tidak bermaksud mengabsolutkan bahwa semua orang kaya pasti masuk neraka dan semua orang miskin pasti masuk sorga, TIDAK Sama sekali.  Dan tidak ada pemikiran dan pertanyaan  yang seperti itu yang muncul di antara para pendengar Yesus setelah Yesus menyampaikan perumpamaan ini.  Padahal kita tahu diantara orang-orang yang turut mendengar adalah orang Farisi yang sangat kritis, yang selalu mencari-cari kesalahan dan mereka pasti mempertanyakan hal itu jika mereka memahami perumpamaan ini dalam arti yang salah yang saya sebutkan tadi.  Juga diantara murid-murid, mereka polos, banyak hal yang mereka tidak mengerti tapi mereka pun suka bertanya, pertanyaan serupa juga tidak muncul di antara murid Yesus. Berarti, para pendengar Tuhan Yesus pada masa itu, paham bahwa Yesus sama sekali tidak bermaksud mengeneralisasi semua orang kaya masuk neraka ataupun semua orang miskin masuk sorga.

 

Lazarus masuk ke Sorga dan orang kaya masuk neraka menceritakan bahwa jumlah kekayaan manusia di bumi bukan jaminan untuk dapat masuk ke Sorga. Dan setelah kematian tidak ada satu harta duniawipun yang dapat diangkut seseorang turut ke alam baka.  Orang kaya digambarkan sebagai orang yang menderita kehausan, dulunya ia biasa minum dari cawan mewah yang mungkin terbuat dari perak, saat itu, di neraka, jangankan cawan mewah, airpun ia tak punya. Sementara Lazarus duduk dengan tenang dan nyaman di sorga bersama Bapa Abraham. Saat ini pun, banyak orang yang berpikir bisa mengantarkan paket berupa barang-barang duniawi orang yang sudah meninggal dengan cara meletakkan berbagai perhiasan dan benda-benda berharga di dalam peti serta membakar uang-uangan untuk menjadi “bekal” di kekekalan.  Manusia dengan imajinasinya sendiri berusaha mewujudkan pengharapan mereka untuk bisa “menolong” kerabatnya yang telah meninggal dengan cara seperti itu.  Namun ini adalah usaha menjaring angin.  Dunia kita di bumi ini sama sekali berbeda dengan dunia di kekekalan, tak ada satupun yang dapat dibawa ke alam baka selain jiwa dan jaminan keselamatan dari Tuhan (bagi mereka yang telah memilikinya selama di bumi).

 

Kembali kepada kisah Tuhan Yesus: Pikir si orang kaya, ia masih bisa memerintah Lazarus untuk melakukan sesuatu seperti dahulu ia memerintah sebagai orang kaya, ia mengajukan sebuah/ permohonan pada Abraham karena posisi Abraham yang lebih dihormati oleh kedua orang ini.  Orang kaya meminta 2 permohonan, yang pertama adalah supaya Lazarus datang memberikan air bagi orang kaya untuk diminum, seperti layaknya seorang hamba mengantarkan air minum bagi tuannya.

 

- Tapi keadaan sudah berbeda dan tidak bisa berubah, segala kuasa dan kedudukan sudah hilang dari orang kaya, di sana ia bahkan tak bisa memohon apa pun apalagi memerintah Lazarus. Permintaan Lazarus ditolak.  Bukan saja karena orang kaya itu tal lagi punya kuasa, tapi juga karena ada jurang pemisah yang tak terseberangi antara sorga dan neraka.

 

Permohonan kedua dari orang kaya adalah kali ini meminta Bapa Abraham mengutus Lazarus turun ke dunia orang-orang yang masih hidup dan memberitakan Injil dan Kabar Pertobatan bagi anggota keluarga orang kaya yang masih hidup. Si orang kaya sangat takut anggota keluarganya turut menderita sengasara kekal seperti dirinya.

 

Namun permintaan ini pun ditolak, oleh karena di bumi sudah ada nubuat para nabi dan tegoran Firman Tuhan yang menyerukan pertobatan dan janji keselamatan lewat Sang Mesias, yaitu Kristus sebagai jalan keselamatan sejati. Dalam realitanya semasa hidup si orang kaya bersama seluruh keluarganya telah menolak para nabi dan Firman Tuhan yang disampaikan.  Mereka menolak percaya kepada Juruselamat, Kristus yang dinubuatkan para Nabi. Jika kepada orang yang hidup dan punya otoritas seperti para Nabi saja mereka tidak percaya, maka mereka juga tidak percaya pada Lazarus si miskin yang sudah mati. Inilah yang dimaksud Yesus dengan mengatakan “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para Nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh orang yang bangkit dari antara orang mati”.  Lebih dari sekedar tentang Lazarus yang miskin, Tuhan Yesus dalam kalimat ini menyatakan tentang diriNya yang akan bangkit dari antara orang mati, membuktikan diri sebagai Tuhan dan Juruselamat yang berkuasa atas alam maut, namun sekalipun Dia bangkit dari antara orang mati, orang-orang yang keras hati menolak Nubuat Musa dan Para Nabi tersebut, juga menolak Kristus yang bangkit dari antara orang mati.

 

Bagian yang kedua ini menggambarkan, bahwa kita menerima keselamatan jiwa yang kekal karena iman pada Kristus saja, Lazarus dan orang kaya serta sanak keluarga si kaya, sama-sama  keturunan Abraham juga, yang mewarisi janji Abraham dari Tuhan juga.  Namun  garis keturunan dan Lebel “agama”  bukan jaminan semuanya bisa masuk sorga. Siapapun juga tidak akan masuk sorga/selamat jika tidak peduli dengan kesaksian adanya Keselamatan Kekal dan tidak percaya Firman Tuhan/penyataan Tuhan.  Selama masa Perjanjian Lama para Nabi semuanya berfokus pada Kristus yang dijanjikan Tuhan sejak manusia jatuh dalam dosa.  Seluruh nubuatan adalah tentang Kristus, korban bakaranpun adalah lambang penebusan Tuhan Yesus yang pada masa Perjanjian Lama itu belum datang dan baru diwujudkan pada jaman Perjanjian Baru.  Hanya dengan percaya pada Kesaksian dan Penggenapan nubuatan tentang Kristus tersebut manusia beroleh keselamatan.  Mengapa? Karena manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri seperti yang dialami orang kaya dalam kisah ini, juga manusia tidak mampu menyelamatkan sesamanya, seperti yang ditegaskan Tuhan Yesus, Lazarus tak bisa menolong sanak keluarga orang kaya, semua manusia telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Tuhan (Rm 3:23) Hanya Tuhan yang mampu meyelamatkan jiwa kita, namun dengan satu syarat : Jika kita percaya.  Sebab upah dosa adalah maut tapi karunia Tuhan adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita. (Rm 6:23)

 

Hidup Kekal adalah penawaran dari Tuhan lewat Yesus Kristus, penawaran ini diberikan selagi kita hidup. Amin.

 

Catatan: tulisan ini hanya merupakan isi penguraian Firman Tuhan, pengkhotbah harus menambahkan introduksinya sendiri yang berupa empati dan simpati bagi keluarga, serta menutup isi penjelasan dengan penghiburan dan penguatan bagi keluarga dan sanak yang berduka. Tuhan memberkati.

Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin 1: Jurang yang Tak Tersebrangi


Nats                 : Lukas 16:19-31

Penulis             : Heren

Sdr, kisah ini adalah sebuah ilustrasi yang diceritakan oleh Tuhan Yesus untuk mengajarkan dan  memberi tahukan kepada kita, hal yang tak terjangkau oleh kita, yaitu kehidupan sesudah kematian.

Kehidupan sesudah kematian adalah sesuatu yang begitu asing, tidak kita ketahui manusia yang masih hidup.  Misteri tentang “ada apa sesudah kematian” membuat manusia dengan penuh rasa ingin tahu, kemudian menebak-nebak seperti apa itu kehidupan sesudah kematian.  Ada yang mengira kehidupan berakhir di kematian, setelah kematian jiwa dan roh manusia hangus, nihil, kosong tidak ada apa-apa lagi (nihilisme), ada yang berpendapat bahwa tetap ada kehidupan di sana, aktivitasnya mirip seperti di dunia termasuk dalam hal migrasi (perpindahan penduduk),bisa pindah dari neraka ke sorga atau sebaliknya, dan banyak lagi tebakan-tebakan yang dibuat manusia untuk menjawab rasa ingin tahunya tentang kelanjutan hidup manusia sesudah kematiannya.

Tebakan-tebakan seperti itu seringkali menjadi penuntun yang salah dan sangat berbahaya bagi manusia.  Kenapa dikatakan bahaya? Karena penuntun yang salah akan membawa kepada keputusan hidup yang salah pula, padahal keputusan hidup masa kini/selama dibumi akan menentukan kehidupan kita di kekekalan.  Tuhan tidak mau manusia menebak-nebak dan salah melangkah, untuk itu Tuhan memberikan sedikit gambaran yang diperlukan manusia, gambaran tentang kehidupan sesudah kematian.

Pada hari ini kita akan melihat 2 hal penting yang dijelaskan oleh Firman Tuhan  tentang kematian dari cerita ini:

  1. Ada pemisahan antara Surga dan Neraka.

Dalam ilustrasi Tuhan Yesus ini diceritakan bahwa orang kaya yang selama hidupnya berpesta pora dan seorang pengemis, lazarus namanya, yang tinggal di dekat rumah orang kaya itu sama-sama meninggal.  Si kaya masuk neraka dan si Lazarus yang miskin masuk surga.  Ayat-ayat ini sama sekali tidak mengindikasikan bahwa seorang kaya harus/pasti masuk neraka dan orang miskin harus/pasti masuk surga.  Karena ini kisah yang dilontarkan kepada sekelompok orang (Yahudi) yang sudah sangat kuat  dan sangat paham syarat masuk surga, yaitu beriman pada Allah yang Hidup, maka Tuhan Yesus tidak perlu memberikan penjelasan detil tentang hal pada diri  orang kaya yang membuatnya masuk neraka  dan hal  pada diri Lazarus yang miskin yang membuatnya masuk surga. Dengan mengatakan bahwa si kaya masuk neraka dan Lazarus masuk surga cukup membuat pendengar Tuhan Yesus saat itu mengerti bahwa si kaya telah hidup dengan tidak benar di hadapan Tuhan, dan si Lazarus telah hidup dengan benar di mata Tuhan.

Diceritakan bahwa dalam kesakitannya, si kaya melihat ke atas kepada Lazarus yang miskin duduk dengan damai dan senang di pangkuan bapa Abraham di dalam Sorga.  Si orang kaya ini mengajukan permintaan kepada Bapa Abraham agar ia mengutus Lazarus untuk turun ke neraka sebentar guna memberi si orang kaya ini sedikit minum.  Namun hal itu tidak bisa terjadi, karena ayat 26 (baca) :”selain dari pada itu di antara kami dan engaku erbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu atau pun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.”  Ada jurang pemisah yang tak terseberangi antara sorga dan neraka.  Tidak mungkin ada migrasi/perpindahan, dari neraka ke sorga, atau sebaliknya.  Tidak ada kesempatan kedua setelah kematian untuk memperbaiki diri atau mengubah posisi.  Tidak ada kesempatan untuk mengadakan penyucian diri sehingga layak masuk sorga setelah kematian.  Sorga dan neraka adalah posisi final yang tak bisa diubah.  Orang yang sudah berada di sana tidak dapat mengusahakan apa-apa untuk mengubahnya, bahkan permohonanpun tidak berlaku di sana, sebagaimana permohonan orang kaya tidak ada artinya lagi.  Demikian juga bagi orang yang masih hidup tak dapat mengusahakan apa-apa untuk mengubah posisi mereka yang sudah pergi ke sana, kalaupun tetap dilakukan itu sia-sia saja.

  1. Ada pemisahan antara orang hidup dan orang mati.

Orang mati tidak melakukan peranan orang hidup.  Setelah permohonan si orang kaya ditolak, ia mengajukan permohonan kedua, agar Bapa Abraham mengutus Lazarus datang kembali ke dunia orang hidup, menemui keluarga si orang kaya agar mereka bertobat dan tidak mengalami hal yang sama seperti si orang kaya tersebut.  Tampak bahwa ia sudah sadar bahwa ia tak bisa apa-apa lagi, tak ada jalan keluar dari neraka, dan ia berharap Lazarus yang disorga bisa menemui keluarganya dan bersaksi agar mereka bertobat.  Keluarganya pasti mengenal Lazarus karena Lazarus ketika masih hidup di dunia tinggal sebagai pengemis di dekat rumah mereka dan mendapat makan dari tempat sampah mereka, ay. 21 “dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.” Kalimat ini bukan berarti Lazarus ada dalam rumah orang kaya itu, di bawah meja makan mereka setiap kali mereka makan.  Apa yang jatuh dari meja orang kaya itu adalah sisa-sisa makanan yang berlebihan dan terbuang.  Dan tentu saja ia baru bisa mendapatkannya ketika sisa-sisa itu sudah di buang pembuangan sampah di luar rumah.  Sekalipun demikian, keluarga orang kaya tetap mengenali Lazarus, yaitu sebagai pengemis di dekat rumah mereka yang meninggal pada waktu hampir bersamaan dengan orang kaya itu.  Perubahan kondisi Lazarus, dari pengemis miskin yang menderita di dunia menjadi orang yang berbahagia di surga serba berkecukupan adalah sesuatu yang sangat indah dan luar biasa.  Mungkin si orang kaya berharap bahwa pengalaman spektakuler Lazarus  dalam pertemuan kesaksian yang spektakuler pula, bisa membuat keluarganya bertobat.  Maka ia memohon agar Bapa Abraham mengutus Lazarus untuk mengunjungi keluarganya dan memberitakan apa yang bisa membuat Lazarus masuk Surga.

Apa yang bisa membuat Lazarus masuk surga? Ini tercakup dalam ay.31 yang berlaku kepada semua orang yang masuk dan akan masuk surga, yaitu percaya kesaksian Musa dan para Nabi.  Apa yang disaksikan Musa/Taurat Musa dan para Nabi?  Baik Musa maupun para Nabi menubuatkan dan menantikan satu janji yang sama, kedatangan Mesias, Juruselamat yang menebus dosa manusia. Mesias itu adalah Tuhan Yesus, Allah yang menebus dosa manusia.  Barangsiapa percaya kepada kesaksian Musa dan para Nabi, ia percaya kepada Yesus Kristus.

Si Kaya memohon agar Lazarus dapat memberikan kesaksian yang bisa membuatnya berhasil masuk sorga, namun permohonan ini pun gagal, karena selain memang tidak ada kesempatan memohon lagi, juga karena peran pemberitaan Injil keselamatan, seruan pertobatan bukanlah peran orang yang sudah mati, melainkan peran dari kitab Suci, Alkitab dan orang-orang yang masih hidup yang memberitakannya.  , ini juga menegaskan pada kita bahwa tidak ada trevelling (wisata) di antara dua dunia ini.  (wisata adalah perjalanan dan tinggal sementara lalu pulang kembali ke tempat asalnya).  Ada pemisah antara yang hidup dan yang mati, Alkitab mengatakannya.

Dari kedua point ini:

Bahwa Ada pemisahan antara Surga dan Neraka, dan Ada pemisahan antara orang hidup dan orang mati.  Tuhan memberitahu manusia bahwa :

Ayat ini menjadikan jelas bahwa  tidak ada jenis roh orang mati yang gentayangan di antara manusia yang hidup, seperti yang diyakini oleh  sebagian orang yang hidup di jaman ini. Yang ada hanyalah iblis yang menyamar menjadi orang yang pernah hidup di bumi dengan maksud tipu muslihat si iblis.

Terhadap beliau yang sudah pergi, jika beliau sudah percaya, kita tak perlu kuatir, karena Alkitab  mengajarkan jelas bahwa hidupnya lebih senang daripada kita yang hidup di dunia, tinggal damai dan bahagia bersama-sama dengan Allah.

Namun mengingat bahwa setiap keputusan selama hidup yang kita buat menghasilkan akibat yang tidak bisa diubah ketika seseorang sudah berada di sorga atau neraka, maka lewat renungan hari ini, saya mengingatkan bahwa kesempatan untuk bertobat dan beroleh keselamatan hanya ada selagi kita hidup di dunia ini.  Setelah kematian tidak ada kesempatan lagi.  Jika ada orang yang masih berpikir ada kesempatan bertobat setelah meninggal, ada kesempatan untuk menyucikan diri dan peluang untuk pindah dari neraka ke sorga, maka hanya penyesalan yang tiada akhir yang akan diterima.  Kesempatan hanya ada selagi kita hidup, pada masa ini keputusan kita untuk percaya kepada kesaksian Musa dan para Nabi tentang Kristus sang Juruselamat menjadi penentu penting ke mana kita akan pergi setelah akhir hidup kita, karena setiap manusia pasti mengalami kematian.  Posisi kita hanya seperti orang-orang yang mengantri, tinggal menunggu giliran kita untuk dipanggil pulang, bedanya dengan antrian adalah kita tidak bisa memprediksi kapan saat giliran kita tiba.  Untuk itu gunakan kesempatan hidup kita dengan tepat dan bijak untuk menerima tawaran keselamatan dari Tuhan. Percaya pada Yesus Kristus sebagai juruselamatmu, sebab Dialah yang dijanjikan Tuhan selama puluhan ribu tahun sejak dunia ada, untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa.

Kiranya Tuhan Menolong kita sekalian yang ditinggalkan untuk percaya dan berharap padaNya. Amin

Catatan: tulisan ini hanya merupakan isi penguraian Firman Tuhan, pengkhotbah harus menambahkan introduksinya sendiri yang berupa empati dan simpati bagi keluarga, serta menutup isi penjelasan dengan penghiburan dan penguatan bagi keluarga dan sanak yang berduka. Tuhan memberkati.

———————————

Anda bisa mendapatkan informasi setiap posting baru blog ini di email Anda dengan cara mengklik follow di halaman depan (home) blog.

SIAP UNTUK PULANG


Nats                 : Ayub 19-25-26 (one point sermon)

Penulis             : Heren

Sdr, pada suatu hari ada sekelompok pendaki gunung yang hendak menaklukkan puncak tertinggi gunung Himalaya.  Sekelompok pendaki in merencanakan pendakiannya sedemikian rupa dengan rapi, dan tiba saatnya mereka mulai mengadakan pendakian.  Jalannya begitu sulit dan terjal, namun mereka berhasil melewati semua tantangan.  Tiba di puncak gunung mereka mengibarkan bendera dengan bangga dan tertawa puas.  Setelah puas menikmati keberhasilan menaklukkan puncak gunung yang tinggi dan dingin, mereka pun turun. Tetapi satu pun dari sekelompok pendaki ini, pada akhirnya tidak ada yang berhasil pulang dengan selamat.  Mereka semua mati kedingingan dan kelaparan dalam perjalanan pulang, karena kehabisan persediaan makanan.  Sekelompok pendaki in memikirkan dan merancangkan keberangkatan mereka sedemikian rupa, namun LUPA mempersiapkan perjalanan pulang mereka, sehingga mereka tewas di tengah perjalanan pulang.

Sdr, saat ini ada banyak orang yang begitu menyibukkan diri dengan perjalanan dan petualangan mereka di dalam dunia, menikmati puncak-puncak kesusksesan mereka, namun lupa mempersiapkan kepulangan mereka pada TUHAN yang menciptakan mereka.  Banyak orang yang lupa bahwa tiba saatnya, setelah perjalanan hidup di dunia in telah mereka lintasi, mereka akan kembali pada TUHAN yang Empunya Jiwa/Hidup. Karena tidak berpikir bahwa setelah kehidupan akan ada kematian, maka banyak orang yang menjalankan hidupnya sembarangan dan tanpa pegangan yang pasti untuk kehidupan yang selanjutnya yang kekal.  Dan orang yang tidak bersiap-siap dan bahkan tidak mau memikirkan kematian ini, mereka juga adalah orang yang tidak tahu ke mana mereka pergi setelah kematian tiba, apa yang akan terjadi di ‘sana’ nanti? Dan yang muncul adalah sejuta keraguan .  Apa yang kita butuhkan?

# Keyakinan akan seorang penebus yang hidup – dari hubungan pribadi bukan sekedar dari kata orang

Bp/ibui/sdr yang dikasihi Tuhan, Ayub adalah orang bukan hanya memikirkan kesuksesan di dunia, tapi juga mempersiapkan diri untuk kepulangannya.  Ia sadar di balik kehidupan yang sekarang, ada kehidupan yang kekal.  Itu sebabnya Ayub sangat berhati-hati dengan hidupnya, termasuk hidup anak-anaknya.

Itu sebabnya di bagian awal kisah Ayub diceritakan Ayub senantiasa mempersembahkan korban bakaran pada Tuhan untuk pengampunan setiap kali anak-anaknya selesai mengadakan pesta :”kalau-kalau mereka tanpa sengaja menghujat Tuhan/menyakiti hati Tuhan”- Ayub begitu menjaga kehidupannya dan hubungannya dengan TUHAN. Ia benar-benar ingin hidup berkenan pada TUHAN.

Sdr, Ayb 19:25-26 yang baru kita baca merupakan secuplik kalimat Ayub yang menyatakan kerinduan dan KEYAKINAN IMAN, bahwa ia memiliki Penebus yang Hidup, yaitu TUHAN, dan Ayub akan bertemu dengan TUHAN Penebusnya.

diungkapkan pada titik terlemah hidupnya; namun masih percaya

titik terlemah: setelah dukacita berturut-turut

hartanya habis dirampok (lembu sapi dan keledai dirampas sementara gembala-gembalanya diserang orang Syeba; di tempat lain kambing domba dan penjaganya disambar api dari langit/petir; unta-untanya di tempat lain juga dirampas orang kasdim)

anak-anaknya (10 orang) mati sekaligus oleh angin ribut yang merobohkan rumah di mana mereka berada. Mereka mati ditimpa rumah.  Belum lama dukacita ini melanda…

Dan sekarang, tubuhnya makin lemah- dipenuhi borok, merongrong dagingnya, makin hari makin banyak, makin hari makin dalam menghabisi tubuhnya. Menunggu saat-saat akhir hidupnya sendiri.

Di saat-saat itu : Istrinya tidak memberikan dukungan dan penghiburan yang dibutuhkan, Belum lagi: sahabat-sahabatnya menuduhnya:”sakit karena melakukan suatu dosa” bukan menghibur. Elifas à Bildad à Zofar à Elifas à Bildad à dijawab dalam ps.19.

Kondisi in pada umumnya akan membuat orang putus asa..sangaaat.  Mempertanyakan TUHAN.

Ayub juga bergumul: di satu pihak: Ia merasa tangan Tuhan sedang menentangnya.  Ayub menjadi musuh bagi TUHAN.

Di pihak lain: sebagai pengakuan puncaknya: TUHAN itu adil.  Ia akan melihat TUHAN dengan tubuhnya.

Iman yang dimilikinya selama hidupnya tidak berubah oleh keadaan malang. TUHAN yang dipercayainya, Ia lah yang memberikan kekuatan bagi Ayub untuk melewati saat-saat tersulit dalam hidupnya- melalui dukacita terdalam yang sedang dialaminya, dan disamping itu semakin mempersiapkan jalan pulangnya pada Bapa. Sekalipun Ayub pada akhirnya dipulihkan dari sakitnya, namun Ayub sebagaimana manusia lainnya, tetap mengalami kematian pada akhirnya, dan ia siap untuk itu serta tahu kemana ia pergi-kerumah Bapa oleh imannya pada TUHAN yang hidup, TUHAN penebus bagi dosa-dosanya, TUHAN penebus yang belum dilihatnya- yang baru mewujudkan diri menjadi manusia berabad-abad sesudah kematiannya.  Ayub tidak melihat, namun percaya pada Penebus yang hidup dan bangkit dari antara orang mati.  Oleh imannya ia diselamatkan.

Sdr, manusia saat in pun tidak melihat penebus  yang hidup dengan mata kepalanya sendiri, Yesus sudah mati, bangkit, dan naik ke surga 20 abad yang lalu, tak ada seorang pun di jaman ini  yang melihat  Dia dengan mata kepala sendiri.  Namun sama seperti Ayub yang walaupun tidak melihat namun percaya, kita akan diselamatkan jika kita percaya.  Kita dikuatkan menempuh kehidupan in dan dipersiapkan untuk pulang kepada Dia juga…pasti.

Bapak                  sudah memilih apa yang paling tepat untuk pulang pada Bapa, Ia memilih percaya pada Yesus di masa hidupnya, dan di tengah-tengah penderitaan sakit penyakit yang dialami selama hari-hari hidupnya dia pun memilih tetap bersandar pada Yesus Sang Juruselamat.  Tentang dia, ia telah menyatakan imannya, bahwa ia percaya pada Yesus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan juruselamat. Untuk itu kita beroleh keyakinan ini bahwa  ia telah berada dalam pangkuan Bapa di surga.

Setelah dikubur nanti, tubuh akan hancur kembali menjadi debu tanah, namun Jiwanya tetap utuh-hidup terpelihara oleh imannya pada Yesus Kristus.  Sebagaimana keyakinan Ayub, “juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat TUHAN” demikianlah keyakinan kita bagi mereka yang meninggal dalam Tuhan.  Melihat TUHAN adalah keyakinan sekaligus kerinduan kita pada TUHAN yang menebus dosa kita.

Ilustrasi penutup

Fanny J. Crosby mengalami kebutaan sejak ia masih bayi.  Kebutaannya diakibatkan kesalahan dokter, namun Fanny Crosby tidak pernah mempersalahkan dokter yang telah mengakibatkan kebutaannya.  Bahkan dalam kebutaan itu ia bisa bersyukur dan berkata :”Memang aku tidak pernah melihat indahnya dunia, tapi apa yang akan aku lihat untuk pertama kali dalam hidupku adalah YANG PALING INDAH, diantara semuanya – karena hal yang pertama yang akan aku lihat adalah TUHAN, ketika aku tiba di surga.” Fanny J Crosby mempercayai Yesus yang menebus hidupnya, walaupun hidup dalam kegelapan tidak pernah mengalami takut, bahkan untuk sebuah kematian yang dianggap gelap bagi orang lain, baginya itu adalah pengharapan untuk membuat hidupnya lebih cerah, karena saat itulah saat pertama kali ia bisa dilepaskan dari kebutaannya, ia bisa melihat, dan orang pertama yang dlilihatnya adalah TUHAN, yang mulia.

Aplikasi:

Bagaimana dengan kita, adakah kita siap sama seperti Ayub dan Fanny Crosby?  Kiranya keyakinan yang sama: Yakin akan Yesus Kristus sebagai penebus yang hidup dalam hidup kita, itu yang juga kita pegang.  Yesus yang telah bangkit dari kematian, akan membangkitkan kita juga, Ia yang telah lebih dulu berada di surga, juga akan membawa kita bersamanya, asal kita menerima Dia sebagai penebus kita yang hidup.

Introduksi Khotbah & Renungan Di Tengah Dukacita


Khotbah di kedukaan adalah suatu pelayanan yang tidak pernah ada di daftar jadual khotbah bulanan atau tahunan gereja, namun yang pasti harus dilakukan karena datangnya selalu mendadak.  Tak ada yang dapat menduganya. Kita sebenarnya sadar bahwa saat duka cita adalah saat yang paling tepat untuk merenungkan hidup dan kebenarannya secara mendalam, namun Karena waktunya singkat, seringkali pengkhotbah sulit mempersiapkan khotbah yang cukup mendalam secara isi penggalian maupun teologisnya, untuk mendalam secara empati tentu sangat mungkin.  Karena itu dalam folder ini saya posting khotbah dan renungan yang pernah saya buat yang mungkin berguna dipakai para pengkhotbah di saat kedukaan.  Umumnya saya menulis khotbah ini bukan disaat mendapatkan jadual khotbah kematian, karena saya pribadi lebih banyak berkecimpung di dunia sekolah, namun renungan  ini dibuat ketika saya menghadapi berbagai kasus kematian orang-orang yang dikenal baik yang sudah menerima Kristus maupun yang tidak.  Kiranya bermanfaat. Tuhan memberkati.

 

Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. (Pengkhotbah 7:2)