Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus


APA YANG DIINGINKAN YESUS

Sdr, semua orang Kristen menganggap Natal itu penting, Kematian Yesus dan Paskah juga penting, tapi Kenaikan Tuhan Yesus, banyak yang tidak menganggapnya penting bahkan melupakannya.  Padahal Kenaikan Tuhan Yesus tidak kalah pentingnya dengan Natal, Jumat Agung, Paskah, ataupun Pentakosta.  Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga merupakan sebuah pembuktian Kemuliaan Kuasa Yesus Tuhan, bahwa Dia berbeda dari semua orang yang pernah bangkit dari kematian, karena semua orang yang pernah mengalami mujizat bangkit dari kematian akhirnya akan mati lagi sama seperti manusia lain, Namun Tuhan  Yesus, setelah kebangkitanNya dari kematian, Dia tidak pernah lagi mengalami kematian, Dia Naik ke sorga disaksikan murid-muridNya. Dan inilah berita yang akan kita dengan tentang kenaikanNya:

Act 1:6  Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”
Act 1:7  Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Act 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Act 1:9  Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
Act 1:10  Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
Act 1:11  dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naiksorga.”
Act 1:12  Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.
Act 1:13  Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.
Act 1:14  Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Ayat-ayat yang baru kita baca merupakan gambaran moment perpisahan antara Tuhan Yesus dan murid-muridNya sebelum Ia terangkat ke Sorga.  Ini merupakan perpisahan kedua, perpisahan pertama ketika Tuhan Yesus disalib dan mati, tapi itu berlangsung hanya dalam waktu 3 hari saja, karena setelah kebangkitanNya pada hari yang ketiga Tuhan Yesus berulang kali menemui murid-muridNya. Pada moment perpisahan kali ini, Tuhan Yesus akan pergi dalam jangka waktu jauh lebih panjang, yaitu bukan sampai 3 hari tapi sampai akhir jaman.  Biasanya orang yang tahu akan berpisah, akan memberikan pesan-pesannya yang selalu diingat, demikian juga  Tuhan Yesus perlu menyatakan pesan-pesan terakhir yang berupa keinginanNya untuk dilakukan oleh setiap muridNya, yaitu setiap orang yang percaya kepadaNya.

Dari Kisah 1:6-4 ini saya mengajak untuk melihat 3 keinginan Tuhan Yesus bagi murid-muridNya, termasuk kita para murid Kristus di masa kini:

Tuhan Yesus ingin murid-muridnya

1.    Memiliki Pola Pikir Kristus:

Act 1:6  Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”  – Kalimat pertanyaan murid-murid ini mencerminkan pola pikir para murid – yang sekalipun sudah 3 ½ tahun ikut Tuhan Yesus dan belajar dariNya, sudah menyaksikan Kematian dan KebangkitanNya, namun masih saja berpola pikir duniawi. Untuk itu Tuhan Yesus menjawab : “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Act 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Apa yang dipikirkan para murid, dan apa pula yang dipikirkan Tuhan Yesus?
Di sini kita melihat perbandingan pola pikir antara para Murid dan Tuhan Yesus:

A.    Saat itu murid-murid berpikir bahwa PELAKU PELAYANAN DI BUMI adalah Tuhan Yesus.  Setelah melewati masa-masa sedih, ragu dan ketakutan akibat penyaliban Yesus, Kebangkitan Tuhan Yesus memberikan sebuah perubahan besar.  Kebangkitan Kristus telah membangkitkan kembali keyakinan dan harapan murid-murid pada Tuhan Yesus, ada rasa penuh kemenangan di hati melihat musuh-musuhNya tidak punya kuasa atas Yesus, sudah dimatikan pun Dia tetap bangkit. Kemenangan Tuhan Yesus membuat murid-murid berpikir dan berharap Tuhan Yesus tetap terus bersama-sama mereka di bumi untuk bekerja melayani sebagaimana yang mereka harapkan; à tapi Tuhan Yesus menyatakan yang sebaliknya kepada para murid, APA  yang diinginkan, direncanakan, dan dimintaNya adalah bahwa justru para murid tersebut yang harus menjadi pelaku pelayan di bumi setelah Ia pergi pada Bapa. Tongkat estafet telah beralih, dari Tuhan Yesus kepada orang-orang yang menjadi muridNya, “kamu akan menjadi saksi-Ku” –kata Yesus, artinya bukan lagi Yesus yang MENGABARKAN INJIL, melainkan setiap murid yang mengabarkan Injil dengan cara menjadi saksi Kristus.  Menjadi saksi mencakup 2 hal:  dalam perkataan yang bercerita tentang keselamatan Kristus, maupun dalam tingkah laku yang mencerminkan Kekudusan dan kebenaran Kristus.
Sdr, Pola pikir bahwa Yesuslah PELAKU PELAYANAN DI BUMI  masih ada di kalangan orang Kristen masa kini, kita percaya pada Kematian dan KebangkitanNya, tapi kita tidak mau ambil bagian dalam tanggung jawab pelayanan, kesaksian dan pengabaran Injil.  Kita membiarkan orang-orang di sekitar kita, bahkan orang terdekat kita tanpa pernah kita menginjili mereka.  Kita pikir “biar Tuhan saja yang bekerja melayani orangtua saya, saudara saya, kerabat saya, tetangga saya – sampai mereka bisa percaya pada Kristus.”  Kita pikir “mudah-mudahan Tuhan menganugerahkan keselamatan kekal kepada mereka tanpa kita harus membuka mulut kita menyaksikan Kristus, tanpa kita harus menguras keringat untuk melayani mereka dengan berbagai resiko.” Seakan-akan semua tugas penginjilan dan penyelamatan ada di tangan Tuhan dan kita boleh berpangku tangan. Kita lupa, bahwa kita bisa mengenal Kristus karena ada orang yang merelakan dirinya menyampaikan kabar baik itu kepada kita. Jika Kita masih berpikir seperti ini, Tuhan ingin kita berubah dari pola pikir yang demikian.  Mari kita berpola pikir  seperti Kristus, bahwa sejak Kristus naik ke Sorga, pelaku pelayanan di bumi ini adalah manusia, yaitu kita semua murid-murid Kristus, bukan hanya para pendeta penginjil.  Ini merupakan tanggung jawab sekaligus persembahan hidup kita di hadapan Tuhan.

B.    Perbandingan pola pikir  ke-2: murid-murid berfokus pada pikiran tentang kerajaan yang sementara di bumi, kerajaan yang fana, karena itu mereka bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”  Sebenarnya bila diperhatikan konteks pembicaraan yang hari itu dan saat itu sedang terjadi, pertanyaan murid-murid ini melenceng dari topiknya alias “tidak nyambung” –  karena sebelumnya Tuhan Yesus sedang bicara tentang janjiNya untuk memberikan Roh Kudus, Kis 1:5, Sebab yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.  Topik pembicaraan Yesus yang sangat rohani ini langsung di sambut dengan pertanyaan “”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”, tetapi dari sini jelas terlihat bahwa murid-murid masih terobsesi pada pemulihan kerajaan dunia yang fana.  Beban  dan pergumulan hidup mereka yang berat akibat tekanan bangsa lain (romawi) di negaranya menyebabkan mereka terfokus pada pokok persoalan duniawi mereka.  Sama halnya ketika kita bicara dengan seseorang yang sepertinya tidak nyambung-nyambung, kita bicara A, dia bicara Z,  kita ajak ngobrol topik B,C,D tetap saja dia bolak-balik terus bicara soal masalah Z, karena masalah itu sangat mengikat dirinya, hingga dia terus berputar-putar dengan masalah itu dalam pikiran dan pembicaraannya.  Hal yang persis terjadi pada diri murid, Pola pikir mereka begitu terkungkung oleh pergumulan hidup yang sedang mereka hadapi, hingga mereka yang mereka dambakan adalah pemulihan kerajaan bagi umat Israel, seperti pada masa jaya Daud dan Salomo dahulu, yang bebas dari kuasa bangsa asing  yang menekan mereka. Padahal yang menjadi pokok pengajaran Kristus adalah “kehadiran Kerajaan Tuhan” – (Kis. 1:3). Yaitu kerajaan Tuhan didalamnya manusia dapat dibebaskan dari kuasa dosa. KERAJAAN yang kekal-tidak fana.  Pola pikir yang berfokus pada kerajaan duniawi yang sementara juga merajalela di lingkungan orang-orang Kristen saat ini.  Bukankah lebih mudah bagi kita jika diajak memikirkan masalah duniawi daripada rohani, kita lebih senang jika topik obrolan adalah persoalan dunia daripada rohani.  Para orang tua akan sangat rela mengeluarkan ratusan juta untuk anak-anaknya mengambil kuliah ekonomi, komputer,dll untuk membangun kerajaan bisnisnya, dll daripada mendanai puluhan atau lebih rendah dari itu, belasan juta bagi anaknya untuk sekolah Teologia demi membangun kerajaan Sorga.  Kita lebih sukacita menginvestasikan waktu kita nonton sinetron atau lawakan di TV untuk menghilangkan stress daripada menginvestasi waktu belajar Alkitab/PA atau ikut seminar cara penginjilan.  Kita terus berputar-putar pada persoalan duniawi hidup kita.

Terhadap pola pikir seperti ini Tuhan Yesus menjawab: “”Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Act 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”  Dengan kata lain Tuhan Yesus hendak berkata: “berfokuslah pada ketetapan bapa”
Tuhan Yesus tidak menjawab kapan karena  Ia tidak boleh memberitahu kapan KerajaanNya yang sempurna datang, yaitu yang dimulai dengan kedatangan Kristus yang kedua, karena menurut ketetapan Bapa, hari itu akan datang dengan tiba-tiba tanpa seorang manusia pun yang tahu.  lagi pula KerajaanNya bukan kerajaan duniawi seperti yang dipikirkan para murid.- Karena itu Tuhan Yesus membawa para murid untuk lebih berfokus pada kehendak Bapa, bukan berputar pada obsesi pribadi yang keluar dari pergumulan hidupnya.  Hal ini bukan karena Tuhan Yesus menyuruh murid-muridnya menyangkali realita bahwa dalam hidup mereka sebagai manusia ada masalah dan pergumulan, tapi Tuhan Yesus mengajarkan, jangan terjebak pada masalah hidup atau menyimpang dari fokus kita pada Tuhan oleh karena adanya masalah hidup.  Fokusnya adalah kehendak Bapa, yaitu kerajaan Tuhan (yang tidak disebutkan kata-kata Kerajaan Allah di pesan ini),  Mengapa Tuhan Yesus tidak menyebut kerajaan Tuhan saat itu juga?

Sebenarnya persoalan kerajaan Tuhan/ yaitu kerajaan Sorga sudah diajarkan pada murid-murid selama Yesus 3 1/2 tahun bersama mereka, tapi sampai saat itu murid-murid masih tidak paham/salah memahami, di hari kenaikanNya Tuhan Yesus tidak menjelaskan /mengklarifikasi panjang lebar tentang jenis kerajaanNya, karena Tuhan sudah menetapkan kelak ketika Roh Kudus turun atas mereka, maka saat itu juga pikiran dan pengertian mereka akan langsung terbuka tentang pengajaran Yesus selama ini.   Manakala kerajaan Tuhan tersebut hadir maka kehidupan setiap orang di atas muka bumi ini ditandai oleh pertobatan dan pengampunan dosa. Sebab kerajaan Tuhan merupakan wujud dari pemerintahan Tuhan yang menguasai hati dan pikiran manusia, sehingga mereka hidup dalam takut kepadaNya. Dengan demikian, ketika Kristus berbicara mengenai Kerajaan Tuhan pada hakikatnya bukan sekedar suatu janji tentang kehidupan sesudah kematian, tetapi kehidupan umat manusia saat ini. Apakah saat ini kita selaku gerejaNya telah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Tuhan di dalam kehidupan riel? Jadi iman Kristen dalam terang kebangkitan Kristus, justru mendorong setiap orang percaya untuk menyadari realita masa kini dan memaknai secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Tuhan dalam kehidupan masa kini

C.    Perbandingan pola pikir ke-3: murid-murid berpikir jangkauan / objek pelayanan adalah terbatas kepada suku bangsa mereka saja, yaitu Israel, sementara dalam kerangka pola pikir Kristus pelayanan mencakup dan menjangkau seluruh umat manusia di bumi. Murid-murid sangat terobsesi kerajaan Israel dipulihkan, karena masih berpikir bahwa inilah satu-satunya bangsa yang mereka cintai, selain itu, jika kerajaan itu dipulihkan dan Kristus menjadi rajanya, maka mereka sebagai murid-muridNya pastilah menjadi menteri-menteri atau orang-orang penting yang bekerja dan melayani di kerajaan yang dipulihkan itu. Sungguh menaikkan posisi dan derajat mereka.  Tetapi Tuhan Yesus membenahi pola pikir mereka –  “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”  –jadi bukan hanya satu bangsa saja yang akan dilayani, melain semua bangsa.  Bangsa Israel, sejak jaman Abraham hingga Kristus datang ke dunia sudah hidup eksklusif: mereka adalah bangsa pilihan, bangsa yang kudus, yang berbeda dari bangsa lain, mereka tidak boleh mencemarkan diri dengan cara berbaur dengan bangsa lain baik dalam pernikahan maupun dalam pergaulan masyarakat, tidak heran jika murid-muridpun masih berpikir dalam pola pikir kesukuan seperti itu.  Menghadapi pola pikir yang sudah mendarah daging ini, Tuhan Yesus menuntut sebuah perubahan: keselamatan bukan lagi untuk satu bangsa, sudah saatnya keselamatan itu sampai ke semua bangsa – di seluruh muka bumi ini. Untuk berita ke seluruh bangsa di seluruh bumi itulah Tuhan Yesus memanggil dan mempersiapkan para murid.  Sdr, kita perhatikan di sini, bahwa mula-mula bahkan sampai saat kenaikan Tuhan Yesus pun, murid-murid masih berpola pikir sempit: kesukuan, jangankan berminat mendekati dan menjangkau suku bangsa lain, berpikirpun tidak, tetapi di kemudian hari, mereka semua mentaati panggilannya, mereka menyebar masuk ke berbagai bangsa, tanpa prestige/derajat tanpa posisi penting, dengan pola pikir Kristus mereka melayani semua bangsa.
Pola pikir para murid sebelum diubahkan masi sering tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Pola kehidupan bergereja kita sering masih begitu kental dengan “kemuliaan diri, keluarga, etnis/suku dan kelompok” kita masing-masing, persis seperti para murid yang ingin memperkuat posisi mereka jika kerajaan itu dipulihkan.   Itu sebabnya latar-belakang dan motivasi mengikut Kristus masih ditandai oleh upaya untuk menguatkan posisi/kedudukan diri kita di tengah-tengah masyarakat.Di beberapa gereja, pelayanan sebagai pengurus/diaken/penatua lebih merupakan sebuah jabatan daripada pelayanan yang rendah hati, bahkan ada gereja yang majelisnya diwajibkan pakai jas dan duduk di kursi khusus 2 baris di depan, duduk di kursi-kursi kehormatan,setiap minggu tanpa pernah kenal jemaat karena menyambut tamu, karena fokus pada kursi kebesarannya, dan hanya mau menginjili orang-orang tertentu. Pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang memiliki obsesi duniawi seperti itu adalah bagaimana dengan kuasa kebangkitan Kristus dan Roh Kudus mereka dapat memperoleh posisi/kedudukan di tengah-tengah kelompoknya? Sdr, Setiap kita sangat rentan/mudah untuk terjebak/terpeleset pada pola pikir seperti ini. Padahal yang diutamakan oleh Kristus yang bangkit dan janji menerima Roh Kudus adalah bagaimana peran kita sebagai umat percaya untuk menjadi saksiNya yang memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa bagi setiap orang.  Janji Kristus yang bangkit itu pada prinsipnya  bukan untuk menguatkan “prestige” diri, keluarga, etnis dan bangsa. Tetapi janji Tuhan untuk memperlengkapi kita dengan kuasaNya untuk menjadi saksi yang mampu mengubah atau mentransformasi dengan kuasa kasihNya semua orang jenis apapun yang Tuhan kirim pada kita, atau yang kepada mereka Tuhan telah mengutus kita.

2. yang diinginkan Tuhan Yesus, kita
Percaya pada JanjiNya dan hidup untuk JanjiNya, Yaitu Janji untuk Datang Kembali ke-2 kalinya:  Ini Keinginan Kristus bagi murid-muridNya, sekalipun tidak Ia katakan sendiri saat itu juga, namun Kristus telah berulang-ulang mengatakannya selagi Ia masih berada bersama-sama para murid.  Dan kali ini, lewat perantaraan Malaikat, janji Tuhan diingatkan lagi, Ia akan datang kembali.  Terangkatnya Tuhan Yesus merupakan sesuatu yang luar biasa, Kemuliaan Yesus yang selama hidupnya sebagai manusia selalu terselubung, tidak diperlihatkan, saat itu benar-benar dibukakan, Ia naik dengan Agungnya ke Sorga.  .” Para murid terkesima dengan peristiwa Tuhan Yesus yang terangkat ke sorga. Mereka terus menatap ke langit. Jadi walaupun Tuhan Yesus telah lenyap dari pandangan mereka, mereka terus melihat ke atas. Karena mereka terus menatap ke atas, maka mereka melupakan tugas yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus untuk kembali ke Yerusalem. Tuhan Yesus berkata: “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan BapaKu. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24:49).  Sikap para murid ini seringkali menjadi ciri dari beberapa orang-orang Kristen yang sering terus-menerus menatap kepada kemulian sorga, tetapi mereka melupakan tugas dan tanggungjawab yang riel mereka sebagai murid Kristus di masa kini untuk menjadi saksi di tengah lingkungannya. Karena itu mereka sering tidak tangguh dan tabah menghadapi kesulitan hidup ini. Mereka kemudian melarikan diri ke dunia mereka yang penuh imajinasi tentang keselamatan di sorga nanti.
Di tengah-tengah kesulitan kehidupan yang kini makin bertambah berat dan kompleks, kita dapat melihat bahwa ibadah atau kebaktian di berbagai gereja makin dihadiri banyak orang. Kita bersyukur manakala mereka digerakkan oleh kerinduan dan sikap kasih yang antusias kepada Tuhan. Tetapi jujur masih banyak di antara kita banyak yang menjadikan ibadah sebagai tempat pelarian dalam dunia imaginer rohani.  Di dalam kebaktian kita seperti merasakan hadirat Tuhan, tetapi di rumah, di lingkungan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain karena kita menghindari tanggung jawab kita dan hidup kita dengan sembrono dan sama sekali tidak memberikan Kesaksian tentang Kristus, bahkan mungkin orang menjadi kecewa pada Kristus karena melihat tingkah laku kita.  Kita melayani di gereja, tetapi di rumah kita selalu bertengkar karena tidak pernah kita berfungsi sebagaimana mestinya dalam keluarga, yang semestinya berfungsi sebagai pengatur rumah tangga-bersikap acuh dan mengurus diri sendiri, yang semestinya berfungsi sebagai pelindung keluarga, hanya melindungi diri sendiri bahkan menjadi ancaman bagi anggota keluarganya, yang semestinya turut bersama-sama menopang ekonomi keluarga malah “memoroti” kas keluarga, yang semestinya menjadi kebanggaan keluarga, malah mempermalukan karena hidup serampangan.  Semuanya berakar dari sikap yang tidak hidup untuk Janji Tuhan.  Karena jika seseorang hidup untuk Janji KedatanganNya, maka ia akan berhati-hati, jangan sampai karena kehidupannya yang egois, serampangan, dan tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai saksi Kristus, maka di hari yang dinantikan itu, justru menerima perkataaan pahit dari Tuhan “Aku tidak berkenan padaMu-enyahlah kamu hai hamba yang tidak setia” – dan berujung pada “kebinasaan.”

maka melalui kebaktian kenaikan Tuhan ini kita dipanggil untuk teguh berjuang ke dalam kehidupan riel di masa kini. Orang-orang yang percaya Kristus semestinya tidak boleh menjadi orang-orang yang mudah menyerah, tidak ulet dan akhirnya gagal dalam perjuangan hidup sehari-hari.
Kembali ke peristiwa para murid yang bengong, Tuhan tidak membiarkan murid-muridNya untuk berlama-lama terbuai melihat kemuliaan:
Act 1:10  Act 1:11  dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naiksorga.”
Tegoran Malaikat Tuhan mengingatkan murid-murid pada JanjiNya: Bahwa Anak Manusia akan datang dalam Awan dan Kemuliaan-Nya”  Hidup pengikut Kristus adalah hidup oleh janji-janji Tuhan.  Tidak ada janji Nya yang tidak ditepati, Ia berjanji untuk datang ke dunia, dan sungguh Yesus lahir, Ia berjanji untuk mati mengganti hukuman dosa manusia dan bangkit pada hari ketiga, itupun terjadi. Ia berjanji memberikan Roh Kudus, itupun terjadi (yang peringatannya akan kita lakukan 10 hari dari sekarang), dan yang terakhir, yang tersisa, Ia berjanji akan datang ke-2 kali dalam kemuliaanNya, untuk menghakimi dunia dan mengangkat kita yang percaya padaNya, dan ini pun pasti terjadi.  Jika selama ini, Yesus yang kita kenal adalah seorang anak tukang kayu, yang nampaknya lemah, sering dihina, bisa dipukul, bisa diludahi, karena ia datang dengan mengosongkan dirinya, melepaskan haknya untuk menampilkan Kuasa dan KemuliaanNya,  maka Pada hari itu, Yesus yang kita jumpai, adalah Yesus yang penuh Kuasa, penuh Kemuliaan, Agung, sama sekali tidak ada kehinaan seperti yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya ketika di dunia, dan saat itu, semua mata di seluruh bumi, dapat melihat Dia, dan tidak ada lagi yang dapat menyangkal bahwa “Sungguh Kristus adalah Tuhan.” – saat itu Kristus akan mengangkat semua orang yang percaya dan  hidup untuk JanjiNya.

Percaya dan hidup untuk Janjinya, berarti mengisi kehidupan untuk melakukan persis seperti FirmanNya, mengisi hidup untuk melayani, menjadi saksi bagi Kristus dalam realita kehidupan kita masing-masing.  Sama seperti yang dilakukan para murid setelah teguran dua orang malaikat, tegoran yang  menyadarkan para murid untuk kembali ke dunia realita agar mereka diperlengkapi oleh kuasa Roh Kudus. Para murid kemudian kembali ke Yerusalem dan melakukan persis yang dipesankan Tuhan Yesus.  Mereka tidak lagi bengong seperti ketika melihat Tuhan Y esus naik ke sorga, atau bingung hingga kembali kepekerjaan lama seperti setelah kematian Tuhan Yesus, tapi mereka bersiap-siap,  para murid berkumpul sehati-sepikir dalam doa (Kis. 1:14). Mereka berdoa bersama-sama dengan membuka ruang hati mereka untuk dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus. Ini berarti para murid akhirnya telah berhasil meninggalkan obsesi mereka untuk pemulihan kerajaan Israel dan idealism diri yang dibangun dalam dunia imaginer mereka. Ketika kita berhasil melepaskan semua obsesi terhadap berbagai keinginan dan idealisme diri, maka sesungguhnya kita telah membuka ruang yang semakin lebar bagi pekerjaan Roh Kudus.

Kegagalan kita untuk menjadi saksi Kristus karena ruang (space)  yang kita sediakan bagi Tuhan dan karyaNya terlalu sempit. Selama “inner space” (ruang hati) kita sangat sarat dengan berbagai keinginan dan cita-cita dunia, maka kita akan menghalangi/menutup semua pintu dan akses bagi pekerjaan Tuhan dalam kehidupan kita.  Namun sebaliknya ketika kita mampu melepaskan diri berbagai obsesi yang duniawi, bersedia untuk hidup yang dilandasi oleh penyangkalan diri dan kerelaan untuk dipakai oleh Tuhan; maka kita dimampukan untuk menjadi saksiNya yang hidup.  Bahkan yang melegakan kita dipakai dan dilengkapi oleh Tuhan karena kuasaNya, yaitu Roh Kudus. Dengan kuasa Roh Kudus tersebut kita dimampukan untuk menjadi berkat bagi sesama di sekitar kita. Berkat keselamatan Tuhan tersebut  kita nyatakan kepada sesama dan orang-orang di sekitar kita dengan cara mengkomunikasikan kasih Tuhan dan pengampunan di dalam nama Kristus. Ketika orang-orang di sekitar kita mulai dari yang terdekat sampai yang terjauh bersedia hidup dalam pertobatan dan pengampunan, maka pada saat itu terwujudlah Apa yang Tuhan Yesus Mau. Karena tujuan utama dari kenaikan Tuhan Yesus ke surga adalah memampukan para murid untuk menerima kuasa Roh Kudus sehingga mereka mampu mewujudkan kehadiran Kerajaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.  Jika demikian, bagaimanakah dengan kehidupan saudara? Apakah kita sekarang bersedia untuk menjadi saksi Kristus yang terus-menerus mengkomunikasikan kasihNya kepada para anggota keluarga, sesama yang kita jumpai dalam pekerjaan, para anggota jemaat, orang-orang yang tinggal bersama dalam lingkungan tempat tinggal kita? Tuhan pasti akan melengkapi kita dengan kuasaNya, yaitu Roh Kudus. Amin.

* pernah dikhotbahkan di Kebaktian Umum GKIM Tasikmalaya tahun 2008.
penulis: Ev. Heren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s